021-7401928 fah@uinjkt.ac.id

Rabu, 9 Oktober 2019 – Festival Multatuli merupakan kegiatan tahunan yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten. Festival ini, demikian merupakan wadah implikasi dari pemerintah daerah untuk mengembangkan ruang interaksi kreatif antarbudaya. Festival Mulatuli kali ini mengadakan berbagai macam lomba seperti paper dan film dokumenter.

Selain menjadi wadah untuk menampung inspirasi dan minat kreatif masyarakat, festival ini demikian juga menjadi ajang pengenalan lebih dalam tentang Multatuli, serta Museum Multatuli. Keberhasilan acara ini pada tahun 2018 menjadi modal utama untuk melanjutkan di tahun berikutnya, yakni di tahun 2019 ini.

Festival Multatuli diselenggarakan dari tanggal 9 September sampai 15 September. Dari salah satu kategori lomba, yakni lomba film dokumenter pendek, lima mahasiswa Bahasa Sastra Inggris (BSI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) yakni; Albi Bil Awal, Hafizh Pragitya, Raditya Arivansyah, dan Ramadan Saputra.

Mahasiswa BSI Juara Lomba Film Festival Multatuli

Mengambil tema dari peristiwa yang sempat kisruh beberapa bulan lalu, lima mahasiswa Bahasa Sastra Inggris ini mampu melahirkan karya yang ciamik. Tema ‘pemberedelan buku kiri’, khususnya buku-buku yang berbau Marxisme menjadi inspirasi dalam film ini. Namun, film ini bukan bertujuan untuk membela kiri; Komunisme. Tetapi, bahwa meyita buku adalah pembodohan intelektual kepada kaum akademis.

Film tersebut berjudul “Bubur Ingatan”. Dibuka dengan scene yang cukup santai, menampilkan salah satu pemain yang juga salah satu konseptor film, yaitu Hafizh Pragitya. Kemudian, scene mulai berubah ke klip dokumenter pemberedelan buku-buku kiri. Lalu, penambahan wawancara kepada pihak yang professional seperti; Okky Tirto (Peneliti Sosial dan Budaya) serta Muchlis (Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam) menambah elemen yang variatif dalam film ini.

Saat diwawancarai di lantai 2 Kampus Fakultas Adab dan Humaniora, Hafizh Pragitya mengatakan bahwa film “Bubur Ingatan” ini lahir dari keresahan mereka berlima karena penyitaan buku yang semena-mena, dan tak sesuai undang-undang.

“Kedepannya, semoga penyitaan buku ini tidak seenaknya, dan tidak melanggar undang-undang.” Tutur Hafizh.

Reporter: Nasrulloh Alif

Editor: AY