Teater Bustami Abdul Ghani, Fah News- Sejumlahmahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) mengikuti Worksop Diplomasi Luar Negeri dengan tema Peran Diplomasi Luar Negeri bagi Kejayaan Bangsa: Sistem dan Prosedur, digelar di teater Prof. Dr. Bustami Abdul Ghani lantai 5, Kamis (01/11), dengan narasumber alumni Bahasa dan Sastra Arab (BSA), Harun Saifullah Syafa. Acara ini bertujuan untuk Memberikan gambaran dan wawasan kepada mahasiswa tentang diplomasi luar negri.

Dekan FAH, Syukron Kamil, dalam sambutanya menjelaskan pentingnya mengikuti acara tersebut bagi mahasiswa untuk memberikan pemahaman dalam berdiplomasi, agar mahasiswa memiliki keahlian dan dapat menjadi diplomat “Mahasiswa harus memiliki keahlian lain, selain jurusan yang digelutinya, dan diplomasi bagian dari keahlian yang bisa dikuasai oleh mahasiwa FAH, jadi tidak menutup kemungkinan mahasiswa FAH bisa bekerja di kementrian luar negri (kemenlu), menjadi diplomat”.

Menurut Harun, menguasai bahasa internasional adalah syarat yang mutlak, begitu pula dengan pengetahuan wawasan global tentang isu nasional dan internasional. Khusus negara Timur Tengah, dari 22 negara Arab, Indonesia memiliki 18 perwakilan, selebihnya Indonesia tidak memiliki perwakilan karena negara lain masih banyak konflik dan Indonesia tidak memiliki banyak kepentingan. maka Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) membutuhkan sumber daya manusia yang memahami dan mengerti keislaman dan kearaban, demi pelayanan kepentingan negara.

Isu keislaman dan negara Arab masih menjadi perhatian menarik bagi dunia, maka kesempatan dan peluang menjadi Kemenlu semakin besar untuk mahasiswa FAH, terutama mahasiswa jurusan BSA. BSA memiliki porsi yang lebih tinggi dibandingkan jurusan sastra lainya, karena dinilai mampu menyuarakan Islam yang rahmatan lil alamin, dan Warga Negara Indonesia (WNI) banyak bekerja di Timur Tengah, tugas dari kemenlu untuk melayani WNI di berbagai negara tersebut, Tegas Harun.

Workshop diplomasi juga memuat tiga sesi, sesi seminar, sesi simulasi dan pengambilan keputusan, serta sesi diskusi dan tanya jawab sistem dan prosedur menjadi diplomat.
Dalam sesi simulasi dan pengambilan keputusan peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Peserta dituntut untuk memberikan argumen yang menyakinkan. Harun memberikan dua pernyataan yang harus dibantah oleh peserta. Pernyataan tersebut mengenai sistem toleransi Indonesia yang dinilai masih kurang, dan pernyataan kedua memuat isu bahwa UIN menjadi sarang institusi radikal.

Harun menekankan bahwa menjadi diplomat harus mampu memberikan argumen yang kuat dan menyakinkan, “beragumen tanpa dasar itu mudah, berargumen tanpa data tentu hanya omong kosong, menjadi diplomat harus kuat dalam berargumen, memberikan argumen tidak semudah asal bicara diwarung kopi, maka pentingnya data dan refrensi”.

M. Miratul Hayat, Mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam, sangat antusias mengikuti acara ini, bahkan dia menjadi salah satu pembicara pada simulasi pengambilan keputusan dalam diplomasi “acara ini sangat bagus, acara ini mampu membuka wawasan bagi mahasiswa, sehingga kita tahu tujuan dan manfaat diplomasi, sekalipun kita tidak konsen dalam diplomasi, namun sebagai mahasiswa kita harus tahu tata cara diplomasi terlebih lagi negara kita sering melakukan hubungan bilateral,” ujar lelaki yang sering disapa Amir.

(Anis. P)