Ciputat- Tari Saman adalah tarian tradisional masyarakat Gayo atau suku Gayo yang mendiami Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Tenggara, dan masyarakat Gayo yang berada di Kabupaten Aceh Timur (daerah Lukup atau Serbejadi). Berdasarkan penuturan yang dihimpun dari berbagai bahasa yang berdomisili di Gayo Lues, asal kata Saman yang berasal dari nama ulama yang mengembangkan agama Islam di daerah Gayo yang bernama Syeh Saman. Dari nama ulama inilah yang dilakukan oleh masyarakat di masa itu disebut Saman. Dari negara yang biasa ini dapat pula dipelajari bahwa tarif Saman sudah dimulai sejak agama Islam mulai masuk ke dataran tinggi Gayo. Namun, kapan tahun yang pasti belum ada data yang tertulis.Ada juga yang mengatakan bahwa kesenian Saman berasal dari kata Arab yaitu Saman yang berarti delapan.

Tari Saman adalah salah satu tarian tradisional yang sudah dikenal luas bahkan sampai mancanegara. Oleh karena itu  Tari Saman menjadi daya tarik banyak orang, termasuk di dalamnya adalah mahasiswi dan agama Islam Fakultas Adab dan Humaniora (SPI FAH) yang tergabung dalam Komunitas Saman SPI, komunitas ini muncul beberapa bulan yang lalu. karena ketertarikan terhadap seni tari dan karena didorong oleh pengurai Himpunan Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam (HMJ SPI) 2017 yang saat itu diketuai oleh Muhammad Isnaini. Melihat antusiasme mahasiswa baru, rekruitmenpun dilakukan oleh para pendirinya yang pada saat itu digawangi oleh Wakil Ketua HMJ SPI Rahmita Ramadhani. Sampai saat ini, jumlah anggotanya ada sebelas orang, yaitu: Gusti Meidiana imani,Alifia Mas’ud, Alya Zahara, Eviatul Ma’muroh, Zulfi Wilda Tuahuns, Fitriyani, Naila sari S, Nurafrida Mayrilyzkya Putri, Latifah, Lutfia Wardah, dan Indah Suci p. Meskipun baru sembilan bulan berdiri, komunitas Saman ini telah melakukan beberapa acara di luar kampus misalkan, lomba saman yang diselenggarakan oleh Faklutas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (FISIP UMJ) pada bulan Mei lalu, lomba yang diadakan di Mall Cinere di bulan yang sama , dan mengisi acara bulan Ramadhan di Cipinang Mall. Untuk penampilan di lingkungan FAH sudah dua kali yaitu, PBAK jurusan dan seminar internasional kesusasteraan (24/9/2018). 

Alifia mengatakan untuk membuat kekompakan tim, membutuhkan waktu yang lama dan usaha yang keras serta latihan yang rutin. Pasalnya sebagai mahasiswa yang masih punya banyak orang kuliah sulit untuk mencari waktu yang tepat agar tidak membungkuk antara latihan dan kuliah. “Kesulitan kami adalah menyocokan jadwal kuliah dengan waktu latihan agar tidak membungkuk dan sampai saat ini Saman SPI berada di bawah naungan HMJ SPI, ya seperti lembaga seni otonom”, ujar Alifia.

Meidiana menambahkan, untuk menambah jumlah anggota mereka menggelar open recruitment dengan sosialisasi ke kelas-kelas. “Karena banyak mahasiswa baru, sekarang kami membuka pendaftaran untuk yang mau gabung, biar keliatannya rame juga”, kata Meidiana.

Komunitas Saman SPI ini sebenarnya adalah komunitas saman yang paling muda, karena sebelumnya sudah ada yang mendahuluinya, yaitu di jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dan Ilmu Perpustakaan. Jadi sebenarnya di lingkungan FAH ini ada tiga grup atau komunitas saman. Alifia dan Meidiana berharap bisa tampil bersama di salah satu acara yang diselenggarakan oleh FAH sendiri. “Kami berharap bisa tampil bareng, terutama tampil di fakultas sendiri dan kami harap fakultas bisa mendukung penuh saman agar  berkembang di FAH yang notabene orang mengenal FAH adalah fakultas yang kental dengan budaya,” ungkap Alifia.