Belum lama ini, beberapa media masa memberitakan hasil survei yang berisi Indonesia sangat lemah dalam hal sumbangsih temuan ilmiah, terutama dilihat dari publikasi ilmiah internasional. Indonesia merupakan negara ketiga terbuncit dari 163 negara yang disurvei. Tentu saja hasil survei ini akan menjadi lebih tampak lagi, jika data-data tambahan kita tampilkan. Dari hasil riset ilmiah yang dilakukan akademisi Indonesia, Indonesia secara umum merupakan arena yang menjadi hegemoni ilmiah Barat dan Arab. Isu ilmiah yang berkembang di Barat atau Dunia Arab akan ramai menjadi wacana di Indonesia. Indonesia baru menjadi pasar ilmiah, bukan memimpin pasar.

Secara teknologi, Indonesia juga merupakan pasar bagi teknologi buatan Barat, Korea Selatan, Jepang, dan Cina, bahkan Malaysia. Meski dulu pada masa Orde Baru konon Korea Selatan sempat belajar kepada Indonesia seperti dalam soal padi IR, kini teknologi Korea Selatan cukup menggurita. Indonesia kini kebanjiran produk-produk Samsung, KIA, dan Hyundai. Tentu saja harus diakui, dalam hal kedirgantaraan, Indonesia memang sempat membuat Dunia tercengang, meski problematik dalam pemasaran. Karenanya, tulisan ini ingin menguji seberapa jauh Idul Fitri relevan bagi lahirnya inovasi-inovasi, termasuk di dalamnya inovasi ilmiah. Paling tidak, secara teoretis.      

 

Idul Fitri dan Manusia Baru

Dalam sebuah hadis disebutkan, kaum Muslimin yang berpuasa karena iman dan ikhlas, karena Allah semata, ia akan diampuni dari dosanya seperti saat terlahir dari perut ibunya. Berdasarkan hadis ini, idealnya seorang yang melakukan puasa sebulan penuh di Bulan Ramadhan, pada hari raya Idul Fitri harus menjadi manusia baru. Seolah ia terlahir kembali. Idul Fitri dan puasa karenanya terkait dengan inovasi, temuan-temuan baru, terutama dalam bidang teknologi. Puasa dan Idul Fitri harus terkait dengan lahirnya  suatu karya dalam bidang apa pun, sosial budaya, ekonomi, politik, dan sains serta teknologi yang memiliki sisi orisinalitas yang tidak ada pada karya orang lain. Paling tidak, ada sisi sisi baru, meski sesungguhnya barang lama yang tidak seluruhnya baru, karena orisinalitas mutlak sulit ditemukan. Umumnya karya seseorang sesungguhnya berhutang budi pada karya-karya sebelum.

Ada banyak asumsi yang bisa kita bangun untuk membuktikan hal ini. Di antaranya, puasa yang berakhir dengan Idul Fitri terkait dengan bahasa penjungkirbalikan dari kebiasaan atau umumnya orang. Misalnya kata sahur, buka puasa, menahan diri untuk tidak makan,   minum dan hubungan seksual di siang hari, zakat fitrah pada malam takbir, dan lain sebagainya. Sahur dan buka puasa misalnya memperlihatkan bahwa inovasi tidak akan lahir dari mereka yang tidak mau keluar dari zona aman, dari model berpikir dan bertindak yang menjadi kebiasaan umumnya orang. Sahur misalnya penjungkirbalikan dari kebiasaan makan di jam enam atau jam tujuh pagi. Sahur dan puasa adalah tindakan yang “setengah gila” bagi mereka yang tidak biasa berpuasa, terlebih bagi orang-orang ateis yang mungkin akan menganggap puasa sebagai tindakan menyiksa diri.  Penjungkirbalikan itu pun biar membuat manusia tergugah menjadi manusia yang memiliki inovasi diminta untuk dilakukan berkali-kali. Setidaknya, selama 29 atau 30 kali.

Walaupun begitu, manusia dipandang tidak baik, jika selamanya hidupnya tidak normal demi inovasi dan kreativitas. Karenanya, pada hari Idul Fitri dikembalikan. Namun, pesan Idul Fitri dalam konteks ini adalah untuk bisa menjadi manusia yang berinovasi dan berkreativitas –dimana karyanya ada sisi signifikansi atau orisinalitas– tidak cukup dengan bekerja sebagaimana umumnya orang. Inovasi dan kreativitas terbangun di atas penderitaan, air mata keringat, dan latihan yang konsisten. Dan ini terkait dengan alokasi waktu. Mereka yang sukses dan berinovasi memiliki waktu yang sama, yaitu 24 jam sehari. Namun, yang membedakan mereka dengan umumnya orang, mereka bekerja sebagai passion. Saat bekerja pun, susah dibedakan apakah mereka sedang bekerja atau sedang menyalurkan hobinya, karena bekerja dan hobi telah menyatu. Mereka, sebab itu, mampu bekerja dengan fokus pada inovasi lebih dari 8 jam, tidak  sebagaimana umumnya orang.

Banyak contoh tokoh yang bisa dikemukakan. Dalam bidang sastra, Najib Mahfuzh bisa menjadi contoh nyata. Ia adalah  sastrawan Arab asal Mesir yang mendapatkan hadiah Nobel sebagai pengakuan Dunia akan inovasi karyanya. Mahfuzh sesungguhnya bukanlah sastrawan yang bekerja penuh waktu. Ia adalah karyawan Kementerian Wakaf dan Urusan Islam. Namun, ia menjadi sastrawan dengan  memanfaat waktu sisa bekerjanya. Setiap hari, setelah pulang bekerja di Kementerian Wakaf dan Urusan Islam,  secara konsisten antara jam lima sore sampai jam 12 malam ia menulis novel, cerpen, dan esai.  Berkat ketekunan dan bekerja lebih dari umumnya orang itu, ia menjadi sastrawan yang diakui Dunia.

Untuk menjadi manusia yang inovatif dan kreatif juga, berdasarkan perspektif puasa dan Idul Fitri harusnya tidak hanya menyandarkan hidup pada rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme adalah paham yang menyatakan bahwa suatu pernyataan dianggap benar jika sesuai dengan logika, berpikir lurus, baik dengan metode  induktif maupun deduktif. Sedangkan empirisme adalah paham yang menyatakan sebuah pernyataan dianggap benar/ilmiah jika itu hasil dari uji coba yang empiris dengan menggunakan indra berkali-kali dan hasilnya sama. Seorang yang ingin berpuasa tetapi ia hanya mengandalkan logika semata mungkin ia tidak pernah bisa berpuasa dengan berujung pada Idul Fitri, karena pada intinya puasa adalah menyakitkan badan, meski memperkaya keruhanian/spiritualitas kemanusiaan.

Seorang yang menginginkan karya-karya inovatif, karenanya, tidak bisa bersandar semata pada rasionalitas, meski hidup harus rasional dan empiris. Inovasi dan kreativitas bersandar juga, bahkan dalam beberapa kasus bersandar lebih banyak pada intuisi, pada kecerdasan emosi dan spiritualitas. Produk-produk Apple karya Steve Job berawal dari imajinasi Steve Job yang menginginkan komputer ada di setiap rumah dan kantor, dan imajinasi adanya komputer yang bisa dijinjing yang kemudian menjadi kenyataan. Karenanya, produk-produknya sangat berteknologi tinggi, tetapi juga bernilai seni, karena antara lain bersumber dari kesenangan Steve Job pada kaligrafi latin dan pada hal-hal detail. Mereka yang menginginkan inovasi dan kreativitas harus memulai dari mimpi-mimpi yang akan membimbingnya, mengingat alam ide/gagasan lebih tinggi daripada alam kenyataan, dimana alam kenyataan merupakan produk yang tidak sempurna dari alam gagasan. Saat mimpi-mimpi membimbing, itu berarti alam semesta seolah semua berkonspirasi untuk mendukung.  Ini seolah puasa dan Idul Fitri mengatakan bahwa hidup terlalu sempit, jika hanya didasarkan pada logika dan alam empiris semata. Sebagai sebuah ibadah yang harus dihayati, puasa dan Idul Fitri juga seolah mengatakan manusia pertama kali merasa dulu, sebelum kemudian berfikir empiris dan logis.

Untuk bisa berinovasi dan berkreativitas yang melahirkan orisinalitas tidak hanya cukup dengan semangat bekerja dengan fokus. Pelakunya harus dilengkapi dengan sikap hati yang   husnuz zhan, berfikir dan bertindak positif, terutama pada saat-saat upaya yang dilakukan gagal. Ini sejalan dengan puasa sebagai perjuangan fisik yang kemudian berakhir dengan Idul Fitri sebagai hari kemenangan dan keberhasilan. Seorang yang berpuasa tidak akan mencapai Idul Fitri jika tidak menganggap puasa sebagai sebagai sesuatu yang positif, meski menyakitkan perut.

Karenanya, orang yang ingin fokus pada pada inovasi dan kreativitas harus tidak memandang kegagalan sebagai kegagalan melainkan pembelajaran. Bahasa yang digunakan pun harus lebih positive thinking. Kesuksesan dalam pandangan puasa dan Idul Fitri merupakan akumulasi kegagalan-kegagalan dan juga pengalaman kesuksesan sebelum. Rasa sakit dan air mata dalam dalam perspektif puasa dan Idul Fitri bukanlah sesuatu yang negatif. Ini sebanding dengan beberapa ayat surat ad-Dhuha  bahwa dunia mungkin tidak mengenal Nabi Muhammmad jika sejak kecil punya ayah dan Ibu. Para ahli sejarah Islam pun mengomentari kematian ayah dan Ibunya, bahwa seolah Allah ingin mengintervensi kehidupan Muhammad agar kelak menjadi Nabi. Meski puasa menyakitkan badan, tetapi harapan harus selalu terpelihara, karena rasa haus dan lapar akan berakhir di setiap Magrib  Ramadhan dan berakhir dengan Idul Fitri sebagai hari kemenangan. Wallah a’lam Bis-shawab.

(Oleh: Sukron Kamil – Dekan dan Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)