Riak-riak ombak menerpa pantai. Enak juga menyusuri hutan Fakfak yang rimbun. Sekujur bumi isinya batu semua. Tapi alangkah suburnya Tanah Papua. Pohon-pohon tinggi berwarna hijau yang hidup. Banyak pohon sagu tertancap di rawa-rawa. Wilayah guyuran hujan tropis. Sinar matahari memancar dari balik daun-daun. Ini adalah perjalanan saya yang mengasyikkan ke distrik Teluk Patipi sebagai tugas Dewan Hakim untuk “ngejuri’in” lomba dan atraksi Kaligrafi. Sampailah ke tempat tujuan, Teluk Patipi yang indah. Surya senja masih saja memancarkan cahayanya. Anak-anak, seperti di film Si Bolang, senang mandi di tepian.

 

 

 

Seperti di setiap perjalanan. Dua hal, paling menarik perhatian saya, yaitu masjid dan pepohonan. Kayak pohon-pohon di hutan Fakfak ini. Sungguh terasa, melihat itu-ini atau peristiwa-peristiwa di jalanan memanglah perintah:
قل سيروافى الأرض فانظروا
(Katakan: “Berjalanlah di bumi lalu lihatlah!”)


Melihat kanan kiri hutan Fakfak. Pantai-pantainya yang indah. Menarik. Show bizarre untuk jadi bahan berfikir dan berzikir. Lebih menarik, suasananya yang tentram. Hidup “harmonis, toleran, dan damai” dalam slogan Satu Tungku Tiga Batu. Di satu rumah ada beberapa penganut agama berbeda, tetapi itu biasa. Seperti slogan di Raja Ampat, Satu Rumah Empat Pintu, yang maksud dan nadanya sama.
Tambah menarik lagi dengan keunikan karya-karya Kaligrafi dalam MTQ Kab. Fakfak VIII, 23-26/3/2019, yang panggung tilawahnya dibangun di atas air laut Teluk Patipi. Seluruh peserta lomba adalah anak-anak Fakfak asli. Fakfak tidak mengambil anak-anak luar. Fakfak sedang belajar “menggali MUTIARA” di tanahnya sendiri. Anak-anak yang ikhlas dan lugu-lagu. Kualitas estetis tulisan dan lukisannya rata-rata masih basic. Kecuali yang beberapa waktu pernah belajar di Pesantren Kaligrafi Al-quran LEMKA, Sukabumi. Kesederhanaan karya-karya dapat dilihat pada:
• Pengetahuan gaya-gaya khat murni tradisional Naskhi, Tsulus, Farisi, Diwani, Diwani Jali, Riq’ah & Kufi, dan Kaligrafi Kontemporer Tradisional, Figural, Simbolik & Ekspresionis.
• Konsep Bahasa Rupa yang menyolidkan gagasan komposisi, lay out, dan keindahan tatawarna dalam format bidang karya (TULIS atau LUKIS) keseluruhan.
• Pengetahuan Pedoman Musabaqah sebagai “syarat pengukur akurasi” lomba (seperti WUDHU yang jadi alat ukur sahnya SHALAT).
• Perjalanan panjang & pengalaman “bertempur” dalam lomba.
• Punya koleksi Karya hasil Training Center Golongan NASKAH, HIASAN MUSHAF, DEKORASI atau KALIGRAFI KONTEMPORER.
Tapi para peserta pilihan ini siap “bertempur” pada MTQ Provinsi Papua Barat di Sorong Selatan. “Semuanya semangat siap jadi juara dan takkan mengalah dlm PERTEMPURAN.”

 

 

 

 

 

Oleh: (DidinSirojuddinAR•Lemka)