Palembang, menjadi tempat diselenggarakannya Seminar Sejarah Sriwijaya dan Poros Maritim Dunia. Seminar yang di mulai pada 6 hingga 9 Agustus 2018 tersebut menampilkan 62 orang pembicara yang terdiri dari 12 orang pembicara utama dan 50 orang pembicara call of paper yang berasal dari instansi pemerintah, akademisi, dosen, guru, mahasiswa, budayawan dan komunitas. Bertempat di hotel Aryaduta Palembang, Sumatera Selatan, acara yang diadakan oleh Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan berlangsung meriah.

Salah seorang pemakalah yang tampil mempresentasikan papernya pada acara itu adalah Akhmad Yusuf, staf Dekanat FAH UIN Jakarta. Yusuf menulis tentang Sriwijaya dalam perspektif ekonomi, makalah yang berjudul “Sriwijaya dan Poros Maritim, Kajian Atas: Jaringan Perniagaan Kerajaan Sriwijaya pada Abad ke VII – XI” itu dipaparkan olehnya pada hari kedua seminar dalam parallel session. Dalam kesempatan itu, Yusuf menyampaikan bahwa betapa pentingnya Sriwijaya ketika menjadi penghubung antar wilayah baik lokal maupun internasional. Kerajaan ini seolah menjadi penguasa pada masanya selama lebih kurang 6 abad. Sriwijaya dikenal sangat terbuka akan berbagai diplomasi, negosiasi dan tawar menawar kerja sama terutama dalam biang ekonomi dan pelayaran. Namun sekarang seolah hanya tinggal kenangan manis saja dalam ingatan masyarakat kita. Saat ini bekas-bekas penginggalan kerajaan Sriwijaya sedikit demi sedikit seolah musnah ditelan bumi, karena kurangnya perhatian dari pemerintah dan kepedulian masyarakat. Bekas-bekas peninggalan kerajaan Sriwijaya perlu diselamatkan agar ke depannya masih bisa disaksikan anak cucu kita.

Output dari kegiatan seminar yang telah berlangsung itu ada tujuh poin, yakni; perlu pembentukan pusat studi Sriwijaya, penggalian sumber-sumber asing di berbagai negara, perlu peraturan daerah yang mengatur tentang penyelamatan cagar budaya, penguatan tindakan penyelamatan cagar budaya dan lingkungan, perlu pengkajian nilai-nilai budaya komunitas indigenous, penyebarluasan pengetahuan sejarah melalui teknologi dan media digital, serta pengkajian lebih intensif tentang kemaritiman. Diharapkan nama besar Sriwijaya dalam mengelola sistem pemerintahan, pertahanan, dan perdagangan mampu menjadi inspirasi dan pembelajaran bagi bangsa kita dalam memasuki era milenial. (AY)