Salatiga – Jawa Tengah, 5/09/2019 – Sembilan orang pengelola jurnal Insaniyat, yakni Dr. Ida Farida, MLIS,. Muh. Azwar, M.Hum,. Ida Rosida, M.Hum,. Evi Zakiyah, M.Hum., Akhmad Yusuf, S.Hum,. dan empat orang mahasiswa volunteer (Azmi Fadli, Dana Nurrahmatika, Melinda dan Latifah) berkunjung ke IAIN Salatiga untuk melakukan visitasi. Dipilihnya IAIN Salatiga bukan tanpa alasan, mengingat pada 31 Mei 2019 Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS) merupakan satu-satunya jurnal PTKIN yang mendapat predikat the best Quartile 1 (Q1) di Scimago Journal Rank (SJR) untuk bidang Religious Study.

Rombongan Tim Insaniyat ini bertandang ke Salatiga dengan agenda Workshop dan Focus Group Discussion (FGD) Pendampingan Akreditasi Jurnal dan Indesksasi Scopus menuju Sinta 1. Acara yang dihelat selama dua hari, dari Rabu hingga Kamis, 4-5 September 2019 ini berjalan dengan lancar dan sukses. Editor in Chief Journal Insaniyat, Dr. Ida Farida menuturkan, “kegiatan visitasi ini penting bagi pengembangan jurnal, Insaniyat sudah terakreditasi Sinta 3 dan sedang mengajukan akreditasi kembali tahun ini semoga hasilnya bisa meningkat.” Ida yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan bidang Akademik FAH menambahkan, “kita perlu belajar ke beberapa jurnal yang berpengalaman dan bereputasi seperti IJIMS ini, target ke depan Insaniyat bisa betul-betul menjadi jurnal internasional”.

Foto bersama dengan Direktur PPS IAIN Salatiga yang juga Editor IJIMS, Prof. Dr. Asfa Widiyanto

Kedatangan Tim Insaniyat disambut baik oleh pengelola IJIMS, Direktur Program Pascasarjana IAIN Salatiga, Prof. Dr. Asfa Widiyanto, menyambut gembira kehadiran rombongan Insaniyat. Baginya sebuah kehormatan dikunjungi oleh Insaniyat, “semenjak IJIMS meraih Q1 menjadi pemicu para pengelola jurnal di PTKI untuk bisa belajar dan berbagi pengalaman dengan kami, bagi kita tentu ini menjadi kebanggaan IAIN Salatiga khususnya dan Indonesia umumnya semoga ke depan kualitas pengelolaan jurnal semakin baik” paparnya.

Dr. Muhammad Irfan Helmy, Lc. MA (tengah) ketika memaparkan materi

Selama dua hari, workshop dan FGD dihadiri dua orang pembicara yang memang “ORIGINAL” alias “orang gila jurnal” yang notabene pengelola jurnal IJIMS itu sendiri. Pertama adalah Dr. Muhammad Irfan Helmy, Lc. MA, (Editor IJIMS/Ketua LPM IAIN Salatiga) membahas tentang pengalaman IJIMS dari awal sampai terakreditasi dan ada di posisi sekarang. Dalam waktu kurang dari satu dekade prestasi yang ditorehkan IJIMS memang luar biasa, pertama kali didirikan pada 2011, kemudian terakreditasi Kemendikbud di 2014, masuk Scopus tahun 2017, dan menjadi jurnal Q1 di 2019. Jurnal yang didirikan oleh Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy (Rektor IAIN Salatiga kini) – sekaligus Editor in Chief IJIMS dalam perjalanannya memang tak seindah capaiannya sekarang, suka duka dalam mengelola jurnal dirasakan betul oleh pak Irfan. Point’ utama yang disampaikannya dalam mengurus jurnal kita harus memperhatikan “quality, diversity and relevancy” sampai menuju “successful journal selection” di Scopus.

Noor Malihah,Ph.D (kanan) ketika berdiskusi dengan pengelola Insaniyat

Materi kedua tentang pendampingan menuju jurnal terindeks Scopus yang disampaikan oleh Noor Malihah, Ph.D selaku Managing Editor dari jurnal IJIMS. Secara umum ia menyatakan jurnal Insaniyat tampilannya sudah eye-catching, beberapa kriteria jurnal internasional sudah ada pada Insaniyat, misal dari ragam penulis dari luar negeri, penggunaan bahasa Inggris di jurnal (walaupun dengan kombinasi bahasa Arab), rutinitas terbitan dan full OJS (online journal system) dalam operasionalnya. Namun menurutnya ada satu hal besar yang mesti jadi perhatian Insaniyat yaitu soal focus and scope jurnal. Konsistensi menjaga kualitas artikel, sistematis dan kesabaran dalam menyeleksi naskah akan menjamin reputasi dan pengakuan internasional. Ia pun memberi tips, “jurnal bisa dikatakan internasional apabila ada minimal dua orang dari negara yang berbeda dalam tiap terbitan di jurnal itu sudah bisa dikategorikan internasional” katanya. “Untuk Insaniyat tinggal butuh polesan sedikit, ketekunan dan kesabaran pengelola memperbaiki kekurangannya saya yakin step by step Insaniyat bisa naik ke Sinta 2, Sinta 1 dan seterusnya”, pungkasnya.

Setelah workshop dan evaluasi, tanya jawab seputar pengelolaan maupun isi jurnal berjalan dengan antusias, pengelola Insaniyat mendapat banyak saran dan masukan dari pengelola IJIMS untuk perbaikan tata kelola. Harapannya tentu agar semakin banyak jurnal di Indonesia yang memiliki reputasi dan kualitas internasional. (AY)

Tim Insaniyat berfoto di depan Landmark IAIN Salatiga