Kini, Indonesia dan dunia dilanda disruption, sebuah era di mana inovasi baru yang berbasis dan berorientasi pada pengembangan teknologi informasi (IT) telah mengacaukan bisnis, bahkan mematikan bisinis yang telah ada selama ini. Isitilah disruption sebanding dengan istilah revolusi, yang bukan hanya mengacaukan atau mengubah tatanan bisnis yang konvensional, melainkan juga tatanan sosial politik, budaya, termasuk di dalamnya tatanan kerja. Dalam tatanan bisnis, disruption bisa dilihat dari fenomena Uber, Gojek, Grab, atau Airbnb. Semuanya merupakan salah satuh contoh disrupsi yang mengacaukan bisnis transportasi konvensional. Bisnis Gojek bahkan belakangan merambah pada bidang lain dengan lahirnya Gosend, Gofood, dan lain-lain. Kehadiran kelembagaan tersebut sebagaimana sebelumnya fenomena ponsel berbasis android yang dikembangkan Apple juga Samsung telah mengalahkan Nokia dan Blackberry yang berbasis teknologi lama. Sistem ekonomi/bisnis berbasis TI pun kini dikenal sebagai sistem ekonomi berbagi. Berbisnis transportasi kini tidak harus memiliki armada transportasi yang banyak seperti dialami Gojek. Dia berbagi dengan kelembagaan atau pihak lain dalam menjalankan bisnisnya.

Dalam tatanan sosial politik, kini juga banyak terjadi guncangan lewat berkembangnya media sosial, misal Facebook dan Twitter. Perubahan sosial politik di Timur Tengah lewat peristiwa Arab Spring memperlihatkan hal itu. Perubahan sosial politik seperti di Tunisia digerakkan oleh media sosial, terutama Facebook. Meski Tunisia adalah negara yang berhasil mengalami transisi menuju demokrasi yang baik, negara lainnnya di Timur Tengah hingga kini masih bergejolak, karena tidak siap mengalami disruption. Dalam teori politik kontemporer dikenal juga adanya monitory democracy. Monitory democracy adalah era demokrasi saat ini dengan aktor utama masyarakat sipil, bukan saja kelembagaannya seperti CSO (Civil Society Organization) melainkan juga masyarakat biasa. Mereka lewat media sosial, seperti Facebook dan Twitter tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bekerja sebagai kekuatan vital yang mengontrol, mengawasi, dan mengepung seluruh lokus kekuasaan dan tatanan politik yang eksis, baik terhadap kelembagaan negara maupun nonnegara.

Bahkan, kini disruption juga mengguncang jagat kerja. Kini kelembagaan pemerintah ataupun nonpemerintah yang akan berkembang dan dinilai berprestasi adalah yang bekerja dengan berbasis TI, atau dikenal kerja berbasis daring. Kini disruption mengepung hampir seluruh lokus kehidupan.

Hubungan dengan puasa

Pertanyaannya, apa hubungan disruption dengan puasa? Secara umum, bisa dikatakan puasa juga disruption, guncangan dan kekacauan yang mengganggu dan mengubah kebiasaan dan ketergantungan manusia sebagaia makhluk biologis yang membuatnya menjadi anak material. Minimal mereka mengalami ketergantungan terhadap makann, minum, dan hubungan badan. Mereka terbiasa harus mendapatkannya sesuai kebudayaannya, baik dalam jadwal, jenis, maupun caranya. Jika tidak, mereka bisa kalap, bersikap seperti binatang. Dan puasa mengguncang kebiasaaan ini dengan keharusan menahan diri dari kebiasaan makan, minum, dan hubungan bdan. Ketergantungan manusia pada materi minimal lewat puasa dikurangi untuk menghidupkan sisi kemanusiaan/ruhaniahnya, bukan sisi kebinatangannya.

Dalam makna yang lebih jauh, itu artinya, manusia adalah makhluk yang senang pada zona aman tertentu. Dalam ilmu sosial dikenal pro status quo. Manusia, jika sudah merasa enak pada posisi tertentu, sulit untuk berubah. Puasa mengajajarkan bahwa manusia harus berubah mengikuti perkembangan dan tantangan zaman, misal disruption TI, jika ingin tetap bertahan dalam posisi hidupnya yang baik, bahkan berkembang lebih jauh. Karena itu, puasa bagaikan disruption, bakan untuk dihindari melainkan untuk dinikmati, meski harus menyesuaikan diri di sana sini. Sebagaiamana puasa, disruption TI harus dipelajari dengan penuh gairah untuk menjadi pemenang, sebagaiamana kaum Muslimin menjadi pemenang di akhir puasa dengan merayakan Idul Fitri. Namun, idul Fitri tidak akan didapat, kecuali manusia belajar mengenai aturan berpuasa dan mampu menyakiti badannya dengan menahan sakitnya lapar, haus, dan dorongan seksual demi menumbuhkan spiritualitas/humanismenya.

Masyarakat Muslim karenanya harus mempelajari TI yang mendisrupsi kehidupan kontemporer dan harus menguasai dan memanfaatkannya demi menjadi pemenang/khalifah yang baik. Puasa, karenanya, meminta masyarakat Muslim untuk menguasai ilmu dan teknologi, terutama TI. Mereka harus rela berpuasa, menunda kenikmatan sampai waktu tertentu sebagaimana saat berpuasa, demi mendapatkan ilmu yang dalam, atau saat melakukan riset hingga menghasilkan teknologi, atau minimal menghasilkan kesimpulan riset yang memiliki kedalaman, kritisme, dan signifikansi (orisinalitas). Dan soal sabar dalam pengembangan sains dan teknologi, tertama TI, sebagai filosofi puasa ini merupakan sesuatu yang mendesak bagi kita Muslim Indonesia. Ini mengingat negara dengan agama lain seperti Cina kini tumbuh karena iptek, terutama kecerdasan buatan dan publikasi ilmiah internasional yang mulai menyelinap Barat dengan agama dominan yang lain juga.

Alasannya, karena Islam sejalan dengan sains yang empiris, mengingat Quran memerintahkan kaum Muslimin untuk meriset unta, langit, gunung, dan bumi, misalnya secara empiris dengan menggunakan indra, terutama mata (QS al-Ghasyiyyah/88: 17-20). Dari penguasaan sains diharapkan manusia bisa menjadi kepanjangan Tuhan, karena teknologi yang diciptakannya. Iptek dan imtak adalah keunggulan manusia sebagaimana terekam dalam awal surah al-Baqarah. Ilmu empiris dan teknologi pun adalah tradisi kaum Muslim periode klasik seperti terlihat dari tokoh Jabir bin Hayyan, al-Khawarizm, dan Ibnu Sina yang memengaruhi Barat modern.

Namun, iptek yang mendisrupsi itu tidak boleh disakralkan dan digunakan secara berlebihan yang melanggar batas-batas, sebagaimana puasa. Dalam Islam, puasa tidak boleh dilakukan secara berlebihan dengan mati geni (berpuasa dari pagi sampai pagi, tidak buka magrib). Juga dalam puasa sunah, tidak boleh terus-menerus berpuasa satiap hari, tanpa henti. Iptek yang harus dikuasai oleh kaum Muslimin tidak boleh menjadi saintisme, yaitu sebuah paham bahwa metode sains yang empiris adalah metode satu-satunya yang diandalkan. Namun, harus bersikap sebagaimana Einstein, “Ilmu tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh”. Karena itu, berikap ariflah dengan TI yang mendisrupsi manusia saat ini sehinggga tidak merusak moralitas, sebagaimana pesan puasa yang menekankan ruhaniah/spiritualitas manusia, bukan manusia sebagai materi. Wallah a’alm bis-Shawab

Republika – OPINI, Hal. 6, Kamis, 17 Mei 2018