021-7401928 fah@uinjkt.ac.id

Ciputat, 01 Juni 2020 – Dalam situasi pandemi Covid-19, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terus berupaya memberikan pelayanan dan berinovasi dalam aktivitas sehari-hari. Setelah pada hari pertama lebaran mengadakan silaturahmi via zoom. Masih dalam rangka menyambut hari raya Idul Fitri 1441 H, seluruh sivitas akademika Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar acara halal bi halal secara virtual dengan mengusung tema “Merawat Tradisi Halal bi Halal dan Memperkuat Nasionalisme di Tengah Pandemi”. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Senin, 1 Juni 2020 mulai pukul 13.30 WIB melalui aplikasi zoom cloud meeting dan juga live streaming di channel youtube FAH UIN Jakarta.

Dekan FAH, Saiful Umam, Ph.D berikan sambutan dalam halal bi halal

Saiful Umam (Dekan FAH) mengawali acara dengan mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri kepada segenap sivitas akademika yang telah bergabung mulai dari jajaran dekanat, prodi, staf, para dosen, mahasiswa dan alumni FAH. Ucapan terima kasih juga dihaturkan kepada Prof. Amany Lubis dan Prof. Azyumardi Azra yang berkenan mengisi acara. “Acara ini topiknya gabungan di satu sisi dalam rangka halal bi halal dan hari ini merupakan hari lahirnya Pancasila. Dalam masa pandemi covid-19 ini menjadi tantangan bagi kita semua terkait dengan bagaimana kita merayakan tradisi halal bi halal dan juga memupuk nasionalisme yang belakangan menjadi perdebatan. Berbekal teknologi kita tetap dapat menjaga silaturahmi di even-even penting.” tuturnya.

Rektor UIN, Prof. Dr. Amany Lubis berikan pengarahan dalam halal bi halal FAH

Selanjutnya Rektor UIN, Prof. Amany Lubis dalam arahannya menyambut baik apa yang dilakukan FAH dalam rangka halal bi halal dan memperingati kelahiran Pancasila. Masih dalam suasana bermaaf-maafan, rektor berharap semoga kita semua bisa melalui tantangan pandemi covid-19. Di masa pandemi ini banyak kreativitas muncul dalam bentuk apapun. Menyoal nasionalisme akhir-akhir ini tentu kita mendengar banyak orang selalu menimpakan kesalahan kepada pemerintah, sebenarnya ini tanda melemahnya nasionalisme karena kepemimpinan nasional adalah simbol dari kuatnya suatu negara, kedaulatan negara ditunjukkan dengan kuatnya kepemimpinan nasional. “Disini kita harus bisa memilah dan memilih bagaimana suasana covid-19 harusnya bisa memperkuat nasionalisme. Segala permasalahan yang ada bukan membuat lemah, saling lempar kesalahan, saling menuduh atau mencari kambing hitam melemahkan bangsa. Tentu kita semua kena dampak, namun kita semua juga harus mampu bangkit.” ungkap Amany.

Prof. Azyumardi Azra ketika mengisi ceramah dalam halal bi halal FAH

Prof Azra dalam ceramahnya menyebut, inti dari halal bi halal adalah tentu memperkuat silaturahim dan memperkuat hubungan kasih sayang sesama muslim yang diwujudkan dalam bentuk ukhuwah islamiyah, ukhuwah wataniyah, dan ukhuwah basariah. Yang terkena dampak covid-19 ini bukan hanya cuma orang-orang muslim, tapi juga orang beragama lain, wabah tak mengenal agama apakah dia Kristen, Budha, Hindu, atau Yahudi semua bisa terkena. Solidaritas kita ini melintasi batas-batas agama, suku, ras dan bangsa.

Halal bi halal bisa menyambung dan memperkuat kembali jaringan silaturahmi yang mungkin sempat terputus di antara kalangan umat Islam. Tradisi halal bi halal ini memang unik dan hanya ada di Indonesia, mungkin tak segemerlap di negeri lain jika menyambut Idul Fitri. Biasanya kita punya tradisi mudik yang mungkin tahun ini tidak dapat terlaksana karena wabah corona. “Ini memang tradisi-tradisi yang baik. Kita harus banyak bersyukur, kita kalau buat kesalahan harus cepat minta maaf, bahagian dari untuk memperindah hubungan antar manusia, kita masih kurang bersyukur dan berterima kasih. Dalam halal bi halal ini kita harus lebih banyak bersyukur dan semakin mengurangi komplain-komplain atau keluhan supaya kita dapat tidur nyenyak.” sebut cendikiawan muslim ini.

Ketika berbicara tentang nasionalisme, Prof Azra bilang jikalau Indonesia maju, pendidikannya, ekonominya, maka penerima manfaat terbesar adalah orang Islam. Dimanapun keberadaannya di seantero pelosok negeri pasti ada umat Islam, kita patut syukuri. Maka dari itu, merawat Indonesia dan menjaga Indonesia menjadi sebuah kewajiban bagi kita semua. Kita tentu berharap walau saat ini ada kesulitan-kesulitan, ketegangan-ketegangan dan eskalasi politik kita berharap kita semua tetap berkomitmen pada nasionalisme. Yaa, nasionalisme Indonesia yang diletakkan dalam pondasi dasar atau kerangka dasar Pancasila merupakan inti dari nasionalisme Indonesia. “Kita beruntung punya Pancasila, Pancasila is Religiously Friendly basis of Indonesian State, dasar negara Indonesia yang bersahabat dengan agama. Jadi kalau ada yang masih mempertentangkan pancasila dengan agama dan bahkan menyebut musuh terbesar pancasila itu adalah agama, maka itu adalah orang yang keblinger. Dalam pengertian ini masalah itu sudah selesai, jadi jangan diungkit-ungkit lagi.” sebut Guru Besar FAH ini.

Memang belakangan ini ada banyak isu hangat soal Pancasila, ada yang bilang hari lahir pancasila itu bukan tanggal 1 Juni, melainkan 18 Agustus, karena pancasila yang kita pakai sekarang ini adalah pancasila yang disepakati pada 18 Agustus 1945 dengan panghapusan 7 kata yang disebut dalam Piagam Jakarta. Perdebatan itu tentu sangat melelahkan, bagi kita seharusnya yang paling penting adalah pancasila sudah menjadi dasar negara, pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang bisa mengakomodasi keragaman yang ada di Indonesia ini.

Pekerjaan yang paling mendasar tentu kita harus mengerti isi dari pancasila itu sendiri, harus hafal dan bisa mengamalkan dalam realitas kehidupan sehari-hari. Sekarang ini banyak cibiran ada orang yang mengaku Pancasilais: ‘Aku Pancasila tapi kelakuannya tidak pancasila, merayakan pancasila tapi kerjaannya mengintimisadi orang lain, ada lagi misalnya mengaku pancasila tapi tidak mau berbagi, justru malah berbondong-bondong pergi ke Singapura ke Jepang ketika wabah datang. Kita patut bersyukur atas segala nikmat yang telah kita terima, pancasila menyatukan keragaman dan membuat Indonesia menjadi damai. Sudah seharusnya kita merawat dan menjaga keutuhan bangsa dengan menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Para Peserta Halal bi Halal Keluarga Besar FAH

Seusai ceramah dari Prof Azra, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah tegur sapa antara para peserta yang turut hadir berpartisipasi. Mulai dari jajaran dekanat, pimpinan, prodi, staf, para dosen dan juga pengurus Ikatan Alumni FAH yang bergabung menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri dan saling bermaaf-maafan secara daring dilayar Zoom.

Reportase: AY