FAH NEWS – Perempuan merupakan salah satu isu sentral dalam kehidupan sosial dan bernegara. Peran perempuan di ranah publik mengalami pasang surut. Hal ini akibat dari stigma sebagian kalangan yang menganggap bahwa perempuan kurang berdaya saing. DEMA FAH menjawab isu peran perempuan sebagai sentral kehidupan dengan mengadakan diskusi publik pada Rabu (26/10/2022). Diskusi publik dengan tema “Perempuan Unggul, Maju, dan Berdaya Saing” diselenggarakan di Ruang Teater Prof. Abdul Ghani lantai 5 Gedung Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta. Total peserta yang hadir sekitar 110 orang. Para peserta diskusi publik berasal dari mahasiswa, dosen, dan umum. Pada kegiatan ini, DEMA FAH mendatangkan tiga narasumber yang berpengalaman. Para narasumber kegiatan ini antara lain, Dr. Yunita Faela Nisa, M.Psi (Wakil Dekan III Fakultas Psikologi UIN Jakarta), Erni Sugiyanti, M.M (Anggota DPRD Jawa Barat F-PKB), dan Nanin Ulpiyanti (Pemilik Warung Tuman, Serpong). Ketiganya merupakan perempuan yang berasal dari bidang pekerjaan berbeda.

Ketiga Narasumber bersama moderator saat diskusi berlangsung

Narasumber dari bidang politik diwakili oleh Erni Sugiyanti, M.M. Dirinya menjelaskan urgensi perempuan dalam kontestasi politik di Indonesia mampu meningkatkan suara perempuan di wilayah publik. Secara khusus Erni mengajak para peserta diskusi yang ingin berkecimpung langsung di dunia politik agar mendampingi masyarakat secara aktif. “Ayo, kalau mau dampingi masyarakat itu dampingi yang benar-benar. Kalau mau dampingi rakyat yang di bawah, itu harus ikhlas harus tulus,” tegas politisi PKB tersebut. Perempuan dalam ruang publik tidak harus menjadi objek perhatian agar dinomorsatukan. Peran perempuan adalah subjek utama yang memainkan peran penting dalam kesejahteraan masyarakat. Imbas positif dari perempuan yang aktif di masyarakat akan membawa citra perempuan unggul secara alami.

Berbeda dengan pandangan Erni, Yunita Faela Nisa meninjau peran perempuan dari sisi psikologi. Di awal presentasinya, ia menyebutkan keunggulan program pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, sebelum terjun dalam pengabdian masyarakat hendaknya pelaku pengabdian melakukan survei sebelum intervensi lapangan. Wakil Dekan III Fakultas Psikologi UIN Jakarta tersebut menguraikan bias gender yang masih ada di lingkungan sekitar kita. Yunita menyebutkan bahwa bias gender adalah suatu tindakan yang tidak dapat memisahkan/memenuhi kebutuhan laki-laki dan perempuan sesuai porsinya. “Bias gender itu sebenarnya menjadikan perbedaan laki-laki dan perempuan tidak seperti kebutuhannya. Jadi tidak sama persis. Kesetaraan itu tidak sesuatu yang sama persis,” pungkas dosen Psikologi itu.

Sesi Foto Bersama Narasumber dan Peserta seusai Acara Diskusi

Sementara itu, Nanin Ulpiyanti, Pemilik Warung Tuman, Serpong, melihat perempuan berpeluang memiliki peran tinggi dalam wirausaha. Ia membagikan kisah hidupnya selama jatuh bangun meniti usaha rumah makan. Nanin menyebutkan peran perempuan dalam bidang usaha dapat terealisasikan apabila antara suami istri saling mendukung. “Waktu itu suami bilang. Kita bagi tugas. Kamu mengurus menu aku mengurus promosi,” terang Nanin.

 

Kontributor:  Abdurrahman Ad-Dakhil
Editor: AY