Di Tanah Papua terlebih Papua Barat, orang-orang pada kenal dan sangat akrab dengan MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an). MTQ telah lengket di pikiran dan mengesan di hati. Saya sudah 12 x ke sana untuk tujuan tersebut. Melatih kaligrafi atau jadi juri MTQ. Ajang MTQ selalu dipadati tumpah ruah penonton dan penggembira. Bagi muslim atau non muslim, MTQ benar-benar jadi alat pemersatu. Tapi ada juga beberapa adat-stiadat yang mempersatukan rakyat di pulau Kepala Burung itu.

Di Fakfak dikenal slogan Satu Tungku Tiga Batu. Maksudnya, di satu rumah mungkin saja ada beberapa orang berbeda agama dan kepercayaan. Ada Islam, ada Kristen, ada Hindu atau animis. Di Raja Ampat lain lagi: Satu Rumah Empat Pintu yang maksudnya sama. Maka, terjadilah SALING KUNJUNG kepada saudara berbeda keyakinan di hari-hari raya masing-masing. Mereka juga saling tolong seperti adat Pela Gandong di Maluku.

Nah, inilah kisahnya. Di hari raya IDUL FITRI, keluarga Kristen berencana mengunjungi keluarga Muslim saudaranya. Mereka nenteng oleh-oleh. Tidak lupa juga ngapalin dulu ucapan selamat IDUL FITRI “Minal ‘aidin wal faizin…..,”
Minal ‘aidin wal faizin…..,” “Minal’aidin walfaizin…..” Diulang-ulang persis ngapalin pelajaran mahfuzhot atau hapalan tajwid.
Di rumah keluarga Muslim, kesibukan tampak luarbiasa. Tamu-tamu keluar masuk. Antara ucapan selamat dan canda berbaur jadi satu. Ini bikin keluarga Kristen yang baru datang rada grogi dan keder. Ucapan selamat yang sudah berpayah-payah dihapal juga jadi lupa. “Aduh apaaaaa ya?” pikir bapak ketua rombongan. Jarak dengan tuan rumah tambah dekat saja. Tinggal 3 jengkal. Puji Tuhan, akhirnya ingat juga lalu spontan terucap:
“Selamat ber- Musaaaaaabaqah Tilawatil Qur’an, Ahmad Koseppa!” Tangan kanannya disodorkan.
“Terimakasih, Robertus khi…khi…khi…. Mari duduk, khi….khi…khi”

😆😄😁 Tertukar ! Minal ‘aidin wal faizin jadi Musabaqah Tilawatil Qur’an.😆🤣 GPP yang penting HAPPY. Tujuannya juga sama koq.

(DidinSirojuddinAR•Lemka)