SERU seperti REVOLUSI. Menggebrak. Menyentak. Merombak. Mengobrak-abrik. Kaligrafi juga terbawa dalam arus revolusi yang mengobrak-abrik. Itu setidaknya muncul dalam Musabaqah Khat Al-Qur’an (MKQ) MTQ Provinsi Kalbar, tg 1-6 Juli 2018 di Kabupaten Mempawah.
Bagaimana tidak seru? Semua Golongan aksaranya tambah “aneh”. Meskipun seluruh peserta sama-sama bertarung untuk Golongan NASKAH, HIASAN MUSHAF, dan DEKORASI, namun semuanya nggak asal-asalan ncoret gaya Naskhi, Sulus, Diwani, Diwani Jali, Farisi, Kufi atau Riq’ah. Ada yang mengolah Naskhi ala Hasyim Muhammad Al-Baghdadi, banyak pula yang kesengsem gaya Mehmed Shawqi Efendi. Sepertinya bau-bau Shawqi jadi trending topic waktu-waktu belakangan ini. Sulus juga beragam-ragam dari yang bergaya Hasyim, Hamid Al-Amidi, Sami Efendi atau Sayid Ibrahim hingga yang lebih mementingkan art performance Sayid Ahmad Al-Rifa’i. Pemilih tipe ini ingin unjuk kreativitas yang eksklusif, berbeda dari yang ada.
Langgam “gado-gado” kadang terlihat juga dalam Diwani Muhammad Izzat + Gazlan Bek atau Naskhi Hasyim + Shawqi atau tipe Farisi Iran + Pakistan. Berderetnya keragaman dalam satu ayat seperti sederetan patung-patung dalam lukisan Pantheon de la Guerre. Perpaduan antara gaya dan fungsi, kadang membikin keder beberapa Dewan Hakim, tapi jadi “tantangan” buat mereka untuk “belajar lagi” supaya tidak ketinggalan.
Yang lebih menggelitik, Golongan KALIGRAFI KONTEMPORER. “Memulai dengan meraba-raba”, kemunculan juara-juara 1 kemudian dijadikan referensi dan guru para kompetitor berikutnya. Maka, nama-nama Poniman, Ernawati atau Rabiatul Adawiyah langsung saja direfer dan jadi panutan vis-a-vis gaya Sayid Akram (saya namakan mazhab Akrami seperti mazhab Syaifuli punya Syaiful Adnan) yang sudah berkembang sebelumnya. Seperti gemuruh angin dan debur ombak, tipe kontemporer berkembang cepat bahkan setengah “liar” melompati pola-pola torehan Hassan Al-Massoudi, Jalil Rassouli, Kemal Boullata, Rashid Butt, Zenderoudi, dan Naja Al-Mahdaoui. Apalagi dalam kontemporer Figural, alam diplantar-plintir putar-puter membentuk Surrealisme dengan bebasnya seperti barang punya sendiri saja.
Adat bersandar GURU yang “digugu dan ditiru” ini baik, bahkan bisa jadi cikal bakal kelahiran gaya khas Indonesia. Rahasia kaligrafi juga ada di tangan guru, seperti kata Imam Ali ra:
الخــط مخفى فى تعليم الأســـتاذ
“Kaligrafi tersirat dalam pengajaran guru.”

Yang lebih keras juga ada, yang menganggap “guru wajib adanya” :
ومن لا له شيخ وعاش بعقله •
فذاك هباء عقله وجنون
“Barangsiapa tidak punya GURU dan hidup hanya dengan akalnya •
Itu adalah kesia-siaan akalnya dan perbuatan gila.”
Belajar kepada banyak guru adalah bagus agar jadi kaya dan tambah bijaksana. Seperti Imam Syafii yang pemikiran mazhabnya dianggap paling luwes bisa diterima banyak pihak karena ilmunya banyak yang diperolehnya dari ratusan gurunya. Dari Imam Malik yang kuno dan dari Imam Abu Hanifah yang liberal, Syafii menyatukan dua pemikiran yang berbeda. Lemka yang membina dari ALIF memanage calligraphy development in Indonesia juga dengan banyak guru. Seorang khattat atau pelukis kaligrafi yang banyak gurunya, waaaaaaaah… akan JADI LEBIH HEBAT lagi.

 

 

 

 

 

*DidinSirojuddinAR•Lemka