Jangankan ayat-ayat ALQURAN berbaris-baris, menulis TITIKnya saja sudah berpahala. Terutama kalau ditulis dengan KALIGRAFI yang indah. Seperti dianjurkan oleh Imam Ali RA:

عليك بحسن الخط فإنه من مفاتيح الرزق

(Hendaknya engkau memperindah kaligrafimu, karena KALIGRAFI termasuk kunci-kunci rezeki).

Saat harga-harga sembako melambung (biasa dah mau lebaran!) Abu Nawas yang tak punya uang 1 dirham pun (sampai langit-langit dapurnya pun tak mengepulkan asap), mencari akal lalu dibuatnya tulisan KALIGRAFI besar di atas menara: الملك الرجيم / Almalikur Rajim (yg artinya “Raja terkutuk”).
“Kurang asem! Ini HOAX. Memelintir fakta menjadi kenyataan, e maksud saya memutarbalikkan fakta!” — Baginda Khalifah Harun Al-Rasyid murka bukan bikinan.”Sembako cukup ngaku gak punya sembako. Negeri Bagdad segini makmurnyaaaaaa, walah.” Baginda lalu memerintahkan penangkapan Abu Nawas untuk dikriminalisasi, eh, diinterogasi dan diklarifikasi, bila perlu langsung dihukum sebagai pelaku makar ekonomi.
Tapi, saat Tim Baginda merecheque ke TKPP (Tempat Kaligrafi Punya Perkara), mereka justru menemukan tulisan الملك الرحيم / Almalikur Rahim (yang artinya “Raja pemurah”). Rupanya, Abu Nawas (lahir 145 H) yang sohor di Dunia Sastra Arab dengan julukan شاعرالبلاط / sya’irul bilath alias “penyair istana” Bagdad kesayangan Harun Al-Rasyid itu, diam-diam telah memupus titik “JIM sial” (جـ) hingga berubah jadi huruf “HA” (حـ). Mau dibilang apa lagi, Khalifah Abbasiyah yang dikenal pecinta ilmu itu jadi babalik pikir karena dibuat “pusing lebih 7 keliling” dan segera mengeluarkan Keppress (Keputusan pengobat stres): “Keluarkan satu karung gandum untuk Abu Nawas! Wallahi Si Abu orangnya baik dan pintar kok.”
Gara-gara titik, Abu Nawas malah dapat hadiah besuaaar. Satu titik diganti sekarung gandum. Asyiiiiiiik. Boleh juga dicoba tuch.

 

(Didin Sirojuddin AR•Lemka)