Dalam Islam kita lebih kenal dengan hari Jum’at sebagai sayyidul ayyam atau “penghulu hari” (dengan keutamaan-keutamaannya) sebagaimana dikatakan Rasulullah SAW. Tdk kenal “hari2 sial”, seperti Rabu malapetaka atau Selasa-Sabtu sial. Jika Kiamat adalah malapetaka, kejadiannya justru di hari Jum’at yang mulia. Waktu kuliah dulu, kalau saya PP (Pulang Pergi) Jakarta-Kuningan, malah suka pilih-pilih hari Selasa atau Sabtu, karena bus kosong dari pedagang Jakartaan.
Tapi, memang, disebutkan dalam kitab السبعيات فى مواعيظ البريات , bahwa tenggelamnya Firaun & terkuburnya Qarun dan lain-lain terjadi di hari Rabu.
Orang2 kejawen ini suka bikin kultus-kultus yang mendiskreditkan. Malam Jum’at yang jelas-jelas mulia, kalau kliwonan sering dituding seram penuh setan, kuntil anak, kuntil bapak, dan lain-lain.
Yang paling tepat adalah mengikuti sunnah Nabi, para sahabat & pejuang Islam yang selama hidup mereka (tercatat dalam kitab-kitab sejarah) tidak pernah kenal “ririwa” (hal-hal menakutkan, pengganggu) seperti itu. Mana pula mereka bawa-bawa jimat (seperti peserta tes CPNS yang terazia waktu test beberapa hari lalu). Ketika Ali dilaporkan banyak kuntilanak di sebuah sumur tua, dia malah nantang: “Mana memedinya? Aku cincang-cincang!!!” Katanya, Ali membabat iblis-iblis itu di tempat yang akhirnya dikenal dengan Bir Ali (sumur Ali) sekarang.

Oleh: DidinSirojuddinAR•Lemka