Ciputat- Mahasiswa berprestasi nampaknya menjadi figur sentral yang harus selalu ada di setiap lembaga pendidikan, bagaimana tidak? Mahasiswa berprestasi biasanya mampu mendobrak eksistensi Universitas dan menjadi pemantik bagi mahasiswa lain untuk ikut berprestasi. Sebut saja Bobi, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora (BSA FAH) yang telah malang melintang dalam dunia pidato dan debat Bahasa Arab. Pria bernama asli Mahbubi ini memulai pendidikan Bahasa Arab sejak dirinya menimba ilmu di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata pada 2011. Rasa cintanya akan bahasa Arab berlanjut di tahun berikutnya saat dia mengikuti Kursus Ramadhan Bahasa Arab di Ponpes Darul Lughah Wa Durasatil Islamiyah, Pamekasan. Merasa tidak pernah cukup dalam belajar, Bobi mengikuti kursus lagi pada tahun 2013 di Pesantren Darul Lughah Wa Da’wah Bangil Pasuruan, Jawa Timur.

Kecintaanya pada Bahasa Arab mengantarkannya pada lomba-lomba tingkat nasional sampai Internasional. Perlombaan pertama yang Bobi ikuti adalah ALF PBA UIN Jakarta 2016, di lomba pertamanya ini Bobi berhasil meraih peringkat 3. Kendati demikian, Perjalanan Bobi tidak selalu mulus, ia harus menapaki krikil- krikil tajam yang ada di depannya. Pernah suatu ketika timbul hasrat untuk menyerah dan berhenti karena minim tropi yang didapat, “tahun 2017, dari 5 perlombaan saya cuma dapat 2 tropi, itupun hanya tingkat Jabodetabek, bukan Nasional, namun berkat motivasi dari teman – teman dan kesadaran diri, saya mulai bangkit lagi pada tahun 2018.” Ujarnya sambil menghela nafas.

Perjalanannya berlanjut pada tahun 2018, Bobi mulai mengikuti lomba debat Bahasa Arab arab terbesar di Indonesia yg diadakan oleh El-Markazi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Berangkat dengan modal nekat, anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) BSA ini meraih juara 3 dan menyabet gelar Top Ten Best Speaker. Bukan Bobi namanya bila tidak mendapatkan pelajaran baru disetiap lomba, pasca mengikuti lomba di UII, dirinya tertantang untuk mengikuti seleksi kompetisi debat bahasa Arab tingkat ASEAN yang diadakan di Universitas Islam Malaysia (USIM), dan berhasil lolos sebagai perwakilan dari UIN Jakarta.

Ketegangan di setiap lomba selalu menjadi momok yang menakutkan, pasalnya, lawan-lawan yang dihadapi Bobi dan kawan-kawan di Malaysia bukanlah orang-orang sembarangan. Misalnya saja saat harus berhadapan kontingen asal Malaysia,  Internasional Islamic University Malaysia (IIUM) yang notabene adalah finalis Kompetisi Debat Internasional di Qatar 2017 lalu.

Bersyukur, dengan segala usaha serta doa yang maksimal, Bobi dan kawan-kawan berhasil menumbangkan lawan-lawannya dan keluar sebagai Juara Pertama dalam Kompetisi Debat Bahasa Arab tingkat ASEAN di USIM Malaysia. Menurutnya perlombaan ini adalah yang paling berkesan, dari sinilah Tim Debat UIN Jakarta membangun kekompakan serta menyelaraskan gagasan agar kelak dapat lebih maksimal. Keberhasilan Bobi diluar tidak lantas membuat dirinya puas, dia akan terus belajar dan tetap berpartisipasi dalam kompetisi selanjutnya baik berskala lokal, nasional, maupun international. Terakhir Bobi menyampaikan pesan kepada siapapun yang sedang berjuang “Jangan putus asa ketika jatuh, terkadang orang mau bangkit itu harus terjatuh terlebih dahulu, yang dilihat orang bukan berapa kali jatuhnya, tapi berapa kali ia bangkit setelah ia terjatuh”, kata Bobi.