021-7401928 fah@uinjkt.ac.id

Ciputat, 16 Mei 2020 – Meski masih dalam suasana di tengah pandemi Covid-19, Forum Ikatan Alumni Fakultas Adab dan Humaniora (IKAFAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terus berupaya menjaga silaturahmi dan produktivitasnya. Hal ini ditunjukkan dengan mengadakan seminar online seperti yang sedang ngetrend belakangan ini di masa pandemi, berbekal aplikasi zoom cloud meeting. Webinar bertemakan “Bincang Ramadan: Agama dan Kemanusiaan Pasca Covid-19”, acara di helat pada Sabtu, 16 Mei 2020 mulai pukul 16.00 hingga 17.30 WIB. Kegiatan ngabuburit ini di hadiri oleh pembicara kunci Drs. Zainut Tauhid Sa’adi, M.Si selaku Wakil Menteri Agama RI yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum MUI. Selain itu webinar ini juga menghadirkan para alumni Fakultas Adab lintas generasi yang telah berpikrah di lingkup nasional maupun internasional seperti Dr. AM Fachir (Eks Wakil Menteri Luar Negeri RI/ Ketua Dewan Penyantun IKAFAH UIN Jakarta), Dr. Tb. Ace Hasan Syadzily (Anggota DPR RI, Komisi VIII – Agama, Sosial, Pemberdayaan Perempuan), serta Bambang Prihadi (Sutradara Lab Teater Ciputat). Bertindak sebagai host adalah Hijrah Saputra (Editor Erlangga) dan sebagai moderator ialah Dr. Makyun Subuki (Dosen/Pakar Humaniora).

Dekan FAH, Saiful Umam, Ph.D memberikan sambutan dan membuka acara webinar

Dekan FAH, Saiful Umam, Ph.D menyambut positif pelaksanaan kegiatan webinar yang diinisiasi oleh forum alumni. Ucapan terima kasih dihaturkan kepada pengurus dan panitia juga kepada para narasumber yang telah bersedia bergabung di webinar. Dengan adanya Covid-19 ini setelah nanti selesai pasti akan banyak yang berubah, normalitas kita akan berbeda seperti sebelum adanya Covid-19. Ini tentunya saja menjadi tantangan tersendiri bagi kita bangsa Indonesia dan umat Islam khususnya. Di tengah meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta media sosial yang juga sebelum Covid pun orang sudah banyak meramalkan akan adanya disrupsi dimana-mana. Expertise atau keahlian seseorang mulai terganggu, dengan adanya media sosial orang yang ahli dan tidak ahli menjadi kabur, kebenaran juga bisa menjadi dipertanyakan dan lain sebagainya. Tentu ini menjadi tantangan serius ditambah dengan adanya Covid-19. Termasuk tentu saja fakultas atau universitas misalnya, masih perlukah orang kuliah humaniora? “Saya masih meyakini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah merambah dimana-mana, orang mungkin tidak perlu belajar hanya sekedar mengingat masa lalu karena sekarang dengan artificial intelegent semuanya sudah masuk kesana. Akan tetapi tidak semua bisa digantikan oleh internet, komputer, mesin, dan robot misalnya. Tentu ada saja sisi-sisi seperti etika, memaknai peristiwa, dan lain sebagainya. Dengan begitu saya yakin ilmu kemanusian sebagaimana yang diajarkan oleh Fakultas Adab dan Humaniora menjadi relevan dan penting, meskipun tantangannya tentu menjadi berubah.” Ucapnya.

Saiful juga berharap ke depannya FAH bisa mengadakan pertemuan besar dengan para alumni secara fisik. Karena ia memandang bahwa para alumni PTKIN di Jakarta seperti belum diajak berbicara untuk meningkatkan sinergi, kualitas dan peran serta alumni UIN. Maka dari itu ia juga ingin agar dapat meningkatkan peran para alumni ini, bersama pengurus IKAFAH dirinya berharap ke depannya untuk bisa merangkul para alumni supaya bisa berkontribusi lebih untuk fakultas dan universitas secara umum.

Wakil Menteri Agana, Bpk. Drs. KH. Zainut Tauhid Sa’adi, M.Si

Pandangan Pemangku Kebijakan, dan Alumni FAH terhadap dampak Covid-19
Wamenag dalam penyampaiannya mengaku senang diajak berdiskusi dengan IKAFAH, pandemi Covid-19 sudah kita rasakan dampaknya bagi kehidupan manusia. Dampak yang begitu radikal ini mendisrupsi seluruh ekosistem kehidupan manusia, baik aspek sosial, ekonomi, budaya, agama dan semua aspek kehidupan yang lain. Nilai-nilai agama termasuk yang memperoleh ujian besar dari pandemi ini, umat Islam di seluruh dunia saat ini sedang menunaikan ibadah puasa Ramadan di bulan yang di tunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam di dunia.

Agama seharusnya bisa tetap relevan dalam menghadapi tantangan dan ujian terutama ketika dihadapkan pada nilai-nilai yang mengancam kemanusian seperti Covid-19. Dalam literatur sejarah kita mengenal misal Wabah Tho’un Amwas pada masa Sayidina Ummar bin Khatab yang menewaskan tidak kurang 30 ribu jiwa sahabat, atau Wabah Tho’un Muslim bin Uthaibah, ini diambil dari nama penemunya yaitu Muslim bin Uthaibah yang terjadi pada masa peralihan Bani Umayyah ke Bani Abasiyah. “Saya kira ada ribuan teks agama, sejarah, dan juga kesastraan yang diwariskan oleh para ulama meyakinkan kepada kita semua bahwa Islam mampu dan dapat memberikan solusi sumbangan pemikiran untuk mengatasi masalah Covid-19 ini.” tutur wamenag. Karena agama Islam hadir sebagai rahmat bagi semesta alam, dan nilai-nilainya memiliki nilai universalitas, sehingga fiqih atau kajian pendekatan kegamaan secara syariahnya meletakkan aspek kemashlahatan bagi umat manusia di dunia. “Pandemi ini saya kira juga memiliki dampak bagai kehidiupan semua negara, para ulama dari berbagai negara muslim melakukan kajian ulang terhadap pandangan keagamaannya agar relevan dengan kondisi yang ada sekarang.” tambahnya.

Pada dasarnya ajaran Islam tidak untuk menyulitkan kehidupan manusia, misalnya dalam  beribadah kita bisa melakukan dengan cara kalau dalam situasi normal kita bisa melakukannya sesuai dengan ajaran yang disyariatkan. Tetapi dalam kondisi tidak normal karena adanya masaqoh atau dharurah syariah pelaksanaannya bisa dilakukan dengan penyesuaian-penyesuaian. Masaqoh atau Dharurah Syariah merupakan alasan adanya peringanan dalam menjalankan ajaran agama, sehingga hukum Islam mempunyai tingkat fleksibilitas dalam pelaksanaannya sesuai dengan kondisi yang ada. Fleksibilitas hukum Islam ini menjadi ruh fatwa yang dikeluarkan oleh para ulama yang bertujuan untuk menjaga keselamatan jiwa.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama masalah Covid-19 ini bukan hanya masalah Indonesia saja melainkan juga masalah global hampir lebih dari 200 negara di dunia terkena Covid 19. Semua negara seperti mengalami kesulitan menghadapinya, di negara-negara yang memiliki teknologi kedokteran yang paling canggih sekalipun belum dapat mengatasinya. Hal ini tentu membuat semua pemangku kepentingan di seluruh dunia mengalami kesulitan dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dalam penanganan covid-19 dan cenderung berhati-hati dalam mengambil langkah untuk membuat kebijakan.

Di Indonesia misalnya kita tahu belakangan akan ada kebijakan relaksasi atau pelonggaran PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dengan membuka beberapa sektor transportasi, namun ternyata ada saja protokol kesehatan yang dilanggar. Jadi memang yang menjadi catatan penting adalah si pengambil kebijakan mengalami ambiguitas dalam proses penanganan covid 19, dan ini tak hanya terjadi di Indonesia. Wacana dari presiden tentang istilah kebijakan berdamai dengan covid-19 pun harus di respon dengan baik. Sebab sebagaimana kita sadari bila sebelumnya saja kita “melawan” covid dengan upaya mulai dari melakukan penyemprotan disinfektan, penggunaan masker, hand sanitizer, menambah kelengkapan rumah sakit, dan lain sebagainya semua dilakukan untuk penanganan namun kalau kita lihat hingga kita belum ada tanda-tanda penurunan.

Tb Ace Hasan Syadzily, Anggota DPR RI Komisi VIII

Bagaimana posisi agama? Bahwa kita semua tahu sekarang ini harus mengutamakan akan adanya keselamatan jiwa dan kesehatan kita masing-masing serta masyarakat secara keseluruhan. Akan tetapi keselamatan jiwa tentu perlu ditopang oleh kemampuan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan subtansi. Karena kita tahu selama dua bulanan ini dengan melakukan isolasi mandiri di rumah, ternyata ekonomi kita turun sampai 2,95 dari 5,02 pada kwartal yang pertama ini. Itu memang lebih baik dibanding negara lain seperti Singapura yang minus. Tentu kita harus mencari solusi, bukan hanya tentang menjaga diri tetapi juga bagaimana menjaga ketahanan ekonomi kita itu mampu menopang bagi masyarakat agar bisa bertahan jangan sampai gara-gara mengisolasi diri dan gegera kita semua dirumah masing-masing aktivitas ekonomi terhenti lalu kemudian orang-oranbg bukan mati karena covid19 tetapi mati karena kelaparan. “Pemerintah saya kira tidak sepenuhnya bisa menggantungkan diri pada pemenuhan kebutuhan dasar seperti perlindungan sosial, program perlindungan sosial ini sumbernya keuangan dari aktivitas masyarakat. Kita tahu bahwa ruang fiskal kita, setelah kemarin setelah di setujui PERPU Keuangan tentang Penanganan Covid-19. Kalau ekonomi kita tidak tumbuh dengan baik tentu pastiakan terjadi defisit yang sangat tajam dan itu berimplikasi terhadapa bagaimana menggerakkan ekonomi masyarakat. Apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden Jokowi agar kita berdamai dengan covid-19 ini tentunya harus dirumuskan lebih detail, dengan mencoba kita melakukan upaya pemanfaatan teknologi yang tetap bisa mendorong pelaksanaan ekonomi yang baik.” Ujar Mantan Presiden Mahasiswa IAIN pertama era reformasi ini.

Ia menambahkan, “kita tahu saat ini kita berada di era 4.0, mengharuskan kita semua sesungguhnya dalam menghadapi hambatan-hambatan yang tadinya sulit menjadi mudah dengan menggerakkan articifial intelegent. Bagaimana peran kita semua termasuk perguruan tinggi, bisa menyesuaikan dengan kondisi new normal, implikasinya akan banyak bukan saja terhadap kehidupan ekonomi tetapi kehidupan keagamaan kita. Kemenag misalnya sampai kini masih bingung apakah akan bisa menentukan ibadah haji tahun ini atau tidak, kalau bisa dilaksanakan pun sekarang ini penuh dengan tantangan yang serius.” Tambahnya.

Bambang Prihadi, pakar seni dan Sutradara Lab Teater Ciputat

Bambang Prihadi dari pakar seni memandang, “bahkan sebelum covid ini muncul sebetulnya nilai-nilai keindahan, nilai-nilai kebaikan, dan nilai-nilai kebenaran itu sudah tercerai berai oleh modernitas, kemudian covid-19 telah mengekstremkannya. Maka tantangan kita ke depannya ini  adalah bagaimana kemudian nilai-nilai kebenaran-kebenaran ilmiah, kebaikan dari agama dan keindahan-keindahan dari seni ini memunculkan alternatif baru bagi kehidupan kita yang dalam keadaan new normal. Akan ada standar-standar kesalehan baru setelah covid ini.”

AM Fachir Wamenlu RI Tahun 2014-2019

Kemudian dilanjutkan oleh tanggapan dari AM Fachir, “kita sekarang ini sedang disibukkan dengan berbagai persoalan yang kita hadapi dalam pandemi, karena kita berbicara “pasca” maka yang sekarang kita hadapi ini adalah ujian. Nanti hasilnya itu ada yang bisa jadi gagal, sukses dan macam-macam.” sebutnya. Agama itu menyangkut agamanya sendiri, pemeluk agamanya, hingga bagaimana agama ikut menciptakan peradaban. Ini mungkin pertama kalinya kita merasakan betapa agama begitu sangat berperan dalam menanggulangi masalah. Kita tahu MUI itu yang pertama mengeluarkan fatwa, dari pengaturan tata cara idabah sampai soal mudik. “Ini menurut saya momentum yang sangat tepat untuk menempatkan agama lebih banyak berperan. Yang kedua kita melihat dari sisi pemeluknya kita melihat kegairahan yang luar biasa, saking gairahnya kita melihat bahwa lalu mengesampingkan ketentuan-ketentuan lain tentang agama di berbagai tempat orang tetap saja memaksakan diri melakukan solat berjamaah misalnya. Agama itu punya peran bahkan di tempat-tempat yang bukan mayoritas Islam. Agama ini juga bisa mempersatukan kita, bahwa simbol-simbol agama bisa kita gunakan untuk mengatasi berbagai masalah.” tutur mantan Wamenlu ini.

Jadi oleh karena itu tentu implikasi apa yang disebut new normal ini harus dirumuskan bersama-sama, pendekatannya tentu harus mengedepankan keselamatan jiwa manusia. Yang kedua, semua sektor bukan hanya sektor ekonomi tapi juga sektor agama harus merumuskan protokoler covid-19 yang ketat, tetapi tanpa mengurangi substanti keagamaannya. Dalam hal transportasi pun juga demikian, tantangan-tantangan baru yang perlu dicari formulanya yang tepat di tengah belum ditemukannya vaksin agar kita bisa berdamai sepenuhnya dengan covid 19, hidup harus tetap berjalan.

Selanjutnya diskusi berjalan dengan berbagai tanggapan atau pertanyaan dari para peserta, hingga tak terasa waktu mendekati adzan Magrib. Sebelum adzan kegiatan webinar ini ditutup dengan doa bersama agar kita semua dan bangsa Indonesia bisa melalui cobaan pandemi ini.

Reportase: AY