021-7401928 fah@uinjkt.ac.id

Foto Bersama Narasumber dengan Peserta Seminar

Kamis, 26 September 2019 – Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menggelar Seminar Internasional. Seminar kali ini bertema “The Sunna & the Community: Envisioning a Polyphonic History of Islam” dengan narasumber Ismail Fajrie Alatas, Ph.D, asisten Profesor Timur Tengah dan Studi Islam Universitas New York, di Ruang Teater Prof. Dr. Bustami Abdul Gani Gd. FAH lantai 5.

Tujuan seminar ini untuk menjadi pembuka jalan bagi pengembangan metodologi Sejarah Islam di UIN Jakarta, hal ini untuk memperkuat pemahaman mengenai metodologi baru sejarah Islam, juga membuka ruang diskusi mengenai integrasi sejarah Islam dengan disiplin lain dan sumber yang beragam.

Menurut dekan FAH, Saiful Umam, Ph.D, seminar ni merupakan bagian dari upaya dalam menyediakan forum akademik untuk civitas akademika. “Sebagai sebuah universitas kita perlu untuk mengadakan forum-forum seperti ini, kampus mengundang para scholar atau akademisi, untuk menyampaikan hal-hal baru terkait dengan keilmuan kita, FAH. Dengan begitu maka terjadi intelectual exchange kepada civitas akademika, sehingga tidak terbatas pada kuliah di kelas seperti biasa”.

Narasumber, Moderator dan Dekan FAH

Dalam pembukaannya, Fuad Jabali, Ph.D selaku moderator memaparkan bahwa Jama’ah adalah sebuah keterhubungan tradisi dan keragaman berfikir, yang di dalamnya ada banyak elemen. “Jama’ah adalah sebuah keterhubungan tradisi & keragaman berfikir, dan jamaah dalam piagam Madinah isinya juga ada Yahudi, Kristen, dll yang oleh Nabi diperlakukan hak yang sama tentang kesamaan dan keadlian, dua kata kunci ini seiring zaman menciut dan hilang, diganti menjadi homogenitas” paparnya.

Pemuda yang akrab disapa Ajie, selaku narasumber mengatakan bahwa Islam tidak perlu dijadikan sebagai paradigma untuk menjelaskan sejarah. Sejarah dan realitas sosial tidak bisa dijelaskan melalui Islam, justru Islam yang harus dijelaskan bagaimana Islam muncul, itu yang harus dijelaskan. Hal tersebut lebih baik dari pada menjelaskan sejarah manusia melalui Islam. Ia juga memaparkan bahwa sebagai seorang, sosiolog, antropolog, dan bahkan sejarawan tidak perlu memiliki definisi sendiri mengenai sunni dan jama’ah. Karena hal tersebut malah akan membuat analisa sebagai antropolog, sosiolog, atau sejarawan semakin tumpul. Namun yang dilakukan seharusnya tentang bagaimana sunnah itu diimajinasikan, atau bagaimana sunnah itu direalisasikan. “Bukan urusan kita memvalidasi ini sunnah atau tidak. Benar atau tidak, kita hanya mencoba memahami bagaimana sesuatu itu bisa diartikulasikan bagaimana sebuah otoritas keagamaan muncul, dan bagaimana sunnah itu bisa direalisasikan dalam sebuah jamaah”.

Dengan memahami perbedaan pendapat dalam memahami teks agama merupakan hal yang wajar sehingga tidak perlu disikapi secara ekstrim. Begitupun menurut Awalia Rahma “Sebagai mahasiswa dalam memandang sesuatu tentu seperti ilmu pengetahuan dan agama harus beragam, dari banyak sisi, dan tidak terpaku pada satu sisinya dalam menyampaikan pandangan harus beragam tidak harus kaku, harus A, harus B, dan sebagainya. Mahasiswa harus sadar bahwa agama, atau ilmu pengetahuan itu tidak hanya dilihat dari satu sisi saja, maka dari itu ada banyak sisi (polyphonyc), sejarawan melihat bahwa dunia ini penuh keragaman” ujar Ketua Prodi Sejarah dan Peradaban Islam.

Pada intinya kesimpulan yang bisa dipetik ialah, bahwa problem yang dihadapi di masa lalu  dalam menghadapi sunnah mungkin berbeda dengan masalah-masalah yang dihadapi saat ini. Sejarah Islam adalah sejarah kompetisi “antar agama”. Islam bisa menjadi agama dunia berkat ketiadaan konsistensi. Bukan tugas kita mendefinisikan apa itu Islam, tugas kita adalah menjalankan Islam. Diakhir acara Fuad memberikan kutipan bahwa “Hanya otak besar yang bisa melihat kebesaran, hanya otak kecil yang tidak bisa melihat kebesaran”.

Reporter: Anis Pitriani

Editor: AY