الخطُّ الحسَنُ يَزيدُ الحقَّ وُضُوحًا
“Tulisan yang bagus menambah kebenaran semakin jelas.”
(HR Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus)

Tulisan CANTIK, BAIK, dan BENAR siapa tidak tertarik? Tapi bagaimana caranya, karena ketiga “syarat kesempurnaan”
tsb menuntut “kebersihan dari noda dan kesalahan”.
Itu berarti kaligrafi harus di-upgrade biar menjadi karya yang benar dan Indah dengan cara dinilai melalui KOREKSI. Koreksi pertama-tama dilakukan oleh guru, tapi khattat juga harus bisa mengoreksi karyanya sendiri. Ini pengalaman seorang korektor:

جرَّبنا طُرقاعديدةً فى إصلاحِ الخطِّ، فلمْ نَجِدْأصلحَ من أن يُصَحِّحَ الطالبُ أخطاءَه بِنفسِه؛ لأنهاتعوِّدُه الأمانةَ والثِّقةَ بنفسِه
“Kami telah mencoba banyak cara mengoreksi kaligrafi. Ternyata, kami tidak menemukan yang lebih tepat selain murid mengoreksi sendiri kesalahannya karena hal itu akan membiasakannya memegang amanah dan percaya diri.”

Jadi, selain oleh guru, karya bisa dikoreksi sendiri. Tapi bagaimana caranya? Ini memerlukan MODAL PENGETAHUN ttg poin-poin obyek koreksian yang mudah dan simpel tapi mengena. Obyek2 tersebut akan menunjukkan plus-minusnya karya. Singkat kata, “apakah karya khat tsb sudah dianggap BERES atau KURANG BERES?”
Itu pertanyaan yang mudah dijawab dengan menggunakan “cara mengoreksi yang paling mudah” sehingga tahu “apakah suatu tulisan sudah HARMONIS atau belum.” Yaitu dengan memeriksa dan mengoreksi BENTUKnya, UKURANnya, TIPIS-TEBALnya, TEGAK-MIRINGnya, TINGGI-RENDAHnya, dan LENGKUNGANnya.

1) BENTUK huruf:
Bentuk2 huruf harus PROPORSIONAL alias BENAR. Wawu/و Naskhi dan Tsulus, misalnya, berbeda. Bentuk ج ketemu huruf2 naik ا, ل, ك tidak sama dengan ج ketemu و, م, ب. Bentuk Wawu Diwani, Farisi, Riq’ah bermiripan tapi tidak sama. Dst. Dst.

2) UKURAN huruf:
Besar-kecilnya ukuran huruf harus stabil, jangan yang satu kebesaran yang lainnya kekecilan. Kepantasan ukuran juga ditentukan oleh lebar-tipisnya mata pena.

3) TIPIS-TEBAL huruf:
Goresan horizontal (menyamping) lebih tebal daripada goresan vertikal (naik-turun). Tapi posisi ujung kalam harus stabil karena menentukan stabilitas tipis-tebalnya goresan. Jangan ada satu huruf yang diulang dengan ketebalan yang berbeda-beda.

4) TEGAK-MIRING huruf
Huruf2 tegak seperti ا, ك, ل harus stabil tegak miringnya. Jangan ada yang terlalu miring, sementara yang lainnya kurang miring atau terlalu tegak.

5) TINGGI-RENDAH huruf:
Keharmonisan huruf-huruf tertata dengan keseragaman tinggi rendahnya. Jangan ada yang terlalu pendek sementara beberapa terlalu tinggi.

6) LENGKUNGAN huruf:
Semua huruf memiliki lengkungan, terutama ق, ن, ي, ل, ح, س, ص . Penulisan lengkungan2 ini harus serasi dan seragam terlebih ketika diulang-ulang.
Sedangkan keharmonisan kaligrafi kontemporer ditentukan oleh “kesahihan khat & keterbacaannya” dan ketepatan memposisikannya secara proporsional menurut alirannya (figural, ekspresionis, dst.).

Keharmonisan 6 syarat huruf sahih tsb dapat menyempurnakan ketepatan spasi, komposisi, proporsi, dan bagian-bagiannya seperti pesan Nabi SAW kepada Abdullah:
ياعــبدالله، وسع مابين السطور، واجمع مابــين الحروف، وارع المناســبة فى صورها، وأعط كل حرف حقها.
“Wahai Abdullah, renggangkan lagi jarak spasi, susunlah huruf dalam komposisi, peliharalah proporsi bentuk-bentuknya, dan berilah setiap huruf hak-haknya.”

 

(DidinSirojuddinAR•Lemka)