Tangerang Selatan, FAH News
“Untuk menembus artikel terindeks lembaga bereputasi ilmiah internasional, seorang linguis, baik murni maupun terapan, harus kaya dengan perspektif dengan pelibatan disiplin ilmu yang lain.” Hal itu dikatakan oleh Dr. Herri Mulyono selaku narasumber pada Workshop Konsorsium Ilmu Linguisti: model-model penelitian linguistik murni dan terapan di Wisma 3 Universitas Terbuka, Pondok Cabe (20/11/2017). Dosen UHAMKA yang tahun ini telah mempublikasikan 8 artikelnya di jurnal terindeks Scopus, dan 4 di antaranya telah terbit itu menyarankan bahwa untuk menulis artikel terindeks tidak mutlak harus merupakan laporan riset dengan skala nasional atau internasional. “Pembelajaran di kelas pun bisa dijurnalkan jika bisa menggunakan perspektif yang pas,” lanjut Ketua UPPI UHAMKA ini. Ia mengingatkan pula bahwa trend artikel yang masuk lembaga indeks bereputasi saat ini umumnya yang bersifat kualitatif, hampir tidak ada lagi kajian kuntitatif kecuali jika dikuatkan dengan perpektif dengan disiplin yang berbeda.
Sementara itu, Dr. Ganjar Harimansyah Wijaya menyoroti perlunya menghidupkan kajian tentang bahasa daerah yang jumlahnya mencapai 652 macam. Selain itu, lanjut Ganjar, mengkaji bahasa berarti mengkaji budaya dan tradisi penuturnya. Artinya, objek kajian di bidang bahasa sangat luas dan kaya. Ini merupakan peluang besar bagi dosen dan peneliti dengan latar belakang bahasa.
Workshop ini diselenggarakan oleh Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Peserta berasal dari dosen linguistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dari berbagai fakultas, terutama dari Fakultas Adab dan Humaniora. Tujuan workhsop ini, menurut Muhammad Agus Suryadi selaku ketua panitia, adalah untuk: a). Meningkatkan kemampuan dosen dalam meencanakan penelitian linguistic murni dan terapan; b). Meningkatkan kemampuan dosen dalam melaksanakan penelitian linguistic murni dan terapan; c). Meningkatkan kemampuan dosen dalam membuat laporan penelitian linguistic murni dan terapan; dan d). Membangun budaya akademik dalam konteks deseminasi ilmu melalui karya penelitian yang terpublikasikan.
Dekan FAH, Sukron Kamil menegaskan bahwa kegiatan peningkatan kapasitas dosen akan terus dilaksanakan oleh Fakultas. Alasannya bukan hanya karena merupakan tuntutan IKU dari Universitas, melainkan untuk menciptakan suasana dan budaya akademik, khususnya riset semakin tumbuh di kalangan sivitas akademika di FAH. Integrasi ilmu dengan Islam dan keindonesiaan yang merupakan visi Fakultas hendaknya tercermin dalam riset dan publikasi para dosen kita, lanjut Sukron. [ZA]