Gedung Fah, Fahnews- Agustus lalu (8/2018)  program Kuliah Kerja Nyata (KKN) telah usai, ratusan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dilepas secara resmi oleh Rektor pada 16 Juli 2018. Ratusan Mahasiswa  yang terbagi dalam ratusan kelompok tersebar di wilayah Tangerang dan Bogor untuk melakukan pengabdian pada masyarakat sebagaimana amanah Tri Dharma Perguruan TInggi yang ketiga.

Jauh sebelum pembukaan pendaftaran KKN 2018, Rabiatul Adawiyah atau lebih dikenal sebagai Obi adalah mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora (BSI FAH) memantapkan pilihannya untuk melakukan pengabdian di luar negeri. Obi dan sebelas temannya yang tergabung dalam kelompok KKN Internasional memilih negara Malaysia sebagai tempatnya melakukan program KKN.

Berangkat dari keinginan untuk merantau ke tempat yang jauh, Obi dan kawan-kawan ingin merasakan atmosfer dari daerah-dearah yang kurang diperhatikan pemerintah, “jika masyarakat desa dalam negeri sudah ada yang melayani dan memberdayakan (dari kelompok KKN reguler) maka Obi dan kawan-kawan ingin melakukan hal yang berbeda”, papar Obi.  Berawal dari ajakan teman sekalasnya, hati Obi tergugah untuk berpartisipasi dalam KKN Internasional.

Banyak suka duka yang dialami dari mulai pendaftaran hingga kepulangan, misalnya saja Obi harus meyakinkan pihak PPM (Pusat Pengabdian Masyarakat)  dan KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) untuk memberi kepercayaan dan melepasnya melakukan pengabdian di sana. Tidak berhenti disitu, pendanaan juga menjadi salahsatu ganjalan yang harus dilewati, “karena ini KKN mandiri, maka pendanaan ditanggung sendiri, baik itu internasional maupun kebangsaan”, tambahnya. Jarak yang sangat jauh juga membuat tidak memungkinkannya melakukan survei KKN sehingga tidak mendapatkan data masyarakat yang valid.

Berlokasi di Tawau, Sabah, Malaysia, daerah perbatasan Kalimantan dan Malaysia, kondisi lingkungan yang hampir sama dengan Indonesia membuat proses adaptasi menjadi lebih mudah. Yang luar biasa adalah kondisi sosial masyarakatnya yang menjunjung tinggi nilai toleransi, mengingat muslim disana merupakan minoritas, tidak membuat Obi dan kawan-kawan merasa asing.

Bersyukur dari segi pendidikan meskipun disana masih tertinggal namun antusiasme dan semangat masyarakatnya dalam belajar cukup tinggi. Obi juga menambahkan, “meskipun KKN ini berlabel Internasional bukan berarti kita mengabdi pada negara lain, justru kita sedang mengabdi pada Indonesia karena sedang melayani masyarakat Indonesia disana (TKI), sekalipun ada WNA yang kita layani disana, kita bisa membawa nama baik Indonesia secara global”, ungkapnya.