Para Dewan Juri Lomba

Makassar – Senin, 14 Oktober 2019 – Lomba Kaligrafi yang bermunculan di mana-mana menambah gairah belajar kaligrafi di kalangan anak muda Indonesia. Dalam Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) Nasional IX Tahun 2019, yang diikuti murid-murid SMP dan berlangsung mulai tanggal 9 hingga 14 Oktober 2019 di Asrama Haji Sudiang, Makassar, semangat itu bergemuruh, memunculkan karya-karya variatif yang cukup menarik.

Ajang kompetisi cabang Lomba Kaligrafi Islam (LKI) dalam besutan tema “Keberagamaan Generasi Milenial Yang Moderat” yang diikuti 25 Provinsi ini memunculkan 10 besar kaligrafer remaja dengan karya-karya unggulannya, yaitu: Jabar, Yogyakarta, Aceh, Banten, Kaltim, Bali, Kalteng, Sumbar, Jatim, dan Jambi. Gaya khat favoritnya Tsulus, Naskhi, Farisi, Diwani, dan Diwani Jali untuk teks ayat dan teks pendukung dalam skup seni Hiasan Mushaf.

Hasil Karya para Peserta Loma

Dahsyatnya, peserta putri tampil hebat-hebat dengan mengalahkan peserta putra. Dari 6 kategori perlombaan, 4 orang juaranya adalah dari peserta putri, sisanya disabet peserta putra. Itu artinya kekuatan peserta putri dua kali lipat dari putra. Merasa dirinya tidak mampu, seorang peserta putra malah mundur teratur memilih tak tampil. Bahkan peserta putri yang 15 orang mendominasi atas putra yang 10 orang (dipotong lagi seorang yang pasrah menyerah daripada keteter kalah). Ini berarti peserta putri sudah menaklukkan putra sejak seleksi di Tingkat Provinsi. Dialog Pengembangan Kaligrafi di penghujung lomba tambah memprovokasi kaum hawa pelomba, bahwa “sekarang waktunya perempuan menaklukkan laki-laki.” Akhirnya muncul usulan untuk Pentas PAI mendatang ada pembagian kelas Putra & Putri, khawatir peserta putra di-KO lagi oleh peserta putri.

Lomba Kaligrafi, kini menjadi trending topik menarik bagaikan gula-gula. LKI adalah puncaknya. Lomba diburu sebagai pundi-pundi uang dan dikejar karena menghasilkan. Lomba adalah ajang cari prestasi dan alat menata jati diri. Para kaligrafer aktivis lomba dapat menikmati hasilnya: uang cukup untuk hidup sehari-hari dengan rumah dan kendaraan atau naik haji dan umrah dari hasil lomba.

Hasil karya dari para peserta

Aktivitas lomba merupakan sarana untuk memotivasi para unggulan dan menolong para kaligrafer basic yang masih lemah. Di Indonesia lomba-lomba kaligrafi diakomodasi dari Tingkat Daerah hingga Tingkat Nasional dalam ajang MTQ Nasional (dari Tingkat Desa), MTQ Mahasiswa, MTQ KORPRI, POSPENAS, PIONIR, AKSIOMA, Pentas PAI, FASI, MTQ PTP, MTQ TelkomGroup, Olimpiade Al-Qur’an, dan lomba-lomba kaligrafi di pelbagai instansi (Pemerintah/Swasta), kampus, sekolah, dan pesantren. Gairah berlomba para kaligrafer muda prestisius dari Indonesia juga tersalurkan dalam belasan calligraphy competition and festival di Luar Negeri seperti Turki, Irak, Yordania, Abu Dhabi, Kuwait, Pakistan, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Semuanya jadi “alat latihan” yang menggairahkan.

Ini nih, saya sedang membayangkan seolah barusan menang lomba dan sedang dipanggil Panitia untuk menerima hadiah dan bonusnya: Cukup untuk beli motor baru dan pergi haji berdua. Eh, lebih dari cukup untuk mentraktir ribuan mangkuk Bakso atau Mie Ayam.

(Oleh: Didin Sirojuddin AR • Lemka)