Ungkapan ini tampaknya mengiringi perjalanan 5 mahasiswa FAH sebagai mahasiswa yang terbaik pada wisuda ke-111 ini. Keterbatasan secara ekonomi benar-benar menjadi sumber motivasi yang sangat kuat bagi mereka untuk menemukan kemudahan dalam setiap kesulitan yang dihadapi. Firman Allah SWT “Sungguh pada tiap kesulitan itu disertai kemudahan” yang diulang sampai dua kali dalam QS. Al-Syarh/94:5-6 terbukti adanya.

Terbaik Fakultas Wisuda ke-111

     Adalah Hanif Azhar, mahasiswa program studi Tarjamah mendapatkan predikat Cumlaude dengan Indeks Presetasi (IPK) 3,88. Dengan IPK tersebut, Hanif Azhar sekaligus berhasil menjadi yang terbaik pada tingkat Fakultas Adab dan Humaniora pada wisuda ke-111 kali ini. Hanif Azhar lahir di Tuban, 11 Desember 1995 juga dari keluarga yang sangat sederhana. Berbekal dawuh kyainya, “Hidup itu untuk menjalani kesulitan,” Hanif bertekad untuk berjuang di kota Jakarta. Di Jakarta, Hanif aktif dalam berbagai organisasi intra dan ekstra kampus sambil bekerja untuk membiayai diri dan kuliahnya. Di intra kampus, ia pernah aktif di HMJ Tarjamah dan anggota senat UIN Jakarta dan di ekstra kampus juga aktif di Institute of Democracy & Education Jabodetabek sebagai Sekjen, Perkumpulan Mahasiswa Tuban Jabodetabek (PERMATA) sebagai Bendahara Umum. Selain aktif, Hanif juga bekerja dan terakhir sebagai Asisten Manager Konten Aplikasi Nutizen (PT. Nutizen Digital Media Indonesia), Desainer Grafis BincangSyariah.com dan Pekerja Lepas beberapa instansi. Saya juga tergabung dalam Tim Penyusunan Buku Moderasi Beragama Kementerian Agama RI & Indonesian Muslim Crisis Center.

    Zakariyal Mihrob berhasil menjadi yang terbaik di prodi Bahasa dan Sastra Arab dengan IPK 3,86 (Cumlaude). Zakariyal lahir di Tangerang pada tanggal 23 Juni 1995, anak ketiga dari empat bersaudara. Zakariyal lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, kedua orangtuanya tidak memiliki pekerjaan tetap, ayahnya hanya seorang guru ngaji dan ibunya berjualan nasi. Namun, kedua orangtuanya selalu memotivasi dan mendukung semua anak-anaknya untuk sekolah dengan bekerja keras dan sabar untuk mencapai cita-cita. Zakariyal tidak hanya kuliah tetapi juga sangat aktif dalam berbagai organisasi intra dan ekstra. Selain aktif di HMJ BSA dan senat mahasiswa Fakultas, Zakariyal juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Studi Arab Se-Indonesia (IMASASI), FATIHA, serta AIESEC, dan hampir di semua organisasi tersebut menjabat sebagai bagian penting sebagai ketua atau wakil ketua. Semua ini ia lakukan dengan baik karena memegang prinsip “jika sudah memilih salah satu jalan, maka loyalitas dan komitmen harus dijunjung, dengan memberikan yang terbaik dan meninggalkan jejak baik bagi setelahnya.”

   Keberuntungan yang kurang lebih juga dialami Lismaya Yakutati Ismatilah. Lisma berhasil mendapatkan  IPK 3,86 dengan predikat Cumlaude dan terbaik di prodinya. Lisma lahir di Tangerang, 11 Juli 1997 sebagai anak sulung dari 6 bersaudara. Bagi Lisma, kuliah di Universitas Negeri yang dulu hanya mimpi, tetapi ternyata dengan indahnya dikabulkan oleh Allah SWT. Melewati tes demi tes masuk UIN, soal-soal yang luar biasa sulitnya, dan Boooooooooom… Allah SWT akhirnya berkata “Aku wujudkan mimpimu untuk kuliah di Perguruan Tinggi Negeri”. Baginya, setiap orang pasti punya cara belajar sendiri yang membuatnya nyaman, termasuk dirinya. Lisma adalah tipe orang yang akan belajar dan mengerjakan tugas sebelum deadline, karena menurutnya, mengerjakan tugas saat deadline sudah dekat pasti akan kurang maksimal. Satu hal yang paling berpengaruh dari pencapaian Lisma adalah dengan adanya kelompok belajar di kampus. Prinsipnya, “do the best, don’t feel the best.”

    Rabiatul Adawiyah yang berhasil mencapai predikat terbaik tingkat Prodi Ilmu Perpustakaan berasal dari keluarga sederhana. Mahasiswa yang akrab dipanggil Oby ini sejak tingkat sekolah dasar telah mendapatkan beasiswa, termasuk di UIN Jakarta hingga akhirnya mendapatkan predikat Cumlaude dengan Indeks Prestasi 3,85. Oby lahir di Jakarta pada tanggal 19 Juli 1996 sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara. Ayahnya seorang tukang pijat saraf dan ibu sebagai ibu rumah tangga. “Meskipun saya tidak memiliki uang untuk pergi berjalan-jalan dan mengunjungi banyak tempat, sebagai gantinya saya mulai dapat mengenal dan melihat dunia yang luas ini dari membaca,” katanya. Oby tergolong pribadi yang aktif dengan kepribadian interpersonal dan linguistik, beberapa kali mengikuti lomba semasa sekolah hingga kuliah, mulai dari lomba pidato, baca puisi, story telling, hingga olimpiade.

    Semangat belajar karena termotivasi untuk bisa ke New York seperti ibunya tetapi terkendali dana dialami Alyssa Ibrati. Semangat ini membuatnya berhasil menjadikan dirinya sebagai mahasiswa terbaik pada prodi Sastra Inggris dengan IPK 3,69 (Cumlaude). Alyssa yang lahir di Jakarta pada 25 April 1996 ini sedikit lebih beruntung dibandingkan dengan 4 kawannya yang terbaik di prodinya masing-masing. Sejak kecil, Alissa sudah akrab dengan Disnay Channel di rumahnya, dan kedua orangtua masing-masing fasih dalam Bahasa Inggris. Ketika diminta untuk menulis tentang dirinya, Alyssa menulis dalam Bahasa Inggris karena merasa lebih mudah dengan bahasa tersebut dibandingkan dengan Bahasa Indonesia, sampai-sampai ia menulisnya dengan judul “My Love-Hate Relationship with English.” Bagi Alyssa, bahasa Inggris tidak sekadar menjadi guru atau penerjemah, tetapi ia adalah bahasa komunikasi yang dapat meraih banyak hal dengannya. Pesannya “Keep believing in yourself. It may be a long journey, but as long as you have a goal and determination, you will get there eventually (Tetaplah percaya pada diri sendiri. Mungkin perjalanan akan panjang, tetapi selama Anda memiliki tujuan dan tekad, Anda akan tiba pada waktunya).