ثُمّٙ عُرِجٙ بهِ صلّى اللّهُ عليهٙ وسلّم لِمُسْــتٙوًى سُمِـعٙ فيــهِ صٙريفُ الأقــلامِ
“Kemudian Rasulullah SAW dinaikkan ke Al-Mustawa, di situ terdengar suara guratan QALAM yang sedang menulis.”
• (Syeikh Najmuddin Al-Ghaithy, Al-Mi’rajul Kabir)

• AL-MUSTAWA adalah lapis langit ke-9 yang ditembus Rasulullah SAW di malam Isra & Mi’raj. Perjalanan hanya setengah malam karena mukjizat Allah. Padahal, manusia biasa baru bisa terbang ke sana dalam tempo 45 ribu tahun. Di sini beliau terima perintah shalat 5 waktu. Di Al-Mustawa pula Nabi mendengarkan suara-suara guratan qalam atau pena yang sedang menulis. Serasa tak sanggup membayangkan seperti apa teknik dan kongkritnya pena “menulis semua takdir dan titis tulis” Yang Mahakuasa sampai akhir zaman. Maka, ada yang menafsirkan “qalam adalah AKAL”. Qalam di Al-Mustawa bermakna majazi. Tapi, mengapa harus suara QALAM yang diperdengarkan? Bukan yang lainnya. Pasti, karena qalam luar biasa. Istimewa. Fundamental. Essensial. Multiguna & multifungsi. Qalamlah pengisi 5 ayat Alquran yang pertama diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Tidak sembarangan, dengan qalam pula Tuhan bersumpah:

نٓ. والقلمِ ومايسْطرون.
“Nun. Demi QALAM dan apa yang mereka tulis.”
• (QS Al-Qalam/68: 1)

Tambah istimewa: dari seluruh jagat raya luas tak terhingga, qalamlah yang pertama kali diciptakan:

إن أوّلٙ ما خلٙق اللّهُ القلمٙ. فقال له: “اكْتُبْ!” قال: “ياربٍّ وماأكتُبُ؟” — قال: “اكتّبِ القٙدٙرٙوماهُوكائِنٌ إلى الأبٙدِ”.
“Yg mula-mula diciptakan Allah ialah QALAM. Lalu Allah memerintahkan: “Tulislah!” — Qalam nenjawab: “Ya Rabbi, apa yang harus hamba tulis?” — Tuhan menjawab: “Tulislah segala apa yang telah Aku takdirkan sampai akhir zaman!”
• (HR Imam Ahmad bin Hanbal dari Al-Walid bin Ubadah bin Shamit).

Alladzi ‘allama bilQALAM, “Yang mengajar dengan QALAM,” (QS Al-‘Alaq/96: 3). “Qalam adalah seluruh alat multi media” mencakup sarana penghubung kepada ILMU PENGETAHUAN. Dari pensil, kuas, dan bolpoint sampai telepon, HP, Face Book, twitter, instagram, telegram, radio, televisi, parabola dan seluruh jaringan internet & medsos jaman kiwari. Hanya satu tujuannya: “supaya kita jadi orang yang BERILMU, tidak jadi orang BODOH. 🔸🔹✒

• GAMBAR:

 

 

 

 

DSAR, Kedigjayaan Qalam, 60 x 80 cm, oil and teksture on canvas, 2002

 

(DidinSirojuddinAR•Lemka)