Museum Multatuli, Fah News- Dua bangunan megah nan artistik berdiri kokoh berdampingan di tengah-tengah kota Rangkasbitung, Lebak, Banten. Layaknya roman cinta Sunda-Banten di masa lampau Adinda dan Saidjah, kedua bangunan itu menjadi pelengkap satu sama lain. Selain itu, kedua bangunan tersebut sekarang ramai dikunjungi masyarakat untuk menggali pengetahuan, terutama sejarah dan kebudayaan.

Kedua bangunan tersebut adalah Museum Multatuli dan perpustakaan Adinda-Saidjah. Dua bangunan ini bisa dibilang sumber pengetahuan terbesar yang ada di kota Rangkasbitung sekarang. Museum ini pula dibangun untuk mengenang sosok tokoh Belanda penolak kolonialisme, sesuai namanya museum ini bernama Multatuli.

Hal itu pula yang membuat Setyadi Sulaiman, atau lebih akrab disapa pak Adi berinisiatif untuk mengajak mahasiswanya berkunjung ke Museum Multatuli. Pak Adi mengajak mahasiswanya ke tempat tersebut pada Minggu (13/10/2018). Mahasiswa yang diajak ke tempat tersebut merupakan mahasiswa jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI) semester 5.

“Tujuan ini sebenarnya mau lebih mengenalkan mahasiswa ke warisan budaya Indonesia yang itu tersebar di mana-mana, tapi jarang kita kunjugi salah satunya museum Multatuli ini.” Ujar Adi.

Dosen yang mengampu mata kuliah Museum dan Kearsipan ini lebih jauh menjelaskan bahwa sekarang ini mahasiswa hanya tahu Multatuli sebatas dari novel karyanya saja, Max Havelaar. Padahal, menurutnya masih banyak sisi lain yang bisa dikaji lebih dalam lagi tentang jati diri Multatuli ini. Dia mengharapkan, mahasiswanya bisa berpikir lebih dalam dan terbuka setelah mengunungi museum tersebut.

Ketika ditanya mengapa memilih mengunjungi museum Multatuli, Adi menuturkan bahwa masih banyak lagi museum yang akan dikunjungi. Ia juga berpendapat bahwa sosok Multatuli penting dikaji sebagai upaya penguatan ilmu humaniora yang membutuhkan penggabungan antara bahasa, sastra dan sejarah.

“… Pramoedya (Ananta Toer) sangat terinspirasi oleh Multatuli sehingga kita harus tau dan tau sejarahnya. Sehingga kita lebih paham bagaimana memadukan kajian-kajian sejarah dengan sastra.” Tambah Adi.

Mahasiswa yang diajak Adi pula sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Salahsatunya yaitu Ridho Solihul Haq. Ia menjelaskan bahwa sebelum ke museum ini dia tidak tahu kenapa museum tersebut disebt Museum Multatuli. Namun setelah berkunjungn dan mendapatkan penjelasan dari tour guide, dia mendapat pengetahuan baru.

“Multatuli itu nama orang Belanda, Edward Douwes Dekker. Nama Multatuli itu berasal dari bahasa latin, yakni Multa sama Tuli, artinya yang selalu tersakiti.” Ujarnya.

Mahasiswa asal Bandung ini pula sangat terkesan dengan sosok Multatuli yang keras menentang kolonialisme. Menurut pengetahuan yang didapat Ridho, Multatuli bahkan sampai ditolak oleh kerajaan Belanda untuk kembali ke tempat kelahirannya di Belanda. Selain terkesan dengan sosok Multatuli, Ridho pula terkesan oleh bangunan Museum dan Perpustakan ini. Menurutnya, gaya museum seperti ini sangat bagus dan kekinian.

Sama halnya dengan Ridho, pengalaman serupa dirasakan oleh Faiqah Fauziah. Ia menuturkan pula banyak pengetahuan baru yang didapat. Faiqah terkesan oleh roman cinta masa lampau Saidjah-Adinda yang harus tepisah karena perlakuan bangsa penjajah.

Ketika ditanya bagaiman kesan yang didapat dari kegiatan ini, ia sangat merasakan hal yang berbeda dengan apa yang biasa didapatkan di kelas. Kesan berkunjung ke museum atau tempat bersejarah lain merupakan sebuah keperluan bagi mahasiswa sejarah.

“… Senang banget, kalo bisa sih tiap mata kuliah ada kunjungan juga. Kayak misal belajar tentang prasejarah, ya berkunjung ke museum prasejarah gitu.” Tambahnya.

Desty Sri Lestari melengkapi pernyataan dari Ridho dan Faiqah, Ia lebih menyoroti perihal tampilan museum yang dinilai sangat unik,

“Disana, kami dapat menemukan bangunan-bangunan yang memadukan corak masa lalu dengan masa kini, salah satunya ada di pendopo bagian depan sebelum memasuki museum tersebut. Kisah-kisah sejarah dibungkus apik dengan menampilkan ilustrasi kekinian yang didukung oleh menyampaian informasi melalui multimedia”, pungkasnya.
(Faisal. S)