Mengenang Bahtiar Effendy

Prof Sudrnoto Abdul Hakim

Tahun 1978,  penulis hadir di sebuah acara mahasiswa di aula IAIN Syarif HIdayatullah Jakarta di Ciputat. Waktu itu penulis  baru semester dua di Fakultas Adab. Seorang mahasiswa yang sangat enerjik, setengah gondrong dan selalu melempar senyum dengan gitarnya, tampil membawakan sebuah lagu Barat di depan audien yang memadati aula, mayoritas mahasiswa.

Itu acara Dema. Sambutan tepuk tangan dan teriakan mahasiswa menghangatkan aula. Nama mahasiswa itu Bahtiar Effendy. Dia keren, suaranya bagus, main gitarnya bagus dan bahasa Inggrisnya bagus. MC waktu itu mengenalkan siapa Bahtiar,  sambil memujinya berkali-kali. Bahtiar pernah ikut program internasional yang sangat prestisius bagi anak-anak muda, yaitu AFS dan program internasional lainnya. Sebagai mahasiswa kebanyakan pada waktu itu, sosok Bahtiar memikat dan mengagumkan.

Alumni Pabelan dan kemudian menjadi aktivis HMI Ciputat itu, meskipun tidak pernah menduduki posisi penting di kepengurusan. Ia sangat mobile sejak tahun-tahun pertama di Ciputat pertengahan kedua tahun 1970an. Penulis  jarang sekali bertemu dengan Bahtiar di Ciputat karena mobilitasnya yang tinggi.

Bersama rekan dan para seniornya, mayoritas HMI, aktif di majalah Panji Masyarakat sebagai penulis. Di Panjimas antara lain ada alm Iqbal Saimima, Komaruddin Hidayat dan Fachry Ali. Melalui Panjimas, Bahtiar tidak saja mempublikasikan artikelnya-artikelnya, tapi juga merakit dan memperluas relasi dengan banyak tokoh Islam: politisi, birokrat, intelektual dan tokoh ormas.

Di Ciputat sendiri, Bahtiar sangat dekat dengan para seniornya di HMI dan IMM para murid Pembaharu pemikiran Islam Prof Harun Nasution. Diantara mereka adalah Komaruddin Hidayat, Fachry Ali,  Azyumardi Azra (senior HMI), Din Syamsuddin dan Anwar Abbas (tokoh IMM).

Dari tokoh HMI, Bahtiar memperoleh pengalaman dan penguatan jaringan intelektual apalagi setelah juga bertemu antara lain dengan Adi Sasono, Dawam Rahardjo, Malik Fadjar dan tentu Cak Nur. Bahtiar tahun 1980an sudah dikenal sebagai seorang penulis, pemikir dan intelektual muda muslim yang mempesona. Artikel di harian Kompas dan bukunya yang dia tulis bersama seniornya Fachry Ali, misalnya, telah menunjukkan kelas intelektual Bahtiar yang sangat dihormati. Fachry di twitternya mengatakan bahwa Bahtiar adalah “sahabat intelektual” nya yang sangat produktif.

Bersama seniornya di IMM, Din Syamsuddin dan Anwar Abbas, Bahtiar dekat dengan alm. Lukman Harun. Pak Lukman tidak saja dikenal sebagai salah seorang tokoh penting berdirinya Sekber Golkar, Parmusi dan KOKAM, juga tokoh Muhammadiyah dengan jaringan internasional yang sangat luas antara lain  melalui World Conference on Religion and Peace (saat ini dilanjukan oleh Din Syamsuddin).

Secara internasional, pak Lukman adalah tokoh Muhammadiyah yang sangat dihormati karena pembelaannya yang tidak pernah berhenti kepada umat Islam yang mengalami penindasan di mana-mana. Di sinilah persentuhan Bahtiar awal dengan gerakan civil society Muslim terbesar ini.

Barangkali tak berlebihan untuk disebut bahwa Bahtiarlah aktivis HMI Ciputat yang lebih lama secara institusional, terlibat aktif di Muhammadiyah dibandingkan dengan para seniornya, Komaruddin Hidayat, Azyumardi Azra dan Fachry Ali. Hingga wafatnya, Bahtiar tercatat sebagai salah seorang Ketua PP Muhammadiyah.

Transformasi Pendidikan Islam

Catatan Fuad Jabali, yunior HMI Ciputat dan ahli sejarah Islam dari UIN Jakarta, benar tentang Bahtiar. Dia mengatakan:  “almarhum sangat berperan dalam menaikkan mimpi Harun Nasution lebih tinggi lagi: mendirikan UIII, sebagai wujud baru peradaban Islam klasik di mana keragaman peradaban dunia diolah secara kreatif menjadi peradaban baru yang sangat unik. Menyadari bahwa keragaman hanya bisa diolah secara kreatif dan produktif dalam keluasan, batas-batas Kementrian Agamapun dia pertemukan bersama dengan batas-batas Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (saya lebih suka dengan nama lama ini), Kementrian Keuangan dan Kementrian Luar Negeri. Pertemuan ketiga batas kementrian inilah yang kini  bisa membuka jalan bagi UIII, untuk bertemu dengan batas-batas dunia baru di luar sana…. Insya Allah ke depan Indonesia akan menjadi pusat peradaban dunia yang jauh lebih matang dari Baghdad dan Cordova.”

Sebelum UIII, Bahtiar sudah intens terlibat dalam rangkaian dialog terkait dengan transformasi umat dan pengembangan perguruan tinggi Islam.  Bahtiar menyadari sepenuhnya, bahwa percepatan transformasi pendidikan Islam di Indonesia ini adalah sebuah keniscayaan. Transformasi ini, perlu agar bisa melahirkan orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memahami dengan cerdas, persoalan dan kebutuhan masyarakat dan bangsa sekaligus memberikan solusi dan menawarkan peradaban Indonesia ke depan yang kuat.

Sebagai bangsa dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, Indonesia memang haruslah tampil sebagai bangsa dan negara yang maju dan dihornati/diperhitungkan. Dengan pendidikan Islam yang berkualitas, maka bangsa Indonesia mampu menunjukkan bahwa Islam tidak sekedar kompatibel dengan modernisasi dan demokrasi, tapi sekaligus bisa menawarkan jalan menuju Indonesia Emas.

Pendidikan Islam adalah centre of excellent Indonesia yang menjadi garda depan menciptakan keadilan dan kedamaian. Pendidikan Islam juga pusat Wasatiyatul Islam yang diharapkan tidak saja untuk menghadapi agama dan ideologi transnasional, tapi justru membangun dialog dan kerjasama antar agama dan peradaban.

Bahtiar dan para seniornya yang lain, Din Syamsuddin, Azyumardi Azra dan Komaruddin Hidayat dalam waku yang panjang, telah memainkan peran diplomatiknya untuk meyakinkan masyarakat dunia, bahwa  Indonesia dan Islam Indonesia adalah bangsa dan kekuatan penting untuk membangun world peace. Karena itu, kemitraan perlu dibangun.

Inilah yang menjadi salah satu kunci masuk kolaborasi internasional government to goverment antara sejumlah  negara besar di Amerika, Eropa dan Ausralia dengan Indonesia khususnya dalam bidang pendidikan tinggi Islam. Apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh Bahtiar dan para seniornya di atas adalah melanjutkan gerakan pembaharuan Harun Nasution-Mukti Ali yang kemudian dilanjutkan oleh Menag Munawir Sjadzali.

Selain peran diplomatik dan dialog dialognya dengan berbagai kalangan di dalam dan luar negeri khusus tentang transformasi pendidikan tinggi Islam, Bahtiar terlibat secara lansung mengelola memimpin kampus sebagai Dekan FISIP UIN Jakarta, Wakil Ketua dan kemudian Ketua program pascasarjana studi Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta. Terakhir ini, ia pun aktif di pasca studi Islam yang pertama di lingkungan PTKIS. Mendapat dukungan dari Prof Harun Nasution, pasca studi Islam UMJ ini mengalami perkembangan pesat dan bahkan menginspirasi PTKIS lainnya untuk membuka juga.

Selaku sekretaris pasca, penulis menyaksikan keseriusan Bahtiar berdedikasi memajukan pasca studi Islam dengan ekspektasi dan mimpi besar dan dengan honor yang pas-pasan. Dia tidak mengeluh dan menuntut untuk dirinya, tapi justru meminta penulis mencari jalan untuk memperhatikan kesejahteraan dosen dan karyawan.

Misi besar

Kesempatannya melanjukan studi di Ohio State University, merupakan bagian dari misi besar transformasi pendidikan tinggi Islam, memajukan umat bangsa dan negara di atas. Program pengiriman  banyak santri alumni IAIN seperti Bahtiar untuk melanjutkan studi pasca sarjana ke berbagai universitas di Amerika, Kanada, Eropa dan Australia dilakukan sejak akhir tahun 1970an, memang dalam kerangka perubahan besar di Indonesia.

Arus Ciputat diawali oleh Harun Nasution lalu Nurcholish Madjid tahun 1960an dan 1970an, masing-masing ke McGill University di Montreal Kanada dan Chicago University. Setelah itu, menyusul Azyumardi Azra, Din Syamsuddin, Bahtiar Effendy dan Mulyadhy Kertanegara awal tahun 1980an.

Semuanya di Amerika Serikat, menempuh keahlian bidang kajian Islam dan ilmu sosial (sejarah dan politik).  Setelah itu, gelombang yang sangat masif ialah pengiriman dosen-dosen muda ke McGill University dan sejumlah kampus prestisius di Amerika, baik untuk program MA maupun Ph.D dalam bidang kajian Islamic Studies, Pendidikan dan Politik pada tahun 1990 an.

Selain penulis, ada sejumlah nama antara lain Fuad Jabali, Yusuf Rahman, almh. Nurlena Rifai, M Zuhdi, Abdurrahman Mas’ud, Ali Munhanif, Hendro Prasetyo, Didin Syafruddin, Yeni, Kusmana,  A Rifai Hassan, Saiful Mujani,  Ihsan Ali Fauzi, Jajang Jahroni, Saiful,  Ahmad Najib Burhani, Usep Abdul Matin dan masih banyak lagi. Di Eropa, antara lain ada Masykuri Abdillah, Arskal Salim, Amelia Fauzia, Jajad Burhanuddin, Din Wahid, dan Chaidir.

Islam dan Politik

Bahtiar dan para santri lulusan kampus-kampus Barat di atas, sangat besar berpengaruh terhadap transformasi kelembagaan dari IAIN ke UIN, dan sekaligus mempertemukan atau mengintegrasikan  kajian Islam dan ilmu-ilmu sosial. Namun demikian, mereka juga menjadi sarjana, intelektual dan aktivis ormas Islam dan politik yang sangat diperhitungkan.

Khusus bagaimana kiprah para Santri lulusan McGill University, Fuad Jabali dan Jamhari telah menggambarkannya dalam hasil riset yang sudah dipublikasikan “Islam dan Modernisasi di Indonesia.” Perbincangan soal Islam, demokrasi dan kemanusiaan banyak didominasi oleh ilmuan IAIN/UIN Jakarta. Bahkan lembaga survey  dalam waktu yang cukup lama dan sangat berpengaruhpun dipimpin oleh sarjana-sarjana IAIN/UIN.

Bahtiar, khususnya, dengan kedalaman pengetahuannya tentang Islam yang diperoleh di Pabelan dan Fakultas Ushuluddin IAIN Jakarta, dan ilmu-ilmu sosial yang ia peroleh di Amerika, berhasil menjelaskan dengan sangat baik relasi Islam dan negara di Indonesia.

Pandangannya sangat berpengaruh dan karena itu Bahtiar bukan sekedar seorang  political scientist biasa. Buku yang dia tulis bersama seniornya, Fachry Ali, tahun 1980 an “Merambah Baru Islam” sangatlah penting dan mengundang intellectual curiousity. Bukan saja para ilmuan, akademisi, peneliti dan mahasiswa yang berkepentingan terhadap buku ini, akan tetapi juga pegiat partai-partai politik.

Bagaimanapun juga, karakteristik kultural umat Islam sangat berpengaruh terhadap dinamika politik di Indonesia. Cukup banyak nampaknya sarjana yang kemudian terinspirasi untuk melanjutkan atau paling tidak mengikuti jejak kesarjanaan Bahtiar.

Dengan berdasarkan kepada buku Bahtiar ini, apalagi ditambah dengan karya klasik Azyumardi “Jaringan Ulama”, maka akan semakin gamblang gambaran tentang bagaimana terbentuknya  keunikan Islam di Indonesia yang oleh komunitas NU disebut sebagai “Islam Nusantara” itu.

Bermodalkan kepada karakterisik Islam Indonesia inilah gagasan tentang Islam Rahmatun lil Alamin, moderatisme Islam atau Wasatiyatul Islam memperoleh momentumnya yang pas, apalagi Pancasila sendiri sudah menjadi ideologi bangsa yang mengikat.

Pancasila dan Islam tidak mungkin bisa dibenturkan, karena memang sudah menjadi pilihan yang diyakini/disepakati. Bahtiar menjelaskan semua hal itu dengan analisis yang sangat tajam.

Pungkasan

Bahtiar sudah dipanggil Allah meningalkan keluarga yang dicintainya dan sahabat atau kolega dekatnya. Tapi dia juga meninggalkan rasa humornya yang tinggi, kehangatannya, solidaritas dan kesetiakawanannya yang besar, kecintaannya kepada Indonesia. Warisannya yang juga sangat berharga ialah spirit kesarjanaannya yang kuat, kritisismenya yang tajam dan tulus dan dedikasinya yang luar biasa untuk kemajuan dunia pendidikan tinggi Islam.

Selain pendiri dan dekan FISIP pertama di UIN, Bahtiar juga penggagas penting yang tak kenal lelah. Ia bekerja bersama seniornya Komaruddin Hidayat dan sejumlah koleganya yang lain untuk mendirikan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

Secara personal, penulis sangat kehilangan seorang kawan yang rajin nelpon mengajak/meminta untuk sarapan “lontong katupek” di Bundo, atau makan sate kambing muda. Perjalanan kunjungan saat Winter penulis bersama Bahtiar ke McGill University Montreal Kanada, tempat penulis menempuh pendidikan pascasarjana setelah 11 tahun penulis tinggalkan untuk keperluan pengembangan Ilmu Politik FISIP UIN Jakarta,  juga memori indah dan sangat mengesankan.

Banyak hal yang penulis peroleh dari Bahtiar. Makasih banyak Yar atas semua yang Anda ajarkan ke saya. Insya Allah, semuanya itu dan ketabahan serta kesabaran yang anda tunjukkan selama sakit menjadi jalan terang menuju Jannatun Naim, lakal Fatihah. Selamat jalan kawan.

Oleh: Sudarnoto Abdul Hakim

Tulisan ini telah terbit di: http://menara62.com/2019/11/21/mengenang-bahtiar-effendy/

Workshop on Character Building for English Students, Faculty of Adab and Humanities, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.  The workshop on Character building held by English Department, UIN Syarif Hidayatullah on Wednesday, 4 December 2019, with Dr. Tati Hartimah and moderator, Malika, and notulen, Zenith from English Department, class 5D. This event aims to motivate students how to build their characters emotionally and spiritually. The character building involves four main quotients: intelligence, emotional, spiritual, and adversity quotients. In order to get success in your studies you need to improve at least four intelligence mentioned previously. Thus, students will be encouraged to create their social intelligence and leaderships to get success in the future. The Students are also motivated to be active in organisations and volunteers in society to improve their leadership skills and shape their character buildings.