Kisah Unik Unak-anik Huruf

Rupa-rupa cara orang naik haji. Kalau saya, naik haji dengan menulis Al-Qur’an Berwajah Puisi pesanan Sastrawan H.B. Jassin. Setahun lamanya sejak ditulis beberapa juz, Al-quran berukuran kertas HVS A-4 yang disusun “berwajah puisi” selama berbulan-bulan itu menuai kontroversi dan polemik di pelbagai media massa.

Tahun 1993, ketika H.B. Jassin meminta saya menulis mushaf tersebut, ia bertanya: “Berapa saya harus bayar?” Tiba-tiba teringat kalau saya belum haji. Ini dia kesempatan. “Saya dan istri mau haji. Jadi tolonglah Pak Jassin bayar 15 juta,” jawab saya. Waktu itu ongkos naik haji 6 jutaan rupiah.

“Wah, itu banyak sekali! Al-Qur’an yang ditulis Saudara Sirojuddin dulu kan hanya 3 juta!” Pak Jassin kaget. Sebelumnya saya memang pernah menulis mushaf “القرآن الكريم “BACAAN MULIA” Terjemahan H.B. Jassin” dengan bayaran Rp 3 juta.

“Pokoknya saya dan istri ingin sekali naik haji,” saya bersikukuh. Sebelumnya ada yang kirim surat dengan mencantumkan nama saya: H. Sirojuddin. Saya yakin, mungkin sudah ada yang mulai ngedoain saya naik haji. “Saya enggak sanggup membayarnya,” Pak Jassin kembali menimpali.
“Saya pun yakin Pak Jassin pasti tidak akan sanggup membayarnya,” kata saya, seolah, meyakinkan.

“Terus, dari mana saya dapat uang?” tanya Jassin. H.B. Jassin, penulis buku “Heboh Sastra 68” dan pernah setahun dipenjara karena tulisan “Langit Makin Mendung” di majalah sastra Horison yang dipimpinnya memang tidak punya banyak uang. Akhirnya, dengan mantap saya jawab: “Dari Allah.”

“Baiklah kalau begitu saya akan minta dulu kepada Allah,” jawab Pak Jassin. Entah bergurau atau serius, pujangga yang digelar “Paus Sastra” itu menerima tawaran saya. Sampai sekitar 3 minggu kemudian saya dipanggil untuk mulai menulis. Rupanya, tokoh sastra yang menghibahkan lebih 40.000 bukunya ke Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin di Taman Ismail Marzuki Jakarta ini mendapat bantuan Rp 25 jt dari Menristek B.J. Habibie.

“Tuh khan Pak. Saya belum menulis, uangnya sudah ada. Hanya 3 minggu. Saya juga mintanya 15 juta, Pak Jassin malah dikasih 25 jt. Bukankah itu dari Allah?” kata saya setengah menggoda. Pak Jassin hanya mangut-mangut (mungkin kaget dan kagum dengan kemurahan Allah) sambil tersenyum: “Iya, benar. Benar dari Allah,” kata Pak Jassin, pelan. Sampai Al-Qur’an itu selesai ditulis, Pak Jassin malah membayar saya 17,5 jt dan saya pun bertiga dengan istri dan ibu berangkat haji tahun 1994. Al-Qur’an Berwajah Puisi adalah mushaf ke-4 yang pernah saya tulis. 

Karena membawa ibu, saya sedikit terkendala kekurangan uang. Saya pun berdo’a, “Ya Allah berilah hamba 4 juta rupiah,” dengan menyebut langsung angka yang dibutuhkan. Saya dapat proyek menulis kalender kaligrafi, dan, ya Allah, benar-benar pas dibayar 4 juta. “Kenapa gak minta 10 juta ya?” saya pikir waktu itu.

Saya tambah kaget, karena sesampainya kami bertiga di Mekkah, H.B. Jassin juga sudah berada di Mekkah. Lantas ia bercerita: “Pak Harmoko (Menteri Penerangan) kagum sekali melihat tulisan Al-Qur’an Sirojuddin ini. Sebagai rasa senangnya, dia kasih saya hadiah dengan menghajikan saya nyusul ente.” Subhanallah, pantul-memantul. Al-Qur’an luar biasa dan penuh berkah.
_______

✒🔹🔸📖💰🕋خط القرآن
(DidinSirojuddinAR•Lemka)

Gambar:
Mushaf AL-QUR’AN BERWAJAH PUISI & foto bersama H.B. Jassin, 1993.