DI samping berarti kembali kepada kesucian, Idul Fitri juga berarti Hari Raya Buka Puasa. Fitri memang mempunyai arti makan atau berbuka puasa (iftar). Selama satu bulan Ramadhan penuh setiap hari umat Islam berpuasa (siyam) dan setiap hari pula berbuka puasa (fast breaking atau iftar) sesuai dengan ketentuan Syariah. Selama break di malam hari, dibolehkan (dihalalkan) untuk makan, minum dan melakukan hubungan intim suami istri. Begitu ketentuan syar’i-nya dari sahur, puasa dan berbuka, rutin. Setelah lengkap satu bulan, puasa ditutup dengan sebuah festival, upacara atau perayaan yang disebut Hari Raya Buka Puasa atau Hari Raya Makan (Idul Fitri), 1 Syawal. Pada saat festival tersebut, diharamkan untuk berpuasa. Begitu seterusnya setiap tahun, umat Islam melakoni panggungnya. Apa yang  bisa dipetik?

Festival Islam
Tak bisa dipungkiri bahwa Islam dalam waktu yang sangat penjang telah “mensejarah”, menyatu dengan gerak atau dinamika masyarakat pemeluknya dan bahkan berpengaruh terhadap masyarakat lain. Tidak sedikit dijumpai bagian dari kehidupan masyarakat yang ternyata memperoleh pengaruh dari Islam. Contoh yang sangat sederhana adalah kausa kata kita. Lihatlah misalnya kata-kata “adil, adab, rahmat,  berkah,  makmur, musyawarah.” Kausa kata tersebut tak kan dijumpai dalam bahasa lokal kita karena ini memang kausa kata Arab yang diperkenalkan bersamaan dengan Islamisasi. Apalagi kausa kata yang berhubungan dengan soal kepercayaan/keimanan dan ibadah seperti “akidah, iman, kiamat, akhirat, salat, wudhu, imam, batal, ” dan lain-lain. Semuanya sudah menyatu, embodied dan terintegrasi sedemikan rupa dalam kebiasaan, tradisi, kultur masyarakat. Orang-orang non muslim pun sangat familiar dengan kausa kata di atas dan bahkan sudah meyakini menjadi milik mereka juga.

Elemen Islam masuk sedemikian rupa mempengaruhi kehidupan yang begitu kompleks. Proses historis Islam yang terjadi di berbagai tempat telah melahirkan warna warni Islam. Itulah Islam manifest, Islam yang telah dan akan selalu berdialog dengan realitas, menemukan jawaban-jawaban dan bentuknya yang kongkrit,  yang empirik dan nyata. Di antara begitu kompleknya keanekaragaman atau mozaik kultural itu, selalu saja ada titik titik persamaan. Ini bisa nampak dalam berbagai festival atau upacara yang dilakukan oleh umat Islam. Salah satu festival penting umat Islam yang setiap tahun dilakukan ialah Idul Fitri.

Idul Fitri adalah hari di tanggal 1 Syawal di mana umat Islam (1) tidak lagi diperbolehkan berpuasa, (2) mengumandangkan takbir tahlil dan tahmid sejak malam terakhir Ramadhan hingga besok harinya (3) salat sunnah muakkadah Idul Fitri dan (4) membayar zakat fitrah. Demikian ajaran pokok syariat Islamnya. Selebihnya, umat Islam menciptakan kreasi kultural sesuai dengan kebutuhan atau corak budaya lokal masing-masing. Takbir keliling kota lengkap dengan berbagai perangkat kelengkapan kulturalnya, misalnya, salah satu kreasi kultural Idul fitri. Ini adalah Karnaval Idul Fitri. Bahkan di banyak tempat diadakan lomba tabuh bedug, lomba takbir dan membakar mercon atau kembang api selayaknya tradisi masyarakat Cina. Riuh sekali karena sudah dipastikan tidak saja melibatkan banyak masyarakat akan tetapi juga pemerintah. Anggaran yang dikeluarkan untuk festival ini sudah dipastikan tidak sedikit. Festival ini, disamping didasarkan kepada alasan syiar takbir, juga merupakan eskpresi kegembiraan bersama setelah merasa lulus menyelesaikan puasa sebulan penuh untuk berlapar-lapar, berdahaga dan menahan dorongan atau hasrat seksualnya ditambah dengan perjuangan berat menembus kemacetan lalu lintas saat Mudik. Ritual bersusah-susah yang bahkan melibatkan anak-anak ini, diakhiri dengan upacara atau festival kegembiraan dan keriuhan atas kemenangan mereka melampaui pertempuran spiritual sejak malam terakhir Ramadhan hingga besok harinya 1 Syawal.

Di malam terakhir Ramadhan, festival dilakukan dengan takbir keliling dan berbagai acara lainnya. Sementara kaum ibu menyiapkan berbagai menu makanan besar yang khas dan snack atau jajanan sambil merapikan rumah. Besok harinya di 1 Syawal dengan mengenakan pakaian baru sandal dan sepatu baru, keceriaan nampak di setiap orang memulai festival. Setelah makan sekedarnya,  umat Islam keluar rumah berombongan menuju lapangan luas dan terbuka atau masjid sambil berTakbir, Tahlil dan Tahmid untuk salat sunah muakkadah dan dengarkan kutbah Idul Fitri. Setelah itu, berbagai aktivitas dilakukan: menikmati hidangan makan besar dengan berbagai menu dan  minuman dan jajanan, saling berkunjung dan menikmati hidangan. Bagi anak-anak, ini juga momentum yang sangat spesial karena mereka bisa membeli dan menikmati makanan dan minuman yang mereka kehendaki. Halal Bi Halal juga bagian penting dari festival Hari Raya ini. Disamping mendengarkan wejangan dan saling memaafkan, menikmati aneka makanan yang khas juga dilakukan.

Idul Fitri adalah pesta rakyat muslim yang intinya melebarkan hati untuk saling memaafkan, melebarkan kebahagiaan dengan menyediakan makanan dan minuman untuk siapa saja,  melebarkan kebaikan dengan memberikan “Pitrah/Fitrah Kecil” (uang) kepada anak-anak dan Faqir Miskin. Itulah mengapa Idul Fitri juga disebut sebagai Hari Lebaran. Umat Islam benar-benar menyatu dalam Festival of Fast Breaking, Hari Raya Makan/Buka Puasa. Inti upacara atau ritualnya adalah buka puasa atau makan minum dengan anggaran ekstra.

Makna Esensial
Tak kalah pentingnya, rangkaian puasa dan Idul Fitri juga mengandung makna yang sangat esensial bahkan kontekstual dengan situasi kebangsaan kita. Spirit yang hemat penulis menonjol dari puasa hingga Idul Fitri antara lain ialah daya tahan dan konsistensi kolegial untuk membangun kehidupan yang bermartabat terbebas dari keserakahan dan hedonisme. Pembebasan atau liberasi ini termasuk misi kemanusiaan (humanity) ajaran Islam yang sangat fundamental. Mengutip Ismail Faruqi dan Nurcholish Madjid, inti tauhid sebetulnya membebaskan diri dari belenggu dan ketergantungan terhadap pandangan serba dunia.

Tauhid adalah memperlakukan dunia temporal sebagai sesuatu yang profan bukan saktal; Tauhid ialah desakralisasi alam; yang sakral hanya Allah yang harus diperlakukan secara khusus; jangan campur adukkan yang sakral dan yang profan, harus dipisahkan di antara keduanya sehingga manusia benar-benar bisa memperlakukan dan berlaku secara tepat dan benar. Keserakahan dan hedonisme adalah salah satu bentuk dari pandangan serba duniawi yang membelenggu dan menjerat kemanusiaan. Dampak dari keserakahan sosial,  ekonomi dan politik yang dilakukan oleh siapapun akan sistemik apalagi jika negara melakukan pembiaran. Orang yang secara sosial serakah cenderung gila hormat, gila sanjungan, gila jabatan dan mudah untuk bertindak diskriminatif. Karena itu, segala cara akan ditempuh untuk meraih jabatan dan kehormatan. Orang yang serakah secara ekonomi  juga akan melakukan apa saja baik secara sendiri maupun jamaah. Mereka membajak negara, melakukan korupsi dan mengeksploitasi sumber-sumber ekonomi dan menyengsarakan masyarakat. Aparat penegak hukum dibeli, hukum dibungkam, politik diperlemah oleh intrik dan keadilan dirusak. Kekuasaan dan pemerintah juga tidak berjalan sebagaimana mustinya karena fungsi-fungsi perlindungan dan pelayanan untuk kesejahteraan masyarakat tidak berlaku. Yang terjadi adalah intrik dan perebutan politik untuk akses ekonomi seluas-luasnya dan kemewahan duniawi. Puasa telah terhenti.

Puasa syariat memang satu bulan penuh akan tetapi pesan moralnya adalah sikap mental yang abadi untuk menahan dan mengendalikan diri  tidak serakah, tidak mencuri atau merampok, tidak eksploitatif, tidak diskriminatif, tidak hedonis dan tidak melakukan kemunkaran atau kezaliman sosial, ekonomi, hukum dan politik. Puasa esensial ini yang nampak masih belum berjalan dengan baik. Spirit esensialis juga belum terlihat dari Idul Fitri. Semestinya mental dan spirit Lebaran (lebar, lapang dada dan hati serta kesediaan) untuk memberi, berkontribusi, membangun kepedulian dan kepekaan yang harus digali, diperkuat dan diperjuangkan secara terus menerus dalam kehidupan. Kesenangan, kedamaian, kohesi sosial, emakmuran, kesejahteraan dan keadilan adalah hak semua orang yang tidak boleh didiskriminasi oleh siapapun.

Karena itu semua orang dan bahkan negara sekalipun seharusnya mempunyai komitmen untuk membangun kerayaaan abadi, bukan hanya menikmati Hari Raya secara konsumtif beberapa hari sebagaimana dalam festival Idul Fitri. Pesan moral puasa sifatnya abadi dan pesan moral Idul Fitri untuk secara terus menerus menyediakan al-Fitr, makanan (kesejahteraan dan keadilan ekonomi) juga abadi yang harus secara terus menerus diperjuangkan. Wallahu a’lam bis showab.[***]

Oleh: Dr. Sudarnoto Abd. Hakim, M.A (Dosen Tetap di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Re-posting dari: http://rmol.co/amp/2017/06/24/296914/Idul-Fitri-Festival-Dan-Esensial- (Sabtu