Ciputat- 19/08/2020, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Jakarta menggelar webinar Dialog Kebangsaan dan Keislaman dengan tema “Nasionalisme Hijrah: 17 Agustus dan 1 Muharram di Mata Milenial Muslim”. Acara ini dihelat via Zoom Cloud Meeting dan Livestreaming di akun YouTube FAH UIN Jakarta. Dengan menghadirkan para Alumni FAH sebagai pembicara yakni Irvan Hidayat, Andhika Tiara, Muhamad Al Jupri, Robiatul Adawiyah, Tb. Ace Hasan Syadzily (Anggota DPR RI), dan juga Mahasiswa Berprestasi dari Bahasa dan sastra Arab, Mahbubi, serta Johan Wahyudi selaku moderator.

Saiful Umam, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta

Kegiatan ini diselenggarakan karena bertepatan dengan dua perayaan hari besar, yakni Kemerdekaan RI dan Tahun Baru Hijriah. Menurut Saiful Umam, (Dekan FAH) Indonesia akan dipimpin oleh generasi milenial dari berbagai bidang, maka FAH mengundang para Milenial untuk berbicara mengenai dua isu besar tadi, yaitu masalah agama dan negara. Saiful pun berharap agar muncul ide-ide segar dari para anak muda ini dan memberikan kontribusi dalam perjalanan bangsa dan beragama. “Ini bisa menjadi representasi mahasiswa FAH walaupun tidak menyeluruh, dan semoga adik-adik FAH yang lain dapat mengikuti jejak yang sudah baik ini” imbuhnya.

Irvan Hidayat, Jurnalis yang berlatar alumni SPI

Sebagai seorang penulis dan alumni SPI 2019, Irvan menyampaikan tiga poin penting dalam webinar ini. Pertama, bersyukur karena Indonesia bisa merayakan 75 tahun kemerdekaan. Kedua, ia menilai dewasa ini makna hijrah mengalami penyempitan dan lebih mengacu pada simbol, mantan Ketua SEMA FAH 2016 ini memaparkan bahwa saat Rasulullah Muhammad SAW hijrah dari mekah ke Madinah hal utama yang diperhatikan perihal keamanan, keadilan, bahkan melindungi minortitas, semangat kemerdekaan rasul sama halnya mengedepankan kemaslahatan bersama. Ketiga, berbicara mengenai negara, ia melihat selama satu tahun terakhir ini, demokrasi kita tercemari dengan beberapa kejadian dan pelanggaran hak-hak sipil, kekerasan dan pertikaian kerap terjadi sehingga menimbulkan kerugian baik secara materi maupun non-materi.

Robiatul Adawiyah, seorang pustakawan sekaligus motivator memaparkan bahwa permasalahan yang dihadapi bangsa ini karena krisis akan kepercayaan diri, semangat hidup, arah dan tujuan hidup. Serta kepedulian, kesadaran, cara berfikir, dan yang paling parah adalah moral dan norma. Menurutnya negara ini banyak diwarnai tindakan yang tidak sepantasnya dibanggakan seperi budaya “prank” atau gimmick. Menurut perempuan yang sering disapa Obi ini, bahwa kemerdekaan itu juga tidak hanya pada negara melainkan pada diri sendiri.

Alumni Tarjamah 2019, Andhika Tiara sebagai seorang penulis mengatakan bahwa perayaan dua hari besar, HUT RI dan peringatan Tahun Baru Hijriah akan menemukan titik temu yakni nasionalis-religius, yang kelak akan melahirkan pandangan toleransi dan menghormati perbedaan. Ia menggambarkan tiga skema dalam membangun negara dan agama; 1. Memperbanyak sentuhan agama untuk keharmonisan nasionalisme, ia mencontohkan Buya Hamka dengan berbagai karyanya yang fonemenal mampu menghadirkan sentuhan agama dan nasionalisme yang bisa ditanamkan, 2. Meningkatkan kualitas diri dan menghindari sentimen negatif, 3. Implementasi, agar bisa menghindari hoax di tengah derasnya arus informasi, seperti jargon saring sebelum sharing sangat diperlukan, agar bisa menghindari perpecahan bangsa, karena sejatinya hijrah itu perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lebih baik.

Dalam memaknai hubungan negara dan agama, Mahbubi, menilai ada tiga hal penting; yang pertama paham integrasi, golongan yang sepakat bahwa negara dan agama tidak bisa dipisahkan. Kedua, golongan yang menganggap agama dan negara berjalan secara dinamis dan dialektis, secara berdampingan. Selanjutnya yang ketiga ialah paham sekuler, golongan yang memisahkan antara negara dan agama, yang meyakini bahwa keduanya tidak memiliki hubungan sama sekali. Menurut Bobi, kita tidak perlu memaksakan budaya lokal menjadi budaya Islam. Dan menurutnya Indonesia cocok dengan golongan yang kedua. “Hal yang paling menyenangkan adalah bisa berdamai dengan budaya, dan tidak harus memaksakan budaya kita sama dengan islam” paparnya.

Muhamad Al Jupri, alumni Sasing yang juga berprofesi sebagai Komika

Komika jebolan SUCI 6, M. Al Jupri juga memberi masukan kepada FAH agar mampu memberikan gebrakan baru terkait tumbuh kembangnya kemampuan mahasiswa terutama dalam hal bahasa. Sebagai seorang komika, ia memiliki jalan sendiri untuk menyampaikan kegelisahan yang ia rasakan lewat stand-up comedy. Seperti halnya ketika ia menyoroti masjid-masjid di kampung selalu sepi dengan anak muda, hanya diisi oleh orang-orang tua saja, dan kadang juga mahasiswa terlalu abai dalam berpenampilan saat melakukan ibadah. “Saat mau solat ada yang memakai celana jeans, tapi “celengannya” kelihatan, itukan tidak sopan” ujarnya.

Tb Ace Hasan Syadzily, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI 2019-2024

TB Ace Hasan Sadzly, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI yang juga merupakan alumni Sastra Arab tahun 2000, mengatakan bahwa global citizenship memudahkan bagi kita untuk mengakses banyak informasi, namun juga menimbulkan kekhawatiran karena menjadi apatis. Dalam merayakan kemerdekaan ini, hal yang terpenting adalah cita-cita kehidupan bernegara adalah menjamin keamanan rakyat. Dalam merespon milenial FAH di Webinar kali ini Kang Ace biasa ia disapa, melihat bahwa semangat intelektual masih terbangun dan masih tumbuh dengan baik di Ciputat walau dengan cara yang berbeda. Sebagai penutup, Dekan FAH berpesan agar kita mampu mengaplikasikan kesolehan sosial bukan hanya kesolehan pribadi.

Penulis: Anis Pitriani

Editor: AY