Saiful Umam

Ciputat, – Kamis, 11 Februari 2021, Prodi Sejarah dan Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta baru saja melangsungkan acara Diskusi Buku : “Racial Difference and Colonial Wars in 19th Century of Southeast Asia” karya Sejarawan terkemuka Peter Carey dan Farish A. Noor secara daring melalui aplikasi zoom cloud meeting. Acara ini menghadirkan tiga narasumber utama, selain kedua tokoh sejarawan tersebut turut pula mengundang Jajat Burhanudin, Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam UIN Jakarta. Selain itu webinar ini juga dimoderatori oleh Imas Emalia (Dosen Sejarah dan Peradaban Islam) FAH UIN Jakarta. Baik Peter maupun Farish merupakan penulis dan editor dari karya yang baru saja diluncurkan di tahun 2021 ini. Sedangkan Jajat mengulas buku dari sudut pandang keilmuan sejarah dan kaitannya dengan Islam. Saiful Umam selaku Dekan FAH menyambut baik kegiatan ini merupakan diskusi sembari berharap agar mahasiswa FAH khususnya dan masyarakat umum dapat mengambil manfaat dan menambah pengetahuan dari acara ini. Buku ini merupakan salah satu buku penting yang membahas tentang Asia Tenggara, “Saya mengucapkan terima kasih kepada para narasumber yang mau meluangkan waktunya, buku ini fresh dan ingin menunjukkan betapa pentingnya ide soal ras yang di highlight kekuatan kolonial untuk membangun identitas antara the colonizer dan the others kira-kira begitu. Buku adalah kajian dari beberapa orang yang membahas, Filipina, selain Jawa, Kalimantan Utara yang sekarang menjadi bagian dari Malaysia, lalu kemudian Siam, Ayuthaya dan sebagainya, memberikan kita konsepsi baru bahwa yang disebut dengan ras itu sebetulnya sudah ada sejak lama tetapi menjadi penting pada abad ke-19 sebagaimana yang dicatat oleh penulis, dan ini argumen ini tentu saja menjadi penguat kajian-kajian pos kolonial.” ucapnya.

Secara umum meski kolonialisme sudah tidak ada lagi pada masa sekarang di Asia Tenggara, namun dampaknya masih dapat dirasakan hingga kini. Secara kontekstual, di mana saat ini dalam kondisi pandemi Covid-19, misalnya, dalam kepemilikan vaksin terjadi ketimpangan antara negara-negara kaya yang bisa membeli vaksin dengan jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan kebutuhan, dan negara-negara yang bahkan tidak dapat membeli vaksin. Kondisi ini tidak lepas dari kondisi pada masa lalu di mana negara-negara kaya itu mendapatkan surplus keuntungan yang besar yang diambil dari negara-negara jajahan. Sehingga secara ekonomis mereka lebih kuat dalam menghadapi pandemi ketimbang negara-negara bekas koloni mereka, seperti di Afrika atau Asia yang tidak memiliki cukup kekayaan.

Mekanisme kolonialisme itu masih nampak dan dapat dirasakan. Di Asia Tenggara, sejarah kolonialisme pada abad ke-19 menjadi penting untuk dipelajari sebab memiliki pengaruh yang masih dapat dirasakan hingga pada zaman sekarang. Lanskap dan kondisi politik, ekonomi, sosial, hingga budaya di Asia Tenggara pada masa sekarang tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di abad ke-19. Dalam aspek geografis misalnya, peta perbatasan negara yang ada saat ini di Asia Tenggara telah ditentukan sejak abad ke-19 oleh para negara penjajah Eropa seperti Belanda, Inggris, Perancis, dsb. Begitupun dalam soal sosial-budaya yang hari ini ada selalu merujuk kepada kondisi di abad ke-19. Sebab abad ke-19 merupakan puncak dari kolonialisme Eropa yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan masyarakat Asia Tenggara.

Buku Racial Difference and Colonial Wars in 19th Century of Southeast Asia mencoba mengungkap salah satu aspek dari proses kolonialisme di Asia Tenggara dengan melihatnya dari dimensi ras. Perbedaan ras di abad ke-19 ini menjadi satu faktor penting, termasuk konflik yang terjadi antara penjajah dengan masyarakat dijajah. Tentu saja hal ini berbeda dengan konflik-konflik yang terjadi antar negara di Eropa pada abad ke-17, 18, dan seterusnya, dimana konflik tersebut lebih menekankan terhadap persaingan politik, namun masih menganggap diri sebagai satu ras yang sama. Konsep mengenai ras ini didukung oleh teori-teori Pseudosains dalam biologi maupun psikologi yang menimbulkan stereotip negatif terhadap masyarakat Nusantara aslinya, seperti anggapan bahwa orang Asia; pemalas, ganas dll, suatu anggapan yang pada masa sekarang sebenarnya tak lagi bisa diterima.

Farish A. Noor

Menurut Farish, Perbedaan ras inilah yang dijadikan justifikasi oleh negara Eropa untuk menyerang dan menguasai wilayah Asia Tenggara. Stereotip dan justifikasi yang diberikan ketika itu antara lain menganggap bahwa orang Asia Tenggara sebagai manusia yang terbelakang, primitif, dan ganas, sehingga negara-negara Eropa memerlukan taktik dan teknologi militer yang canggih untuk memeranginya. “Pada masa ini pula muncul tulisan dari John Crawfurd yang menyatakan adanya lima kategorisasi masyarakat Asia Tenggara mulai dari tingkatan yang paling tinggi hingga yang paling rendah, yakni yang paling terbelakang. Namun kelima tingkatan masyarakat Asia Tenggara ini tetap berada dibawah kategori yang teratas, yakni ras Eropa atau kulit putih.” ucapnya.

Ia menambahkan, “Di daerah Dayak, Kalimantan, pernah terjadi konflik antara masyarakat setempat dengan Inggris pada kurun waktu 1830-1846. Pada masa itu tentara angkatan laut dari Inggris melakukan kampanya militer untuk melawan bajak laut di lautan Kalimantan. Bajak laut ini tidak lain adalah orang-orang Dayak yang menyerang dan merompak kapal-kapal dagang Eropa di perairan tersebut. Karena itulah muncul julukan “bajak laut” ini untuk orang-orang Dayak dengan segala stereotip yang negatif. Namun pihak Inggris tidak menerapkan istilah dan konsep bajak laut ini secara adil. Sebutan bajak laut hanya diterapkan untuk masyarakat Asia Tenggara yang menyerang kapal-kapal dagang milik Eropa. Tetapi pada periode yang sama kapal dagang Eropa itu juga sering diserang oleh kapal sesama negara Eropa itu sendiri, namun penyerangan ini tidak disebut sebagai bajak laut, hanya disebut sebagai perang antar negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa istilah bajak laut juga tak terlepas dari konsep ras itu sendiri.”

Akhirnya dengan justifikasi seperti ini, Inggris menyerang dan menguasai kerajaan Brunai dengan alasan bahwa pihak kerajaan Brunai ini telah memanfaatkan dan bekerja sama dengan para bajak laut dari Dayak itu. Pada 1846 kerajaan Brunai dipaksa menandatangani perjanjian damai, walaupun tidak pernah ada bukti bahwa kerajaan Brunai mendukung bajak laut. Meskipun konflik yang sebenarnya ialah persoalan politik dan ekonomi, namun wacana yang digunakan tetap berhubungan dengan konsep ras. Karena itu konflik yang terjadi di pantai Utara Kalimantan ini tidak dapat dipahami tanpa memahami konsep ras yang dijadikan justifikasi politik kolonialisme pada masa itu.

Perbedaan antara ras, etnis, dan agama ini memang persoalan yang kompleks. Sering kali ras ditentukan dengan kondisi sosial dan perpolitikan saat itu. Sebagai contoh pada zaman dahulu Yunani tidak masuk ke dalam lingkungan Eropa, namun kini Yunani menjadi salah satu bagiannya. Begitu pun Turki meski memiliki hubungan yang baik dengan beberapa negara di Eropa, namun ketika para pemimpin Turki di tahun 1980-an hendak bergabung dengan Eropa, beberapa pemimpin negara Eropa lainnya menolak hal tersebut. Di abad ke-19, Kerajaan Inggris memberikan tekanan yang besar kepada perbedaan ras karena didukung dengan teori pseudo saintifik yang muncul di Eropa seperti teori Darwin. Meskipun Darwin sebenarnya tidak menyatakan adanya hierarkis antar ras yang ada. Namun agama berbeda dengan ras, apabila ras tidak dapat dipilih dan diubah dan memecah belah, maka agama sebaliknya justru bersifat universal dan kerap kali menyatukan antar ras ini. Pada kondisi seperti inilah Inggris mengedepankan perbedaan ras untuk menghindari bangkitnya agama sebagai pemersatu masyarakat di tanah jajahan mereka.

Adanya renaisans di Eropa pun tidak menghentikan berkembangnya konsep perbedaan ras tersebut, sebab bagaimanapun renaisans itu merupakan kebangkitan Eropa, bukan seluruh dunia. Sehingga di masa renaisans itu juga muncul sebuah ide untuk membangkitkan peradaban Eropa namun di saat yang sama juga membangun perbedaan dengan peradaban lainnya. “Maka setelah melakukan pembacaan terhadap sejarah kolonialisme ini, di masa sekarang adalah saatnya bagi negara-negara Asia Tenggara untuk memperkuat upaya dekolonisasi di berbagai bidang itu, di mana segala stereotip dan perspektif negatif yang berasal dari negara-negara kolonial Eropa harus diubah oleh masyarakat Asia Tenggara, agar negara-negara di Asia Tenggara ini tidak lagi merasa inferior terhadap negaa dan budaya Barat.” tutup Farish di akhir penjelasannya.

Peter Carey

Sesi kedua pemaparan dari Peter Carey, ia bercerita mengenai dinamika yang terjadi di Jawa dalam perspektif yang lebih luas. Sebelum awal abad ke-19, elit Jawa melihat perwakilan Eropa yang ada saat itu di Batavia sebagai kekuatan yang secara perlahan sedang memudar. Sebab pada saat itu Belanda tengah dilanda krisis setelah kekalahannya dalam perang melawan Inggris pada 1780-1784. Akibatnya VOC yang merupakan kantor dagang Belanda ketika itu mengalami kebangkrutan hingga akhirnya dibubarkan dan kekuasaan diambil alih oleh pemerintah Belanda. Pada masa-masa ini bahkan pihak Belanda meminta bantuan kepada para penguasa pribumi di Sumenep, Yogyakarta, Solo, dan Sumbawa untuk ikut membantu melindungi Batavia.

Namun tanpa sepengetahuan para elit Jawa ini, pada masa itu juga sedang berlangsung dua revolusi yang berkembang di Eropa, yang dimotori oleh Inggris dan Perancis, yakni revolusi industri dan revolusi politik, yang keduanya akan berpengaruh dan berdampak besar terhadap perubahan dunia, termasuk di Jawa. Di Jawa, yang menjadi ujung tombak perubahan dari kondisi demikian ialah dengan hadirnya Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang mana ia dikirim oleh adik Napoleon untuk merombak administrasi dan membuat sebuah negara baru. Sebuah negara yang dibangun tidak lagi berdasarkan konsep kebangsawanan.

Hanya dalam kurun waktu sekitar empat tahun perubahan itu benar-benar terasa dampaknya. Sesudah masa kekuasaan Daendels dan Raffles bahkan Jawa tidak lagi memiliki daya dan pengaruh dalam bidang budaya, bahasa, pakaian, dll. Seolah ada sebuah physicological shock yang diberikan atas penjajahan tersebut, dan hilangnya kejantanan Jawa, sebagai sebuah penaklukan bukan hanya politik namun juga budaya. Dalam ranah agama di Jawa, Islam sudah tidak lagi dianggap. Raffles mencuri naskah-naskah dari keraton Jawa, tetapi ia meninggalkan yang berhubungan dengan Islam. Ia mencoba mengangkat budaya Hindu-Budha sebagai sebuah puncak kebudayaan Jawa. Di sisi lain, ada pula pihak seperti Diponegoro yang tetap hendak mempertahankan pengaruh Islam di Jawa.

“Bagi Diponegoro, perangnya ini merupakan perang ideologi. Maka setidaknya ada tiga ideologi yang berkembang pada masa itu. Yang pertama ialah Islam, yang dapat dilihat dari paras orang-orangnya yang rapih, mencukur rambut, menggunakan huruf pegon dalam menulis, menggunakan baju kokoh, gamis, dan sorban, serta menggunakan nama Arab. Kedua ada orang kafir yang tidak lain adalah para penjajah Eropa, yang bisa dicirikan dengan rambutnya yang cepak. Ketiga yakni ada kafir murtad, yakni orang yang membantu kafir, dan kebanyakan adalah para bangsawan masih berambut Panjang.” ungkap Peter.

Di masa perang Jawa ini bahkan Menteri Jajahan Belanda secara blak-blakan menolak sebuah usulan untuk menghentikan Diponegoro dengan cara mengakui kepemimpinannya, sebab apabila Diponegoro diakui memiliki wewenang dan otoritas spiritual maka landasan kristiani dari sistem kolonialisme di Jawa akan hancur. Sistem kolonialisme pada masa ini juga membuat terkotak-kotak, meremehkan budaya lokal, menganggap bahwa sastra Jawa hanyalah mitos dan diada-adakan. Bahkan meskipun saat itu ada sebuah aturan bahwa orang non-Eropa bisa akui dan dianggap statusnya sama seperti warga Eropa, dengan cara mengubah bahasa, pakaian, dan agamanya, namun pada kenyataannya orang Eropa sendiri begitu berhati-hati dan bahkan enggan untuk membagikan keistimewaan status yang mereka miliki.

“Jadi dua peristiwa yang terjadi sebelum abad ke-19 di Eropa ini memang memberikan dampak dan perubahan yang besar bagi kondisi kolonialisme di Asia Tenggara, khususnya di Jawa. Pekerjaan rumah bagi orang Indonesia masa kini adalah dekolonisasi otak. Sebagaimana Bung Karno pernah mengungkapkan bahwa dekolonisasi fisik hanya 50%, setengahnya lagi adalah dekolonisasi mental. Salah satu cara yang paling penting ialah mengetahui sejarah sendiri, salah satunya sejarah di abad ke-18, ke-17, dst sebelum kolonialisme dijalankan.” pungkas pria kelahiran Myanmar ini.

Jajat Burhanudin

Selanjutnya sesi ketiga adalah pemaparan dari Jajat Burhanudin, ia menyebut bahwa buku ini memberikan sebuah perspektif baru dalam bahasan kolonialisme khususnya mengenai pertemuan antara penjajah dengan yang dijajah. Perang memang menjadi sebuah subjek studi yang selalu dikaitkan dengan suatu ekspansi, politik, dampak ekonomi, kekuatan tantara, persenjataam, dan persoalan menang-kalah. Tetapi dari buku ini dapat dilihat sebuah dimensi baru, yakni bagaimana konteks ras dan budaya berpengaruh terhadap perang.

Di abad ke-19, selain pengaruh dari kekuatan bangsa Eropa saat itu, ada lagi sebuah kekuatan yang paling berpengaruh, yakni Timur Tengah atau dalam hal ini Mekkah. Sebab saat itu banyak orang dari Asia Tenggara, seperti orang Patani, Sumatera, Jawa, dll bermukim di Mekkah yang merupakan pusat intelektual dan sosial umat Islam di seluruh dunia. Orang dari Nusantara ini bahkan disebut dengan satu nama, yakni Jawi. Bukan hanya banyaknya para ulama Nusantara yang merupakan didikan Mekkah, tetapi dari Mekkah pula banyak kitab-kitab yang dikirimkan ke Asia Tenggara. Meskipun belum ditemukan kitab yang secara spesifik membahas mengenai perpolitikan, namun ini menunjukkan adanya proses penguatan keagamaan yang bersamaan dengan penguatan etnik.

Bagaimana hubungan dan pengaruh antara Melayu dan Islam memang telah dibahas lama bahkan sejak abad ke-17. Tetapi di abad ke-19 ini pula merupakan suatu masa di mana pengaruh dari Timur Tengah membentuk sebuah persepsi baru perihal etnisitas dan agama. Terlebih lagi di Jawa, di mana meningkatnya identitas etnis orang Jawa pasca Perang Jawa yang dipimpin oleh Diponegoro, dipengaruhi dengan banyaknya ulama didikan Mekkah yang ada di Jawa dan mengembangkan pesantren di berbagai daerah. Terkait dengan perbedaan ras yang berkembang pada abad ke-19 saat itu memang tidak dapat dinafikan keberadaannya. Meski demikian ada juga tokoh-tokoh Eropa yang memiliki kedekatan dengan etnis pribumi di Asia Tenggara, bahkan mereka menikah dan menjadi bagian dari komunitas lokal. Dua di antaranya yakni K. F. Holle dan Snouck Hurgronje.

K. F. Holle adalah orang Belanda yang awalnya berkarir sebagai klerk di Bogor, namun kemudian pindah ke Garut. Ia bertemu dengan seorang penghulu di Jawa Barat yang bernama Muhammad Musa dan berteman baik dengannya. Holle merupakan sosok yang sangat menghormati budaya Sunda, ia bahkan mendirikan sekolah untuk orang Sunda, dan mendorong orang seperti Muhammad Musa ini untuk mengembangkan dan mempelajari kebudayaan Sunda secara mendalam. Namun di saat yang sama ia menolak orang-orang Sunda ini untuk menulis dengan aksara Arab, dan meminta mereka untuk mengubahnya dengan aksara Latin. Hal ini tidak lain utnuk menghilangkan pengaruh Islam dari kebudayaan Sunda. Sedangkan Snouck Hurgronje di Mekkah juga bertemu dan berteman baik dengan seorang tokoh pribumi bernama Hasan Mustapa. Ketika ia ditugaskan di Hindia Belanda, Snouck bertemu kembali dengan Hasan Mustapa dan berhasil membujuknya untuk menjadi penghulu. Setelah menjadi penghulu, Hasan Mustapa tidak lagi berbicara mengenai masalah keagamaan sebagaimana ada di dalam kitab kuning, tetapi ia lebih sering membahas mengenai budaya Sunda. Dalam hal ini terlihat adanya penguatan etnik, tetapu pada saat yang sama juga mencoba menghilangkan pengaruh Islam.

Di Sumatera, Raja Ali Haji juga memiliki nasib dan pengaruh yang sama. Beberapa tulisannya memang ada yang dipengaruhi oleh kolonialisme, sedangkan karya-karyanya yang berhubungan dengan Islam tidak diperhatikan sama sekali oleh pihak Belanda. Sebagaimana karya-karya Hasan Mustapa juga hanya diterbitkan oleh Belanda yang berhubungan dengan Sunda, sedangkan karyanya yang berhubungan dengan Islam dan bernuansa sufistik itu tidak mendapat perhatian. Jadi penguatan etnik itu digunakan sebagai cara untuk mengurangi pengaruh Islam saat itu, yang pusat kegiatan intelektual dan sosialnya berpusat di Mekkah. Meski demikian, Snouck Hurgronje tetap percaya terhadap superioritas bangsa Barat. Ia mencoba meminggirkan para ulama sekaligus di saat yang sama hendak merangkul para priyayi. Ia percaya bahwa para priyayi seperti Hasan Mustapa ini lebih mudah beradaptasi dengan keadaan termasuk dengan cara hidup Barat. Karena itulah kontribusi studi keislaman yang dilakukan oleh Snouck ialah memisahkan antara adat dengan Islam, sebab menurutnya adat lebih bisa menerima gagasan Barat modern ketimbang agama Islam. Ketika ada politik etis, Snouck bahkan percaya bahwa melalui pendidikan bergaya Eropa yang menanamkan nilai-nilai Barat akan membuat para elit masyarakat Indonesia ini bisa menerima Barat yang kemudian diikuti oleh para rakyatnya secara keseluruhan.

Namun dalam membaca sejarah kolonialisme ini penting untuk membaginya ke dalam beberapa isu utama. Sebab jika dilihat dari segi selain keagamaan dan budaya, kolonialisme memberikan peranan penting dalam membangun peradaban di Indonesia seperti dalam hal infrastruktur, ekonomi, dan sebagainya yang itu bisa dipelajari dan diakui sebagai sejarah dari bangsa Indonesia. Namun untuk mempelajarinya kita harus melihatnya dengan pandangan yang berbeda, yakni harus terlepas dari pandangan sebagai orang terjajah, menuju kepada pandangan yang melihat sebuah peradaban yang terus tumbuh dan berkembang yang mana Barat dan kolonialisme memiliki pengaruh di dalamnya. Sehingga mental dan attitude harus diubah tidak semata-mata memandang negara kolonial itu buruk dan jahat.

Suasana Peserta melalui Zoom Meeting

Diskusi dan bedah buku ini berlangsung selama lebih kurang tiga jam dan mendapatkan antusiasme yang sangat tinggi dari para peserta. Acara ini diakhiri dengan sesi taya jawab dan ditutup dengan closing statement dari ketiga narasumber.