AJI SAKA adalah pahlawan Tanah Djawa dalam legenda. Kalau HURUF SAKA? Nah, yang ini sekedar akronim dari tulisan yang dibuat SAKenAnya, SAKAinget, SAKAdaek atau SAKArepe dewek, dan SAKAdarna alias “asal jadi”.
Masih banyak tulisan yang dibuat “kurang sempurna” di tengah tambah maju dan semaraknya seni KALIGRAFI di Indonesia. Beberapa “karya tanggung” bisa dijumpai di berbagai media seperti mesjid, plang nama atau advertensi, bahkan lukisan. Jadi, kekurangan atau kesalahannya apa? 🔹✒ :
• Ada yang lebih mementingkan unsur artistik nya. Indah tapi salah.
• Ada yang salah bacaannya sehingga merubah maknanya. Hanya karena kelebihan atau salah memosisikan TITIK, الرحيم menjadi الرجيم atau ينـــبت menjadi يثــــبت , dll.
• Ada yang kurang tepat qawaid khattiyah atau KALIGRAFInya, seumpama tercampurnya gaya Naskhi dg Sulus atau tampilan Diwani & Farisi yg kurang jelas.
• Ada yang terkesan “maen tebak” dan “maen tembak” dengan menulis hanya pakai kuas cina dan tdk menggunakan standar kalam KHAT, sehingga kaligrafinya “tidak jelas juntrungannya”. Benar-benar jadi khat SAKA, sakenanya.
Kesalahan tulis umumnya disebabkan kurang hati-hati, tidak hapal maqra’ ayat, atau penulisnya awam qawaid imlaiyah (gramatika Arab). Kekeliruan khat karena kekurangmatangan menguasai kaligrafi dalam berbagai gayanya. Ada juga yang asal tunjuk dengan “memilih yang paling murah” atau “menyuruh bukan ahlinya”. Beberapa mesjid megah berhiaskan dekorasi kaligrafi yang kurang indah bahkan banyak salah. Mesjid itu jadi timpang antara fisik dan arsitekturnya yang megah dengan dekorasi kaligrafinya yang corengcang corengmoreng serba kurang.


Waaaah, ini tantangan. Pelajaran kaligrafi harus tambah digalakkan. Ini juga kesempatan bagi para KHATTAT dan pelukis kaligrafi untuk lebih aktif berkarya dan merevisi karya-karya SAKenanyA. 😆👍

*DidinSirojuddinAR•Lemka