img_20160926_161902

Aula Prof. Bustomi A. Gani, Ciputat, 26/09/2016

Mewujudkan Visi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta untuk menjadi terbaik di Asia Tenggara kembali dibuktikan dengan mendatangkan dua orang akademisi sekaligus sastrawan dari Malaysia. Keduanya adalah Datok Dr. Ahmad Khamal bin Abdullah dan Prof. Dr. Siti Zainon Ismail. Datok Ahmad Khamal bin Abdullah yang populer dengan nama pena Kemala telah dianugerahi gelar sebagai Sasterawan Negara ke-11 Malaysia. Sementara itu, Siti Zainon Ismail adalah guru besar di Universitas Kebangsaan Malaysia dan telah menghasilkan karya sastera dan artikel ilmiah terkait susastera.

Datok Kemala dengan fasih dan akurat menyoroti tentang sejarah sastra Melayu sejak jaman kolonial. Menurutnya, sebelum tahun 1928, sastra di tanah Melayu adalah satu tanpa adanya sekat politik. Sastra Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Philipina Selatan, dan Patani Thailand dikenal dengan sastra Melayu. Dengan deklarasi Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, maka secara politik Indonesia mengubah bahasanya dari bahasa Melayu ke Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Sastra Malaysia dan Indonesia adalah sastra yang lahir dari ibu yang sama, yakni sastra Melayu. Untuk meneguhkan sastra Melayu, Datuk Kemala mendirikan organisasi yang disebutnya NUMERA atau Nusantara Melayu Raya. Organisasi ini diharapkan dapat menjaga warisan budaya Nusantara yang Melayu.

Professor Siti Zaidon Ismail menambahkan, alam Melayu bukan saja di Semenanjung tapi juga di perairan India sampai ke Cina. Alam Melayu bukan batas politik, tapi batasannya lebih luas yang mencakup  budaya, bahasa, dan lukisan. Untuk memahami susastra Melayu, mestilah harus mengerti budaya lokal masing-masing. Segala peristiwa yang terjadi pada masa lalu dituliskan dalam bentuk hikayat, pada masa lampau. Banyak peninggalan masa lampau, masing-masing tradisi membawa budaya masing-masing sehingga karya sastra menggambarkan iklim masyarakat Melayu. Pembicara terakhir adalah Ita Rodiah, yang lebih menyoroti corak sastra Melayu kontemporer, khususnya tema-tema tubuh dan perempuan atau seksualitas. Ada kecenderungan dari masing-masing tradisi, lahirnya genre sastra wangi, sastra feminis Islam. Timbulnya genre ini karena adanya kegeraman dari penulis perempuan yang melihat perempuan sebagai objek. Sudut pandang tulisan feminis bertolak dari 1) androginis, tulisan laki-laki yang bias gender  dan 2) gynocritics.

Kegiatan ini dikemas dalam Studium Generale hasil kerjasama antara Fakultas Adab dan Humaniora yang diwakili oleh Program Studi Bahasa dan Sastra Arab dengan IKAPI dan Indonesia Internation Book Fair 2016. Kegiatannya dilaksanakan di Aula Prof. Dr. Butomi Abdul Ghani pada tanggal 26 September 2016. Acara ini dihadiri sekitar 200 orang mahasiswa. Turut hadir dalam forum ini para penyelenggara Book Fair Indonesia-Malaysia, mahasiswa dari berbagai jurusan UIN Jakarta. Kegiatan ini dimoderatori oleh Rizqi Handayani, Sekretaris Jurusan Prodi Tarjamah. [ZA]