Gedung Fah, Fah News
Kecintaannya pada naskah nusantara, mengantarkan Nida Fadlan menjadi seorang Filolog muda yang berbakat.
Kekayaan yang dikuasai bangsa Indonesia sudah tidak dapat disangsikan lagi.Mulai dari alamnya, adat istiadatnya, budayanya, serta manuskripnya. Adalah Muhammad Nida Fadlan seorang Filolog muda asal Cirebon yang ikut andil dalam pelestarian kekayaan yang ada di nusantara.
Dosen Filologi Fakultas Adab dan Humaniora ini mulai menggeluti dunia pernaskahan sejak tahun 2009, bersama Oman Fathurahman, Filolog terkemuka Indonesia. Nida sapaan akrabnya terlibat dalam program “Kaji Ulang Naskah Arab” koleksi Perpustakaan Nasional yang bekerja sama dengan Pusat pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM).
“Saya mulai terjun dalam dunia pernaskahan tahun 2009, waktu itu belum lulus kuliah. Saya diajak Pak Oman yang punya program kaji ulang naskah Arab koleksi Perpustakaan Nasional. Sederhana, dulu dimintai tolong ketik ulang semua koleksi Arab. Ada seribu naskah di sini, ”kata Nida Fadlan dalam wawancara khusus, Rabu (17/10) di kantor PPIM, Ciputat.

Pencapaian Karir Nida Fadlan
Selama 10 tahun menggeluti dunia pernaskahan, Nida Fadlan telah melakukan penelitian manuskrip yang ada di Indonesia. Diantaranya naskah Bayan Al-alif dan naskah surat-surat eyang kiyai Hasan Maolani. Ketekunannya dalam mengkaji naskah nusantara mengantarkan lelaki 30 tahun ini terlibat dalam beberapa program yang berhubungan dengan manuskrip.
Pencapaian yang diraih Nida sebagai Koordinator penelitidalam program Thesaurus Indonesia Islamic Manuscripts tahun 2009 yang membahas dengan Puslitbang Lektur kementrian Agama, Penelitidi Pusat Kajian Naskah Islam Nusantara (Pusnira), tergabung dalam organisasi Asosiasi Profesi Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA), dan yang terbaru Nida Fadlan sedang menjalankan program Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA) sebagai Data Manager yang membahas dengan PPIM , CSMC, Universitas Humberg dan Arcadia Foundation.

Melakukan penelitian di Universitas Leiden, Belanda


Gelar Sidang S1 Jurusan Bahasa dan Sastra Arab di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan S2 Jurusan Filologi di Universitas Indonesia, Nida berkesempatan mengembangkan penelitian-penelitian yang ada di Leiden, Belanda. Untuk melakukan penelitian yang lebih serius pada tesisnya yang berjudul Surat-surat Eyang Hasan Maolani.
Dalam pengembangan tesisnya, Nida mendalami isu tentang “Korban hoax pada masa kolonial”. Dalam tesisnya itu ia membantah disertasi yang selama 90 tahun menjadi rujukan yang ditulis oleh sarjana kolonial Belanda, Gerardus Willebrordus Joannes Drewes yang berjudul Drie Javaansche Goeroe (1925).
Dalam disertasinya GWJ Drewes menyebut bahwa Kiyai Hasan Maolani adalah penyebar aliran Cap Setan. Kemudian pada 2015 Nida dalam tesisnya membantah hal tersebut.Ia mengungkapkan bahwa Kiyai Hasan Maulani adalah seorang ulama penganut Syariat. Ulasan tesis yang telah diterbitkan dalam koran Pikiran Rakyat edisi 2017.
“Jawaban dari semuanya yang saya sukai adalah tesis saya. Karena dari tesis saya itu saya bisa membuktikan sesuatu yang selama ini orang anggap salah ”. Dia kemudian menambahkan “Saya bisa membuktikan bahwa kiyai Hasan Maulani itu bukan penista agama begitu. Saat saya ulas dalam tesis saya, enggak dia jelas-jelas ulama penganut syariat ”, tegasnya.

Inspirator Muhammad Nida Fadlan dalam dunia Filologi
Dalam perjalanan karirnya di dunia Filologi Nida mengaku banyak tokoh yang membantu dan ikut andil atas dirinya. Diantaranya Oman fathurahman, Achadiati Ikram, Titik Pudjiastuti, Tomy Cristomy dan M. Adib Misbachul Islam. Dalam wawancaranya ayah beranak satu ini menyebutkan M. Adib adalah seorang guru sekaligus teman.
Saat melakukan bimbingan skripsi M.Adib sambil meminum kopi dan memakai sarung. Pada 2015 M. Adib dan Nida melakukan ziarah bersama ke makan Kiyai Ahmad Ar-rifai dan Kiyai Hasan Maolani yang kebetulan makamnya bersebelahan.
“Beliau kuliah S3, saya kuliah S2, kami sama-sama kuliah di UI.Disertasi beliau tentang Kiyai Ahmad Ar-rifai Kalisalak tesis saya tentang Kiyai Hasan Maolani yang kuburannya saling bersebelahan di Manado ”. Papar Nida.
(Dinda. P)