المهاجرمن هجرمانهى الله عنه.
“AL-MUHAJIRU (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan larangan Allah.”
(HR Al-Bukhari dan Muslim)

***

Tekanan terhadap umat Islam assabiqunal awwaluna semakin berat. Kaum Quraisy Mekkah tambah menindas dengan beragam penyiksaan yang menambah penderitaan di mana-mana. Menghadapi krisis gawat ini, Rasulullah SAW mengambil tindakan dengan mengHIJRAHkan beberapa pengikutnya yang posisinya masih lemah.

Hijrah gelombang pertama (di tahun ke-5 kerasulan) menuju Abessinia atau Habasyah, diikuti 15 orang (10 laki-laki dan 5 perempuan) termasuk Utsman bin Affan dan istrinya Ruqayah, putri Rasulullah. Mereka lalu kembali setelah beberapa bulan, karena mendapat informasi Mekkah sudah aman. Situasi di kota Mekkah ternyata semakin kacau dan gawat. Teror kaum musyrikin tambah menjadi-jadi yang berujung dibuatnya undang-undang pemboikotan terhadap kaum muslimin. Tindakan musuh sudah semakin kalap dan kejam. Maka, untuk gelombang kedua Rasulullah menyarankan kepada para sahabatnya hijrah lagi ke Abessinia. Kali ini diikuti 101 orang (83 laki-laki dan 18 perempuan) di bawah pimpinan Jakfar bin Abi Thalib. Jumlah tersebut melebihi separuh kaum muslimin pada waktu itu. Tapi, dari sini pula Negus raja Abessinia masuk Islam karena terkesan oleh Jakfar dan rombongannya.

Teror kaum Qureisy semakin sadis, bahkan menargetkan pembunuhan Rasulullah. Maka, untuk gelombang ketiga hijrah massal dilaksanakan kali ini menuju Yasrib (yang kelak menjadi Madinatunnabi atau Madinah), diikuti Rasulullah sendiri. Nabi SAW tiba di Madinah pada tanggal 8 Rabiulawal/20 September 622 M. Hijrah terbesar ini bukan lagi pilihan atau sukarela dari anjuran Rasulullah, tetapi langsung perintah Allah untuk menghindari intrik-intrik kejahatan musuh-musuh Islam. HIJRAH Nabi ke Madinah bukanlah kekalahan, melainkan strategi “kemenangan yang ditangguhkan” untuk menyukseskan mission dakwah. Dan ternyata, hijrah jadi starting point of the Islamic era atau titik awal kesuksesan dakwah dan kebangkitan dunia Islam.

Sangat menarik, peristiwa hijrah Nabi ini menjadi dasar inspirasi ditemukannya sistem penanggalan bulan (قمرية) yang dikenal sebagai TAHUN HIJRIYAH, pengimbang kalender matahari (شمسية) Miladiyah atau Masehi yang sudah ada sebelumnya. Apabila perhitungan tanggal matahari/Masehi dimulai dari jam 0.0 tengah malam, maka awal tanggal Hijriyah dimulai dari waktu Maghrib. Jumlah hari tahun Hijriyah lebih sedikit 11 hari setiap tahunnya dibandingkan tahun Masehi. Tahun Hijriyah ditentukan oleh Khalifah Umar pada th 17 H/638 M. Uniknya, prolog kisah dimulai ketika Abu Musa Al-Asy’ari yang menjabat Gubernur Basrah menerima surat dari Khalifah Umar bin Khattab yang tidak mencantumkan tanggal (hari, bulan, tahun). Dalam surat balasan kepada Khalifah Umar, Abu Musa antara lain menulis: “Surat Tuan yang tidak memakai tanggal itu sudah saya terima……” Kalimat singkat itu dirasakan Umar sebagai “cubitan” sehingga membuka pikirannya untuk mencari dan menetapkan penanggalan atau kalender Islam untuk surat-menyurat dan urusan-urusan resmi negara. Melalui musyawarah dengan para staf dan penasihatnya, ada yang usul agar titik tolaknya dihitung dari hari lahir Rasulullah atau Perang Badar 17 Ramadhan 2 H. Usulan yang lain: dimulai dari turunnya wahyu pertama atau hari pengangkatan beliau sebagai Rasul. Akhirnya, usulan yang disepakati bersama adalah saran Ali bin Abi Thalib yang menetapkan dimulainya penanggalan tahun Hijriyah dari hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah, sebab sejak waktu itulah mulai terbentuknya kekuatan Islam yang riil.

Apakah kita juga harus hijrah? Masihkah relevan menerapkan cara hijrah muslimin Mekkah dulu? Tentu, lebih dari sekedar relevan. Sebagaimana Rasulullah hijrah menghindari musuh agama yang berkomplot, maka sesungguhnya musuh-musuh kita yang beragam di jaman sekarang lebih dahsyat, yang mewajibkan kita untuk hijrah. Musuh-musuh kita yang licin itu adalah:

  1. Cinta dunia (حب الدنيا) yang berlebihan dan tak terkendali sehingga lupa daratan. Padahal
    حب الدنيارأس كل خطيئة
    “Cinta dunia adalah biang segala kesalahan.”
  2. Hawa nafsu yang selalu dituruti (هوى متبع). Padahal, apa yang didapat dari memperturutkan hawa nafsu? Nabi Yusuf mengatakannya:
    إن النفس لأمارة بالسوء
    “Sungguh, hawa nafsu benar-benar menyuruh kepada kejahatan.”
  3. Setan gaib (yang sanggup lari mengikuti aliran darah) yang malah dijadikan sekutu, padahal setan seharusnya dilawan:
    إن الشيطان لكم عدو فاتخذوه عدوا
    “Sesungguhnya setan itu musuhmu, maka jadikan dia musuh!”
  4. Setan manusia yang lebih berbahaya. Asal selalu berbisik dan memprovokasi mengajak kepada kejahatan, manusia dan jin macam begini adalah setan:
    من شرالوسواس الخناس الذي يوسوس في صدورالناس من الجنة والناس
    “… dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi, yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.”

Oya, jadi kita harus hijrah dari mana dan ke mana? Bila melihat kepada catatan perjuangan Rasulullah yang berujung kepindahan atau hijrahnya ke Madinah dengan tujuan utamanya “meninggalkan situasi yg buruk untuk mencari situasi baru yg lebih baik”, atau seperti sabda beliau bahwa “Orang yang berhijrah adalan orang yang meninggalkan larangan Allah,” maka setidaknya ada 4 pelabuhan yang bisa dijadikan titik tolak hijrah kita, yaitu:

  • Pertama, من الشرك إلى التوحيد (dari syirik kepada tauhid) dengan menyingkirkan sesembahan kepada berhala dan setan, memberantas praktik perdukunan sampai sikap menuhankan harta, tahta, jabatan, wanita dan serba benda yang lain. Semuanya disterilkan dan dikembalikan “hanya untuk Allah Yang Maha Esa”.
  • Kedua, من الكفرإلى الإيمان (dari kekufuran kepada iman) dengan meneguhkan keyakinan kepada rukun iman yang 6 dan meninggalkan “sikap selalu membangkang” terhadap perintah Allah.
  • Ketiga, من الجاهلية إلى الإسلام (dari jahiliyah kepada Islam), yakni meninggalkan adat-adat jahiliyah yang busuk seperti: musuh-musuhan, dendam, bertengkar, iri dengki, takabur, buruk sama tetangga, tidak menghormati keluarga atau tamu, berkhianat, menggunting dalam lipatan, dan tidak toleran. Semuanya dirubah dengan selalu menjunjung perilaku dan akhlak yang Islami. Sesuaikan dengan norma-norma ajaran agama (Islam).
  • Keempat, من الظلمات إلى النور (dari kegelapan kepada cahaya). Keluarlah dari tempat gelap yang membutakan, yakni “amalan tanpa tuntunan”, perbuatan bid’ah, atau ibadah tanpa ilmu. Lihatlah cahaya Islam dan iman sebagai way of life yang mencerahkan dan selalu memberi harapan.

Gambar: DSAR, Al-Muhajiru, 35 x 25 cm, black ink on art paper, 2019.

Oleh: (Didin Sirojuddin AR • Lemka)