Oleh : Didin Sirojuddin AR•Lemka

Lombanya tingkat Kota tapi hasilnya level Nasional. Koq bisa? Tentu saja, karena sebagian pesertanya adalah calon2 peserta MTQ Nasional.
Itu, setidaknya, terlihat di lomba kaligrafi (MKQ) MTQ Tingkat Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten. Di beberapa daerah ada juga yang hampir sama. Karya-karya kaligrafi dengan kualitas estetis hampir mendekati tingkat sempurna. Bagi peserta, ini adalah kebanggaan dan harapan. Bagi Dewan Hakim penilai, penjuriannya cukup memeras keringat. Karya-karya unggulan sekarang “tidak selesai hanya pada benar & indah-nya saja.” Bila sama benar & indahnya, yang terjadi selanjutnya adalah perbandingan (secara rinci dan detail) antar karya unggulan untuk mencari PLUS-MINUSnya di luar ketentuan yang pokok.
Setelah 3 unggulan terpilih dan dinyatakan sempurna semua, dilanjutkan dengan seleksi untuk menentukan karya emas, perak, dan perunggu. Beberapa poin yg bisa diunggulkan, antara lain:
• Kreativitas dalam penyusunan. Sangat berbeda karya kreatif dengan yang “disusun asal jadi”.
• Keragaman dan variasi, seumpama memvariasikan tulisan فيهم/كم dll yg ditulis berulang-ulang.
• Tidak hanya 1 figur (misalnya hanya figur pohon saja) yang ditonjolkan dalam Kaligrafi Kontemporer FIGURAL, tetapi termasuk juga figur pohon & bukit, atau figur air & awan, dll.
• Warna2 semarak & berani yg menohok mata dan menimbulkan sensasi keindahan, karena hakikatnya colour is sensation.
• Kerapihan tanda baca & tanda waqaf, terutama pada bentuk, ukuran, dan tata letaknya.
• Inovatif & ekslusif dalam design dan bahasa rupa sehingga berbeda dari karya lainnya.
Ada juga peserta yg komentar, “Bikin gregettaaaaan!!! Berasa sudah bagus, belum juga juara, aduduuuuuh.” Tentu saja, asal syarat2 unggulan tadi dipenuhi dan karyanya “lebih bagus dari yang lain” PASTI JUARA. 😆