Ciputat- Demi menarik minat mahasiswa baru (maba), Departemen Penelitan dan pengembangan Himpunan Mahasiswa Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam (Litbang HMJ SPI) menyelenggarakan bedah film Guru Bangsa: Tjokroaminoto. Bedah film dilakukan pada hari Jum’at, pukul 16.00-18.00 WIB di selasar lantai 4 Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) (14/9/2018). Diskusi dihadiri oleh sekitar 30 peserta yang kebanyakan adalah maba. Muchlis mahasiswa SPI semester 7 menjadi pembedah dari film ini, Cak Klis sapaan akrabnya adalah mahasiswa yang konsen dengan sejarah Sarekat Islam (SI).

Film Guru Bangsa: Tjokroaminoto menjadi pilihan karena sosoknya yang fenomenal, sebagaimana diketahui tiga orang dengan nama besar di masa lalu yaitu, Sukarno, Muso, dan Kartosuwiryo pernah menjadi muridnya langsung. Selain itu kesosokannya sangat berpengaruh dalam sepak terjang SI melawan kolonialisme pada awal abad ke-20. Film yang dibintangi aktor kawakan Reza Rahardian ini telah melalui tahapan riset yang cukup serius dari tim produksi, sehingga bagus dijadikan bahan berdialektika serta membandingkannya dengan sumber-sumber tertulis.

Ketua Departemen Litbang, Irfan Juliansyah mengatakan kalau acara ini dibuat untuk menarik minat maba SPI berdiskusi melihat minat diskusi yang terus menurun dari tahun ke-tahun sehingga menurunkan daya intelektual mahasiswa.

“Senin kemarin (10/9/2018) kami sudah menggelar diskusi seperti biasanya, tapi yang hadir sedikit, untuk menyiasati itu kami coba mengkolaborasikan hobi anak sekarang nonton film dengan diskusi supaya dapat manfaat dari film yang ditonton”, kata Irfan saat diwawancarai di pelataran kopertais.

Dalam hal melayangkan pertanyaan dan argumentasi bedah film kali ini mahasiswa baru belum menunjukan antusiasmenya, karena untuk sebagian besar mahasiswa, baru kali ini mengikuti bedah film sejarah sehingga belum terbiasa berbicara di depan banyak orang.

Syarif Cahyo Nugroho salah satu peserta diskusi mengatakan kalau diskusi seperti ini sangat menggugah selera karena kita bisa menonton film sambil belajar. Meskipun begitu dia mengeluhkan kondisi diskusi yang tidak kondusif karena berisik dan alur fillm banyak yang dilewati

“Diskusi seperti ini sebenarnya cukup mengasikan, tapi karena saya belum pernah baca tentang sosok Tjokroaminoto jadi saya kurang paham. Belum lagi film yang diputar alurnya banyak yang dipotong dan suasana diskusi berisik, saran saya untuk diskusi selanjutnya dilaksanakan di waktu yang lebih luang atau tidak mepet dengan waktu magrib, supaya bisa tuntas nonton dan diskusinya, ungkap Syarif.

Cak Klis sebagai pembedah menyampaikan bahwa diskusi film terutama film sejarah itu penting sebagai media untuk melatih daya analisis mahasiswa baru.

“Film sejarah penting untuk dibedah, karena tidak semua film sesuai dengan sumber otoritatif yang ada. Kandungan drama dalam film sejarah lebih banyak daripada fakta sejarah, sehingga sebagai calon sejarawan bisa memperbaiki kualitas film sejarah di masa depan nanti”, ujarnya.