FAH News, Ciputat.

FAH UIN Jakarta menyambut mahasiswa baru dengan mengadakan Studium General dan bedah buku “Dari Tahapan Tradisi ke Transformasi: Sejarah Fakutlas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta” di Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution UIN Jakarta (Rabu, 13/09/2017). Bedah buku ini disampaikan langsung oleh penulisnya, Sukron Kamil dan Setyadi Sulaiman.

Beberapa point penting yang disampaikan oleh penulis yang sekaligus dekan FAH saat ini, antara lain bahwa buku yang diterbitkan oleh Adabia Press ini, lahir dari keprihatinan akan tidak adanya buku sejarah FAH yang utuh. Kenyataan ini merupakan ironi mengingat FAH telah berdiri sejak 1960, lebih dari setengah abad lamanya.

 Sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam, lanjut Sukron Kamil, FAH dengan kiprah lembaga dan alumninya yang mencapai level internasional patut untuk ditulis. Kemasalaluan FAH telah dipimpin oleh 12 orang dekan dengan segala kontinuitas dan perubahan yang ada di dalamnya. Pada tahun-tahun awal hingga 1998, tujuan FAH didirikan yang ketika itu bernama Fakultas Adab di bawah Akademik Dinas Ilmu Agama (ADIA) maupun setelah berubah menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) adalah untuk menciptkan ulama intelektual dan ini terus berjalan hingga kini. Maka, pada tahun 1998 IAIN dengan with wider mandate, berkembang tujuannya untuk menciptakan intelektual ulama, yang tidak hanya menguasai ilmu kemoderenan tetapi juga tidak tercerabut dari ilmu-ilmu keislaman  yang menjadi ciri khasnya. Perubahan ini semakin tampak dengan berubahnya IAIN menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) sejak tahun 2002. Dalam buku ini, masa ADIA hingga IAIN tahun 1998 disebut dengan tahapan tradisi, dan sejak perubahan menjadi IAIN with wider mandate dan UIN pasca tahun 1998 disebut dengan tahapan transformasi.

Secara metodologis, kata Sukron Kamil, buku ini tidak seperti buku sejarah yang kuat visi monodisiplinernya, yang menekankan pada intrinsikalitas teks sejarah semata, melainkan juga ekstrinsikalitas dengan pendekatan multidisipliner dan tidak rigit menjadikan dekan sebagai tokoh sentral.

Sebagai pembedah buku ini, tampil Fachry Ali, seorang pemerhati masalah-masalah sosial, ekonomi dan politik sekaligus seseorang yang pernah mengecap bangku kuliah di FAH. Fachry Ali menyoroti pentingnya menulis sejarah FAH dengan konteks melihat posisinya dalam percaturan dan perkembangan sosial politik yang mengitarinya. FAH lahir sebagai respons atas perlawanan kepada kolonialisme Barat dan sebagai dampak pembaruan pemikiran yang terjadi di Mesir. Demikian pula ketika IAIN berubah menjadi UIN yang tidak terlepas dari keinginan untuk menjadikan kajian keislaman tidak terpisah dari kajian dan disiplin ilmu lainnya. Islam adalah sumber ilmu pengetahuan sekaligus sumber nilai yang tidak bisa dan tidak boleh dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia sebagai negara yang menerima keragaman dalam wadah NKRI yang berasaskan Pancasila dan UUD 1945.

Studium General ini selain diikuti sekitas 750 mahasiswa, terutama mahasiswa baru, juga dihadiri para sesepuh FAH, antara lain Prof. Dr. Nabila Lubis, Prof. Ridho Masduki, Prof. Drs. Chotibul Umam, Prof. Dr. Fathurrahman Rauf. Selain itu, acara ini juga dihadiri para dosen dan alumni. Alumni yang turut hadir dan memberikan terstimoni tentang keunggulan FAH antara lain Mauluddin Anwar, Direktur Pemberitaan SCTV dan Dr. TB Ace Hasan Syadzili, anggota DPR RI komisi II dari partai Golkar.