ALQURAN. Kitab suci yang penuh mukjizat, membacanya saja berpahala dan dianggap ibadah. Mari kita hitung jumlah pahala kebaikan dari membaca Alquran yg merupakan way of life kaum muslimin dalam Hadis Nabi SAW ini:

من قٙرأحٙرْفًامن كتــابِ اللّهِ فله بِه حسٙــنةٌ والحســنةُ بِعٙشْرِأمثــالِها. لاأقول: الٓم حرفٌ ولكن ألف حرف ولام حرف وميــم حرف. (رواه الحاكم)

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Alquran, maka ia mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dibalas pahala 10 x lipat seumpamanya. Ingat, aku tidak bilang: Aliflammim satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR Hakim)
• Subhanallah, pahalanya dihitung untuk setiap huruf!

Bila setiap huruf pahalanya 10 kebaikan, kita kalikan jumlah rata2:
• 1 baris: 40 hrf x 10 pahala = 400 pahala.
• 1 hlmn: 15 brs x 400 pahala = 6000 pahala.
• 1 juz: 18 hlmn x 6000 pahala = 108000 pahala
• 30 juz: 30 x 108000 pahala = 3.240.000 pahala kebaikan.
• Subhanallah, banyak sekali!!!

Ada juga surat-surat tertentu dengan imbalan pahala tertentu, seperti membaca Al-Fatihah = membaca ⅔ Alquran, bacaan Al-Baqarah & Ali Imran akan jadi 2 awan penaung. Pembaca Al-Baqarah akan dipakaikan mahkota surga. Membaca akhir Ali Imran di malam hari dicatat = ibadah semalam. Bacaan Al-Kahfi akan jadi penghalang qarinya dari api neraka. Yang membaca Yasin saban malam akan diampuni dosanya, bila dibaca siang segala hajatnya akan terpenuhi. Surat Al-Waqiah adalah surat kekayaan. Membaca Qulhuw 3 x malam hari = tamat Alquran. Membaca Qulhuw 11 balik akan diganti sebuah rumah di surga. Ayat Kursi adalah pengusir setan. Membaca Ad-Dukhon malam hari, akan diampuni dosanya yang lalu. Bacaan Al-Mulk akan jadi tameng dari siksa kubur. dll. dll.

Itu belum termasuk bila bacaan tsb dilagukan baik dengan langgam murattal maupun mujawwad karena berefek pada nikmatnya di pendengaran yang “menggembirakan sesama saudara muslim”. Rasulullah menganjurkan:

زٙيــِّـنُواالقرآنٙ بأصواتِكـــم
“Hiasilah Alquran dengan suaramu (yang merdu).”

Pahala kebaikan akan terus bertambah bila kegiatan membaca berada dalam “proses belajar-mengajar”, menuntut ilmu atau belajar dan mengamalkan ilmu. Yang terlibat di dalamnya bergelar fi sabilillah dengan imbalan pahala terbaik surga. Dalam Hadis riwayat Usman dinyatakan:

خيركم من تعـــلم القرآن وعلمه
“Sebaik-baik kamu adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya.”

Hasil dari aktivitas membaca Alquran, baik yang menjadi mahir maupun yang masih terbata-bata karena kesulitan, kedua-duanya mendapat tempat yang indah seperti yang dijanjikan Rasulullah:

الماهِرُبالقرآنِ مع السّٙـــفٙرٙةِ الكِرامِ البٙرٙرٙةِ، والذى يقرأالقرآنٙ ويـٙــتٙتٙعْتٙعُ فيــه وهو عليه شاقّ له أجران.
“Orang yang pandai dengan membaca Alquran, akan memperoleh tempat di surga bersama-sama para Rasul yang mulia lagi baik-baik. Dan orang yang membaca Alquran kurang pandai, membacanya tersentak-sentak dan tampak agak berat lidahnya, ia akan memperoleh dua pahala,” yaitu pahala membaca dan pahala sulitnya belajar. Subhanallah, Allah Maha Pemurah.

Kita baru bicara tentang BACAAN, belum bicara tentang TULISAN. Padahal, ayat-ayat permulaan turun dalam Surat Al-‘Alaq berkenaan dengan perintah MEMBACA (اقرأ / bacalah!) dan MENULIS (الذي علم بالقلم / Yang mengajar dengan pena). Dengan dituliskan, pahala kebaikan bertambah-tambah, karena penulis sudah pasti membaca teks ayat yang ditulisnya. Seberapa besar pahalanya? Inilah salahsatu statement Nabi SAW tentang tulisan Basmalah, misalnya:

من كتب بحُسْـنِ الخطِّ بسم الله الرحمن الرحيم دخٙل الجنّٙةٙ. (رواه الديلمى)
“Barangsiapa menulis Bismillahir Rahmanir Rahim dengan kaligrafi yang indah, dia pasti masuk surga.” (HR Dailami). Rasulullah juga menyebutkan, bhw kepada orang yang menulis Basmalah dengan baik (حسنة) dan cantik (مجودة), Allah akan bersikap baik kepadanya dan memberinya ampunan.
Inilah yang jadi keyakinan kaligrafer Mesir Mus’ad Mustafa Khudhir Al-Bursaid:

يدالخطاط تٙسْــبِقُه إلى الجنّٙةِ بماكتبـٙـتْ من آياتٍ
“Tangan kaligrafer menariknya ke surga karena menulis ayat-ayat Alquran.”

Tapi, tulisan haruslah digores indah, karena berdampak positif dan berefek domino pada hal-hal lain:

الخطُّ الحســنُ يزيدالحقّٙ وضوحٌا. (رواه الديلمى)
“Tulisan yang indah akan menambah kebenaran tampak nyata.” (HR Dailami). Ini dia pahala tambahan karena menegakkan kebenaran! Di sini kalkulasi nilainya dihitung dengan jumlah tetesan tinta yang disamakan dengan tetesan darah syuhada. Nabi SAW menyamakan timbangannya, “tidak ada yang lebih ringan atau lebih berat di antara keduanya.” Bayangkan: tetesan tinta penulis ilmu = tetesan darah syuhada. Luar biasa! Allahu Akbar!
Bila tulisan Alquran itu diarsipkan, jadilah catatan terbaik bernilai amal jariyah di samping ilmu yang disebarkan dan anak saleh yang ditinggalkan yang pahalanya surga, seperti disebutkan dalam hadis riwayat Ibnu Majah. Rasulullah juga berpesan:

من مات وميراثُه الدفاتِرُوالمحـــابِر دخل الجـــنة.
“Barangsiapa meninggal, sedangkan warisannya buku catatan dan tinta, ia niscaya masuk surga.” Masya Allah, selalu ganjaran SURGA!!!

Sesungguhnya, limpahan pahala tidak hanya saat Alquran dibaca dan ditulis atau sepeninggal penulisnya. Justeru dimulai sejak penulis MERAUT/MEMOTONG pena khat untuk menentukan kaligrafi yang indah supaya tulisan Alqurannya jadi indah. Nabi SAW menjanjikan:

من قلم قلما يكتب به علماأعطاه الله شجرة فى الجـــنة خيرامن الدنــياومافيها.
“Barangsiapa meraut pena untuk menulis ilmu, maka Allah akan memberinya POHON DI SURGA yang lebih baik daripada dunia berikut seluruh isinya.” Allah Kariiiiiiim, padahal pohon di surga itu sangat besar, diameternya baru dapat dikelilingi tahunan. Jadi, berapakah jumlah pahala membaca sekaligus menulis Alquran? Saya benar-benar tidak sanggup menghitungnya karena benar-benar tak terhitung!!! Yang penting, kita selalu mengamalkan perintah Rasulullah ini:

إقرأواالقرآنٙ فإنّٙه يأتِى يومٙ القيامةِ شفيعًالِأٙصْحابِه. (رواه مسلم)
“BACALAH ALQURAN karena Alquran akan memberi syafaat bagi pembaca-pembacanya di hari Kiamat.” (HR Muslim)

Semua itu didapat apabila Alquran “dibaca semata-mata karena Allah ‘Azza wa Jalla” (رجل يقرأالقرآن لله عزوجل), bukan “untuk berbangga-bangga” (رجل يــباهى) dan bukan pula “untuk mencari makan atau keuntungan materi” (رجل يســتأكل به). Kita hanya takut kalau Alquran dibaca dan ditulis bukan karena Allah, apalagi hanya untuk dijadikan topeng atau barang maenan. Alih-alih mendapat pahala yang besar, yang diperoleh malah sebaliknya seperti peringatan keras Nabi SAW yang mengerikan:

رُبّٙ تالٍ للقرآنِ والقرآنُ يٙلْعـٙــنُه.
“Banyak sekali yang membaca Alquran, namun Alquran malah melaknatnya.”

أســـتغفراللــه العظـــيم .

(DidinSirojuddinAR•Lemka)