Ahmad Dhani dan Logo Dewa 19

Lukisan cat minyak berjudul _Perahu Lomba Menuju Kebaikan_ ini dibuat tahun 2002 di kanvas berukuran 50 x 60 cm. Dominasi warna biru memvisualkan warna laut dan langit yang bertemu dengan garis batas mega yang bergumpal-gumpal. Tapi, biru juga adalah warna surga yang jadi tujuan _al-awwalu wal akhiru_ setiap kompetisi meraih kebaikan.

 

Lukisan kecil berisi seruan ayat Alquran _”Berlombalah dalam kebaikan”_ ini mungkin, secara kebetulan, dipamerkan dalam peristiwa besar yang mengguncang jagat musik dan prasangka penistaan terhadap agama. Di tahun 2005 itu, grup musik pop Dewa kesandung tuduhan “menghina” Allah dalam sebuah pentas televisi swasta karena menginjak logo Laskar Cinta *ALLAH* dalam karpet yang dihamparkan oleh manager Republik Cinta. Pertama melaporkan kejadian tersebut adalah Ustaz K.H. Wahfiyuddin yang menonton pertunjukan tersebut. Gugatan yang pantul-memantul menambah geger “kecelakaan” para pelantun lagu *Laskar Cinta* karangan Ahmad Dhani pentolan grup Dewa.
Tuntutan (terutama oleh ormas-ormas Islam) agar Ahmad Dhani diadili dan diseret ke penjara tambah kencang. Berita-berita di medsos juga semakin bergemuruh. Sampai, akhir cerita, bada Jum’atan itu saya dipanggil Polda Metro Jaya untuk dimintai keterangan dan pendapat sebagai saksi ahli.
“Bagaimana menurut Pak Sirojuddin sebagai saksi ahli, apakah sampai di sini saja atau perkara ini diteruskan sampai pengadilan? Tentu dengan alasannya,” tanya interogator.
“Tidak perlu dilanjutkan, Pak,” jawab saya. “Apalagi menurut pendapat saya Si Dhani itu tidak mungkin sengaja bermaksud menghina Allah. Dia sekawan itu nginjak logo yang dihamparkan oleh panitia, seperti petinju menginjak logo Don King. Mana dia berani menghina Tuhan. Yang berani menghina Tuhan itu hanya komunis atau atheis. Dhani itu tukang ibadah, sangat tahu agama, memahami filsafat dan tasawuf. Jadi sebaiknya tak diteruskan.” Dan, Dhani memang bebas.
Lho, apa hubungannya dengan lukisan saya? Tidak lama sesudah itu, dalam pameran kaligrafi di Hotel Sahid, Jakarta, Dhani saya todong: “Dhan, tolong beli lukisan saya.” — “Yang mana, Pak Didin?” Dhani nanya yang langsung saya tunjuk ayat _”fastabiqul khairat”_ (فاستبقواالخيرات). Harga lukisan itu 5 juta, tapi Dhani membayarnya 7,5 juta. Ahmad Dhani pun “membebaskan” lukisan itu dari “tahanan rumah” saya. Jadi, hanya waktunya yang berdekatan dengan huru-hara *Laskar Cinta*. Hanya kebetulan. 😄🔲

 

Oleh: Didin Sirojuddin AR (LEMKA)