Ciputat – 29 Januari 2021, – Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melangsungkan webinar yang bertemakan “Ambassador Talk: Pengaruh Sejarah Terhadap Arah dan Karakteristik Turki Saat Ini” pada hari Kamis, 28 Januari 2021 pukul 13.00 WIB. Acara tersebut turut mengundang Duta Besar Indonesia untuk Turki, H. E. Dr. Lalu Muhammad Iqbal dengan dimoderatori oleh salah satu dosen Sejarah dan Peradaban Islam, Usep Abdul Matin, Ph.D.

Usep Abdul Matin, moderator (kiri) dan Saiful Umam, Dekan FAH (kanan)

Sebelum dimulai, acara dibuka terlebih dahulu oleh Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, Saiful Umam, Ph.D. Dalam sambutannya, Saiful menyambut baik tema webinar kali ini dan merasa bahwa mempelajari sejarah Turki sebagai salah satu bagian besar sejarah Islam yang mesti turut diketahui oleh khalayak pada umumnya.

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Amany Lubis)

Selain itu, kondisi negara Turki yang awalnya Islam, lalu kemudian menjadi sekuler, dan yang terakhir sekuler namun partai mayoritasnya Islam menjadi bahasan yang akan menarik untuk dikupas oleh narasumber. Selanjutnya sambutan oleh Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Amany Lubis, MA, juga sangat merespon positif kegiatan webinar dengan mengundang dubes RI di Turki ini. Dirinya juga menerangkan dan berharap semoga kedepannya akan ada kerja sama dan relasi yang baik terkait hal ini antara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan Turki. “Saya berharap setelah kegiatan ini intensitas dan hubungan bilateral kampus kita dengan kedubes di Turki bisa terus berlangsung. Dulu memang kita punya kerjasama yang baik tapi sempat terputus dan mudah-mudahan ini menjadi tonggak untuk menyambungnya kembali.” tuturnya. DIharapkan selanjutnya akan ada penelitian-penelitian, kajian-kajian yang terkait dengan sejarah Turki yang dikaji oleh para akademisi UIN Jakarta. Program beasiswa, pertukaran mahasiswa, dosen tamu, dan lain sebagainya menjadi target untuk dapat ditindaklanjuti pada masa mendatang.

Acara yang berjalan kurang lebih selama dua jam tersebut berjalan cukup kondusif, apalagi antusiasme para peserta pun cukup terlihat baik selama berlangsungnya webinar. Secara mendetail narasumber, yakni Muhammad Iqbal, menjelaskan bagaimana kondisi Turki, semenjak dahulu dengan perspektif sejarah, sampai masa kini dengan perspektif politik untuk mengupas dan membedah Turki saat ini.

Karakteristik Turki Saat Ini

Lalu Muhamad Iqbal

Dalam webinar yang berlangsung, narasumber menerangkan bahwa karakteristik orang-orang Turki sangat jauh berbeda dengan orang Indonesia. Bagi orang Turki; “Yesterday is yesterday, today is today, and tomorrow is tomorrow”. Oleh sebab itu, kita tidak bisa memahami politik Turki dan menyamakan dengan politik Indonesia. Identitas Turki juga selalu berganti-ganti, awalnya mereka Asia, lalu menjadi Eropa, kemudian jadi Asia kembali. Paradoks itu selalu terjadi dalam sejarah Turki.

Politik Turki tidak monolitik, meskipun berhubungan dengan Indonesia dan mayoritas negara Islam, Turki tetap berhubungan dengan Israel. Sebab Turki bukan follower, karena negara ini menegakkan eksistensinya dengan perlahan. Saat ini, kekuatan Turki di NATO menjadi yang terkuat kedua setelah Amerika Serikat.

Tampilan layar video partisipan webinar

Sejalan dengan Turki yang paradoks, Islam di sana juga tidak monolitik. Keputusan yang diambil Erdogan pun selalu dengan latar belakang sejarah, agar dunia Islam memandang Turki sebagai bangsa yang superior dan mengikisnya agar inferior, tujuannya supaya dunia Islam bergantung kepadanya. Acara ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung sangat dinamis, dan berakhir dengan khidmat.