021-7401928 fah@uinjkt.ac.id

 

Rabu, 25 September 2019 – Himpunan Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta menggelar kegiatan ‘Seminar Budaya: Kelar-Kelir Sejarah dan Kebudayaan Betawi’. Bekerjasama dengan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), acara berlangsung di Ruang Teater Prof Dr. Bustami Abdul Gani Gd. FAH lt.5 UIN Jakarta pada tanggal 25 September 2019.

Nurhasib, Wakil Ketua HMJ SPI memberikan sambutan

Acara seminar kebudayaan Betawi tersebut dipandang oleh HMJ SPI sebagai implikasi dari Perda tentang pelestarian kebudayaan Betawi, yaitu Perda Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi dan Pergub Nomor 229 Tahun 2016. Acara ini menyasar kepada mahasiswa, khususnya para mahasiswa baru yang terhitung Generasi Z. Kedepannya, acara ini diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai kebudayaan, khususnya kebudayaan Betawi agar selalu diingat dan dilestarikan oleh Generasi Z, maupun Milenial.

HMJ SPI memandang, bahwa mahasiswa sudah banyak melupakan tugasnya sebagai pemelihara keilmuan dan kebudayaan. HMJ SPI, melalui Departemen Penelitian dan Pengembangan (Litbang) menggandeng Lembaga Kebudayaan Betawi sebagai organisasi masyarakat yang intens membahas isu kebudayaan, khususnya Betawi.

Para narasumber seminar

Acara menghadirkan tiga narasumber; Yahya Andi Saputra (Lembaga Kebudayaan Betawi), Anwar Albatawi (Asosiasi Silat Tradisi Betawi Indonesia), dan Dr. Saidun Derani, M.Ag. (Dosen Sejarah Peradaban Islam) serta di moderatori oleh Akhmad Yusuf, S.Hum (Pegiat Sejarah). Selain itu acara tersebut juga dihadiri langsung oleh Ketua Umum LKB, yakni H. Beki Mardani. 

Dalam sambutannya, sosok yang akrab disapa Bang Beki ini menuturkan “Kegiatan LKB Nyaba Kampus tahun ini punya agenda mengunjungi 10 kampus se-Jakarta, UIN merupakan yang ketiga. Harapan saya dengan sosialisasi kepada para mahasiswa/ generasi muda ini, nantinya akan menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Betawi.“ Ucapan senada pun diamini oleh Dr. Awalia Rahma selaku Ketua Prodi Sejarah dan Peradaban Islam, ia berharap para mahasiswa bisa terus mengeksplor pengetahuannya tentang kebudayaan, baik itu dalam karya ilmiah, tugas kuliah ataupun skripsi tidak melulu membahas soal pesantren, biografi tokoh, tapi juga yang lebih mendalam terutama tentang sejarah dan budaya.

Kaprodi SPI, Dr. Awalia Rahma, MA ketika membuka acara

“Acara ini diharapkan dapat menyadarkan mahasiswa bahwa kebudayaan Betawi, menyatukan berbagai kultur yang ada, dan sadar akan pesan moril dari budaya ini” ucap Nurhasib, Wakil Ketua HMJ SPI 2019, Rabu (25/09/19).

Di akhir acara, tentunya para pemateri menyampaikan bahwa mahasiswa haruslah obyektif, dan sadar akan perannya. “Intinya, mahasiswa sebagai akademisi yang diakui secara de facto dan de jure” ucap Ridho, panitia dari Lembaga Kebudayaan Betawi.

 

Penulis: Nasrulloh Alif Suherman

Editor: AY