FAH NEWS – Jumat, 13 Mei 2022, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan Wahid Foundation melaksanakan agenda Penyerahan Beasiswa Gus Dur untuk Penulisan Skripsi Tahun 2022 untuk para mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam sambutannya di ruang Sidang Utama Lt. 2, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Saiful Umam, Ph.D mengatakan bahwa program beasiswa Gus Dur tahun 2022 ini merupakan program kedua. “Kali ini, program beasiswa Gus Dur ini adalah tahun yang kedua. Kita memulainya pada tahun 2021, tahun lalu,” ungkapnya dalam sambutan (Jumat, 13/05/2022). Tujuan dari diselenggarakannya program beasiswa Gus Dur tak lain adalah untuk membantu para mahasiswa dalam melakukan penelitian skripsinya. “Kami melihat bahwa menyusun skripsi, melakukan penelitian, mencari bahan, bahkan melakukan wawancara, bagi seseorang itu juga perlu biaya dan saya pikir ini menjadi penting untuk dipikirkan supaya research yang dilakukan oleh mahasiswa bisa maksimal karena didukung oleh dana research,” Saiful Umam menjelaskan.

Masih dalam sambutannya, Dekan FAH mengungkapkan alasannya mengusulkan sosok KH. Abdurrahman Wahid. Menurutnya Presiden RI ke-empat itu adalah sosok yang sangat fenomenal sebagai tokoh agama dan negara. Aktivitas serta pemikirannya yang luar biasa dijadikan alasan untuk mendorong mahasiswa untuk mengkaji lebih dalam terkait sosok Gus Dur dari berbagai aspek lainnya yang belum dikaji.

Proses pendaftaran yang dimulai sejak awal tahun 2022 tersebut berhasil menyaring 5 orang mahasiswa yang berhak memperoleh beasiswa Gus Dur untuk penulisan skripsi di tahun 2022. Kelima mahasiswa yang telah ditetapkan pada 29 April 2022 tersebut bernama Ahmad Sya’ban Firdaus, Auramanur Ja’far Sidiq, Hayatun Nufus, Nur Adinda Salsabila dan Rizki Ulfa Hadi. Kelima mahasiswa tersebut berasal dari prodi dan fakultas yang berbeda namun seluruhnya merupakan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. “Ini memang, sementara ini hanya diperuntukkan untuk mahasiswa UIN Jakarta. Tapi tak menutup ke depan ada pengembangan lebih luas,” kata Dekan.

Tentunya ia berharap bahwa beasiswa Gus Dur dapat menyasar lebih banyak mahasiswa/i lainnya dan berasal dari perguruan tinggi yang lebih beragam. “Kesepakatan yang kami raih pada saat itu dengan Wahid Foundation baru untuk mahasiswa mahasiswi UIN Jakarta, jadi masih terbatas itu. Mudah-mudahan kalau nanti tahun depan ada lagi, mudah-mudahan masih ada, kita bisa mengikutkan calon dari perguruan tinggi lain sehingga kemudian bisa menjadi lebih kompetitif,” ujarnya.

Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation dalam sambutannya memaparkan kekeliruan masyarakat terhadap generasi millennial yang dianggap berpikiran pendek, mudah tersulut emosi, labil dan seterusnya. Kekeliruan tersebut karena masyarakat menganggap semua generasi millennial memiliki karakter yang sama. Ia mengatakan, rasa keingintahuan generasi millennial yang tinggi merupakan bagian dari sikap kritis yang mereka tunjukkan kepada publik. “Rasa penasaran yang tinggi itu memang di satu sisi bisa membuat terkesan mereka menyindir, tapi sebetulnya ini adalah sikap kritis. Sikap kritis untuk menanyakan apa yang ada, tidak diterima dengan bulat-bulat saja, karena mereka menginginkan penjelasan yang masuk akal, yang masuk dalam nalar mereka terhadap suatu hal yang mereka temui, terutama fenomena sosial atau kejadian yang terjadi di masyarakat,” Yenny memaparkan.

Gus Dur, sosok yang dinilai nyeleneh dan penuh kontroversi sejak remaja merupakan sosok yang memiliki kenakalan kreatif dan kritis. Kenakalan itulah yang melatar belakangi pemikiran dan gerakan Gus Dur sejak muda. Yenny mengatakan, sikap Gus Dur yang nyeleneh berangkat dari minat spektrum begitu luas, mulai dari Islam klasik, dari sisi teologi, histori dan sebagainya, hingga khazanah barat kontemporer, dari budaya Arab sampai kultur Eropa, dari seni hingga ekonomi, dari musik klasik, politik hingga hal-hal supranatural, dari sastra sampai sepak bola.

Putri kedua Gus Dur ini berharap, kenakalan kreatif dan kritis Gus Dur yang Out of the Box mampu menjadi bingkai bagi para millennial. “Kita berharap bahwa kenakalan-kenakalan kreatif Gus Dur itu bisa menjadi bingkai bagi generasi millennial dan generasi Z agar bisa dijadikan frameworks dalam menyikapi problem-problem yang ada di masyarakat pada saat ini,” ia menyampaikan.

Ia berharap beasiswa yang diberikan oleh Wahid Foundation dapat melahirkan mahasiswa yang mampu memberikan solusi di tengah masyarakat. “Kita berharap bahwa ini bisa memfasilitasi anak muda sekarang untuk bisa mengungkapkan pemikirannya, karyanya dan pikiran-pikirannya. Bisa memfasilitasi agar mahasiswa bisa seperti Gus Dur, lebih multidimensional, melihat masalah juga lebih komprehensif. Jadi kenakalannya bukan sekedar nakal tapi memang kenakalan kreatif yang tujuannya adalah melakukan dekonstruksi di tengah-tengah masyarakat agar menciptakan solusi baru, cara pandang baru yang mendobrak kejumudan,” pungkasnya.

Dalam forum tersebut, Desi Anggraini, alumni prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan berkesempatan menyampaikan testimoni dan kesannya selama melakukan penelitian, sedangkan para penerima beasiswa menyampaikan cerita bagaimana proses yang mereka lalui hingga berhasil lolos menjadi penerima beasiswa untuk skripsi dari Wahid Foundation.

Kegiatan yang dilangsungkan secara hybrid sejak pukul 13:30 WIB ini dihadiri oleh jajaran civitas akademika dan para dosen FAH UIN Jakarta, para mahasiswa peraih beasiswa Gus Dur, serta para pengurus Wahid Foundation melalui aplikasi Zoom Meeting. Namun sayang, Prof. Greg Barton, Ph.D yang direncanakan memberi ceramah singkat tentang Gus Dur pada acara tersebut tidak dapat bergabung dikarenakan kendala teknis.

Kontributor: Rizka Sentia

Editor: AY