Pada tanggal 25 Januari 2017, Yannick LINTZ, Ph.D Director of the Islamic Art Department, Louvre Museum France, melakukan kunjungan resmi ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Setelah diterima oleh Prof. Dede Rosyada, Yannick langsung dibawa ke Fakultas Adab dan Humaniora untuk menyampaikan artikel ilmiahnya kepada dosen dan mahasiswa FAH yang sudah menunggu kehadiran dengan penuh antusias.

     Tepat pukul 10.30, Yannick sampai di ruang sidang dan langsung disambut dengan hangat oleh Prof. Dr. Sukron Kamil, Dekan FAH. Dalam sambutannya, Sukron menjelaskan perihal seni dalam Islam. “Memang ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa seni tidak boleh, seperti ada pernyataan bahwa malaikat tidak akan masuk ke rumah seseorang jika di dalamnya ada gambar mahkluk hidup. Namun, dalam bentuk lain, kaligrafi berkembang dengan pesat; dan hal tersebut menunjukkan bahwa seni diperbolehkan dalam Islam. Secara khusus, dalam konteks kaligrafi, FAH memiliki peran yang sangat besar yang dimotori oleh Didin Sirodjudin dengan Lembaga Kaligrafi Al-Quran (Lemka) dan pesantren kaligrafi yang dibangunnya,” demikian Sukron menambahkan.

    Setelah Sukron mengakhiri sambutannya, Yannick langsung menyampaikan makalahnya dalam Bahasa Inggris. Yannick menjelaskan seni Islam yang berhubungan dengan sejarah. Dalam hal ini, Yannick membedakan seni Islam menjadi: a) figurative art dan b) Calligraphy. Figurative art berisikan gambar-gambar yang bercerita kehidupan, yang dapat berbentuk gambar di dinding, mangkok, keramik, dan lain-lain yang bisa dibaca bagaimana kehidupan seseorang atau kelompok orang terekam. Dengan kata lain, seni tersebut merupakan “story telling” dari seluruh peristiwa dan kejadian diungkapkan dalam bentuk gambar-gambar. Berbeda dengan bentuk seni yang pertama, kaligrafi mengambil bentuk tulisan indah yang diambil dari ayat al-Qur’an, hadist, atau ungkapan-ungkapan hikmah yang dituliskan di atas bahan-bahan kertas atau lainnya, seperti keramik, dan kaca. Selain itu, Yannick juga menjelaskan hubungan antara seni Islam dan Eropa, terutama Islam di Spanyol. Seni Islam dan pengaruhnya pada seni Eropa secara keseluruhan bisa dilihat pada peninggalan Islam di Eropa secara umum.

     Sebelum sesi seminar berakhir, Usep Abdul Matin, moderator seminar ini, membuka sesi tanya jawab yang dimanfaatkan oleh tiga orang peserta, Nurhasan, Darsita, dan Fuad Jabali. Nurhasan menanyakan perihal pengelolaan museum sebagai pusat destinasi wisata, selain sebagai pusat sumber sejarah. Darsita menyoroti perihal metode analisis yang digunakan dalam membaca gambar-gambar seperti dalam keramik; sedangkan Fuad Jabali, mempertanyakan apakah bisa hidup dengan bahagia/makmur jika seseorang berprofesi sebagai sejarahwan atau pegawai museum. Museum memang pada awalnya dikelola secara tradisional, di mana apa yang ada di dalamnya hanya dimanfaatkan sebagai sumber-sumber sejarah. Namun saat ini, paradigma pengelolaan museum sudah bergeser dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang mampu menarik minat orang untuk berkunjung ke museum. Museum tidak lagi menjadi tempat yang sepi dan hening di mana benda-benda bersejarah dipajang.  Demikian, Yannick merespon pertanyaan pertama. Untuk pertanyaan kedua, Yannik menjelaskan, bahwa gambar-gambar yang terdapat pada benda seperti dinding, keramik, atau kaca tidak bisa dibaca dan dimaknai secara mandiri, tetapi harus didukung oleh sumber-sumber tulis lainnya. Jadi tetap harus dikaitkan dengan sumber-sumber sejarah lainnya, sehingga diperoleh gambaran utuh atau komprehensif. Terkait dengan pertanyaan ketiga, Yannick lebih menekankan pada pentingnya pengembangan diri dan profesionalitas dalam bekerja. Apa pun bentuk pekerjaan akan menjadikan orang yang melakukannya hidup dengan bahagia jika dilakukan dengan penuh kecintaan, demikian Yannick mengakhiri penyampaian makalahnya.

     Sebelum meninggalkan FAH, Dekan FAH mengadakan jamuan makan siang bersama yang diikuti oleh narasumber, Yannick, dosen, mahasiwa, dan beberapa staff Pusat Layanan Kerja Internasional (PLKI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam jamuan makan siang tersebut dibicarakan juga kemungkinan-kemungkinan kerjasama antara FAH dan Islamic Art Department, Louvre Museum France dalam bidang sejarah dan seni Islam di Indonesia dan Perancis, khususnya dan Eropa umumnya. M.F.