Senangnya mengikuti Festival Sambutan Maulidur Rasul SAW di Negeri Sabah, Malaysia, “karena KALIGRAFI sangat dimanjakan”. Bersama Ust. Isep Misbah (Indonesia) dan Ust. Abdul Baki Abu Bakar (Malaysia), saya bertugas jadi Hakim Pertandingan Kaligrafi Islam (Khat) Nusantara Kali ke-4 tahun 2019 yang diikuti para khattat ASEAN dan Pertandingan Spanduk Maulidur Rasul SAW untuk kategori grup-grup Kementerian/Jabatan Kerajaan/Swasta, Pertubuhan, Sekolah Menengah, Sekolah Rendah, dan Kampung. Turut pula mengisi acara Bengkel Seni Khat (semacam workshop atau kursus kilat kaligrafi). Saya kebagian ngursus kaligrafi di keramik. Sangat mengasyikkan, karena skill melukis di benda keramik atau mozaic ini merupakan “pelampiasan” dari pelajaran khat di bengkel sebelumnya. Ada lagi pojok Bicara Santai Seni Khat Bersama Hakim Seni Khat Nusantara. Kami “berbual” pengalaman dan teknik mengembangkan kaligrafi masing-masing.

Semuanya menambah kesyahduan. Rasanya ingin selalu dekat bersama Nabi. Yaa Rasulallah, kami rindu:
صلاة وسلاماعليك يا رسول الله.

Selain ceramah-ceramah yang diiringi gemuruh shalawatan di masjid-masjid dan Majlis Tilawah & Menghafaz Al-Quran, acara besarnya fokus KALIGRAFI yang dikonsentrasikan di Kota Kinabalu. Tidak tanggung-tanggung, lomba kaligrafi yang dibesut Negara Bagian (atau Provinsi kalau di Indonesia) ini terbuka umum untuk kawasan ASEAN. Menariknya lagi, dari 15 pemenangnya, 12 dari Indonesia dan 3 sisanya dari tuan rumah Malaysia. Masih ada yang lebih menarik, yaitu pertandingan spanduk shalawat oleh 80-an grup yang dibagi-bagi kepada kelompok-kelompok divisi Khat Tsulus, divisi Khat Diwani Jali, dan divisi Khat Kufi dengan masing-masing menerakan khat Rumi (Latin-Romawi) di sekelilingnya. Unik, orang Malaysia sangat akrab dengan khat Diwani Jali yang berkarakter luwes, lentur, dan mudah dibentuk. Tapi ketiga jenis khat ini ditulis sama indahnya di spanduk-sapnduk yang mereka kibarkan.

Oh iya, ada yang lebih menarik lagi, yaitu teks shalawat pertandingan untuk kategori grup-grup pelomba yang diambil dari 12 bait syair di kitab Maulid Al-Barzanji karangan Sayid Ja’far bin Husain bin Abdul Karim Al-Barzanji. Dalam bentangan spanduk-spanduk, dengan KALIGRAFI yang tertata indah, gemuruh shalawat terus dikumandangkan sepanjang jalanan, menggema ke ufuk-ufuk Nusantara dan dunia:

حفِظَ الإلهُ كرامةً لمحمدٍ آباءَه الأمْجادَصونًالِإسمِه * ترَكواالسِّفاحَ فلم يُصِبْهم عارُهُ من آدمٍ وإلى أبِيهِ وأمِهِ

“Telah dipelihara oleh Ilahi kemuliaan Muhammad, dimuliakan keturunannya adalah suatu kehormatan atas namanya * Mereka tidak suka mencampuri perang saudara sehingga mereka tidak terbawa-bawa oleh petakanya, semenjak Nabi Adam sehinggalah kepada kedua-dua ibu bapanya.”

كُنْ شَفِيعّاياحَبيبى يَومَ حَشْرٍواجتِماعٍ * ربناصلِ على مَنْ حَلّ فى خيرِالبِقاعِ

“Jadilah engkau sebagai pemberi syafa’at duhai kekasihku, kepada hari berhimpun dan berkumpulnya (seluruh makhluk) * Wahai Tuhan pemelihara kami, limpahkanlah selawat ke atas dia yang tinggal di tanah lapang.”

Oleh: Didin Sirojudin AR

Editor: AY