Teater Bustami Abdul Ghani, Fahnews- Untuk menunjang mata kuliah pembuatan film dokumenter dan penulisan naskah, Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) Universitas Islam Negeri Jakarta menyelenggarakan workshop film kreatif. Acara ini dihelat di teater Prof. Dr. Bustami Abdul Ghani lantai 5 Fakultas Adab dan Humaniora pada Rabu, (27/9/2018).

Adi Pranajaya, sutradara sekaligus Dosen di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), yang sudah 30 tahun lebih terjun ke dunia perfilman menjadi pemateri pada acara workshop Film Kreatif. Adi menyampaikan bahwa ada dua hal yang perlu diketahui tentang orang dibalik film, yaitu sinemas atau seniman film, yang mana selalu berusaha menampilkan pesan dan nilai-nilai moral, dan memikirkan bagaimana mencerdaskan bangsa, dan yang kedua sebutan untuk tukang film yang kerap melahirkan sebuah film yang tidak layak ditonton atau hanya berorientasi pada keuntungan.

Workshop Film Kreatif yang dimulai pada pukul 09:30 WIB merupakan pelatihan bimbingan karier untuk mahasiswa semester akhir, yang dinilai sangat perlu, terlebih lagi persiapan untuk menghadapi tantangan zaman dan dunia yang semakin tidak bisa terpisahkan dengan teknologi dan informasi. “Pelatihan ini sebagai pemantik saja, agar tergugah bakat dan minatnya, selanjutnya dikembangkan di masa yang akan datang,” ujar Zubair Wakil Dekan Bidang kemahasiswaan dalam sambutannya.

Senada dengan Zubair, Ilyas selaku moderator pada acara tersebut mengatakan bahwa menjadi mahasiswa sejarah Islam harus mampu bersaing dengan mahasiswa sejarah lainya, maka seharusnya banyak nilai keislaman yang bisa diangkat dalam sebuah film dokumenter.

Antusiasme mahasiswa dalam mengikuti acara ini membuat acara workshop film kreatif semakin menarik karena mereka menganggap kegiatan ini menambah wawasan perfilman. Hal tersebut terlihat dari banyak mahasiswa yang melayangkan beberapa pertanyaan mengenai dunia perfilman.
Harapan Adi pada peserta workshop, akan muncul mahasiswa yang mampu melahirkan karya, baik itu film dokumenter dan sebagainya. Menurutnya beberapa dari banyaknya peserta harus ada yang menguasai dan mendalami dunia perfilman, karena sebagai mahasiswa sejarah tentu banyak fakta sejarah yang layak untuk diangkat dipublik, sekalipun tantangannya besar.

Pemutaran Film Dokumenter Keagungan Cinta Maulana Syaikh adalah persembahan dari Adi Pranajaya sebelum berakhirnya acara, yang dipersembahkan langsung untuk para peserta seminar, sekaligus contoh dari materi tentang perfilman terutama film dokumenter.

“saya sangat bersyukur fakultas mewadahi workshop ini, sehingga kami bisa banyak belajar dan menjadi tahu bagaimana membuat video dokumenter yang baik dan benar,” ujar Irma Zahrotunisa mahasiswa semester tujuh, Sejarah dan Peradaban Islam. Untuk zaman sekarang film dinilai mampu mengemas sejarah menjadi lebih menarik lagi, bahkan sudah saatnya sejarah diminati dan ramai perbincangkan.

(Anis.P)