Auditorium Harun Nasution, Fah News- Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) menggelar diskusi dan pelucuran buku sejarah dengan tema Tribute to Prof. MC. Ricklefs (Our Teacher, Friend, and Colleague) Soul Catcher: Java’s Fiery Prince Mangkunagara Fiery Prince Mangkunagara I 1726-1795. Acara ini diselenggarakan pada, Rabu (26/9/2018), bertempat di Auditorium Harun Nasution UIN Jakarta.

Acara ini mendatangkan tiga pembicara di antaranya: Prof. Peter Carey (Adjunct Profesor di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia), Prof. Azyumardi Azra (Guru Besar Sejarah Fakultas Adav dan Humaniora, UIN Jakrta), dan Prof. Oman Fathurrahman (Guru Besar Filologi Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Jakarta), yang dipandu oleh Dr. Amelia Fauzia (Dosen, Sejarawan UIN Jakarta dan Direktur STF UIN Jakarta) dan Dr. Fuad Jabali (Dosen, Sejarawan UIN Jakarta dan Peneliti Senior PPIM UIN Jakarta). Selain itu acara ini juga dihadiri oleh Sejarawan Indonesia Prof. Taufik Abdullah, Rektor UIN Sunan Ampel  Surabaya Prof. Masdar Hilmy, Wakil Rektor I IAIN Jambi Prof. Su’aidi Asyari, Djoko Pranyoto keturunan Mangkunagara I, Prof. Jamhari Makruf, dan Dr. Luhfi Assyaukakni. Selain itu peserta yang datang tidak hanya berasal dari kampus UIN Jakarta saja, ada juga dari UI, dan kampus luar lainnya.

Dalam sambutannya Dekan FAH menyampaikan bahwa kegiatan yang sangat penting apalagi untuk jurusan Sejarah dan Peradaban Islam, karena semua orang tau Prof. Ricklefs adalah seorang sejarawan ahli Jawa yang bukunya banyak digunakan oleh sejarawan Indonesia dan buku barunya ini merupakan karya yang sangat berharga, karena mampu memperbarui image Pangeran Samber Nyawa yang selama ini kita kenal. Setelah Dekan selesai melakukan sambutan acara dilanjutkan dengan peluncuran buku yang ditandai dengan penanda tanganan replika sampul oleh, Taufik Abdulah, Azyumardi Azra, Amelia Fauzia, Oman Fathurrahman, dan Fuad Jabali.

Sebagai pembicara pertama, Azra menyampaikan dalam bukunya Riclefs menggambarkan Mangkunegara I sebagai sosok yang sangat mencintai tradisi Jawa sekaligus muslim yang sangat religius. Mangkunegara I atau yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Samber Nyawa adalah pengikut dari tarekat Syattariyah. Sebagai muslim yang saleh, Pangeran Samber Nyawa juga mendirikan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam untuk rakyat Jawa. Azra juga mengatakan ada peningkatan jumlah pesantren dari 5000 pesantren di tahun 1882 menjadi 11.000 pesantren di tahun 1893. Berkat usahanya mengembangkan pendidikan Islam, Jawa menjadi tempat baru intelektualisme Islam di Nusantara menggantikan aceh pada abad ke-18 dan 19. “Gerakan tajdid sudah dilakukan oleh Mangkunegara I dan itu terjadi sebelum munculnya Muhammadiyah, tarekat Syattariyah yang diikuti olehnya termasuk tarekat syari’ah yang berperan penting dalam islamisasi Jawa”, jelasnya.

Selanjutnya giliran Peter Carey  melanjutkan pembahasan. Dia mengatakan bahwa Pangeran Samber Nyawa adalah orang yang sangat peduli dengan pendidikan perempuan, pada masanya perempuan bisa menjadi juru tulis, prajurit dan sastrawan. “Mangkunegara I atau Raden Mas Said nama aslinya, adalah orang yang sangat peduli dengan pendidikan perempuan sehingga pada masanya banyak perempuan yang menjadi jurutulis sampai prajurit”, kata Peter. Dia menambahkan bahwa akan ada pertanyaan setelah 100 tahun merdeka, pertanyaan itu adalah siapa diri saya, dari mana, dan mau kemana. Pertanyaan-pertanyaan itu akan sulit dijawab jika bangsanya sendiri tidak memahami sejarah masa lalunya, maka di sinilah peran sejarawan yaitu, menghidupkan kembali sesuatu yang sudah mati.

Oman Fathurrahman meyampaikan materi sebagai pembicara terakhir, dia menyampaikan bahwa karya Riclefs ini sangat seimbang dalam penggunaan sumbernya antara sumber lokal dan sumber barat. Berdasarkan temuannya lewat naskah-naskah kuno Oman mengatakan Mangkunegara I pernah menulis al Qur’an dengan format setiap jilidnya terbagi menjadi dua Juz. “Biasanya Mangkunegara I bersama para santrinya membaca al Qur’an secara bersamaan, format pembagian dua juz disetiap jilidnya berfungsi agar bisa menghatamkan al Qur’an dengan satu waktu”, ujar Oman. Setelah narasumber selesai memaparkan materinya acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, ada lima penanya yang mengajukan dan kemudian dijawab oleh para narasumber.

Setelah acara selesai wartawan Fahnews menghampiri Sejarawan Taufik Abdullah untuk meminta sedikit komentarnya, “Merle (Riclefs) adalah sejarawan yang memakai secara baik dan kritis sumber-sumber Jawa dan membandingkannya dengan sumber-sumber kontemporer Belanda, Merle mencoba memahami Jawa bertolak dengan pemikiran Jawa, dia adalah ahli Jawa paling terkemuka”, ujar Taufik. Kedatangan keturunan Mangkunegara I menambah menarik acara ini apalagi saat salah satu anggota keluarga yaitu, Djoko Pranyoto mengemukakan pandangan yang sedikit berbeda dengan para narasumber. “Eyang Mangkunegara I  adalah sosok yang tegas iya selalu memakai semboyan mulat sarira angrasa wani segala sesuatu itu harus dilakukan dengan mawas diri, kalau ingin bertindak apapun alangkah baiknya dipikirkan matang-matang dahulu itulah sosok beliau. Untuk karya Ricklefs ini saya sangat mengapresiasi, namun alangkah baiknya jika nanti ada yang ingin menulis lagi tentang Mangkunegara I harus mengumpulkan keluarga dulu untuk berembuk, supaya sejarah yang ditulis tidak melenceng”, jelas Djoko.

Dalam sesi tanya jawab Djoko sempat mengkritik foto yang ditampilkan oleh Peter Carey, menurutnya itu bukanlah Mangkunegara I dan memang tidak ada dokumen yang otentik tentang wajah aslinya. Perlu diketahui, acara ini terseleggara atas kerjasama Fakultas Adab dan Humaniora dengan Social Trust Fund UIN Jakarta. Rencana awal acara ini akan dilaksanakan di Teater Prof. Bustami Abdul Ghani Lt. 5 FAH, akan tetapi jumlah peserta yang mendaftar melebihi kursi yang tersedia maka acara ini dipindahkan ke Auditorium Harun Nasution yang mampu menampung lebih banyak peserta.

“Kami sangat tidak menduga kalau peserta sampai sebanyak ini, jadi acaranya kami pindah ke Auditorium Harun Nasution”, kata Direktur Sosial Trust Fund Amelia Fauzia. Ricklefs dalam kesempatan kali ini tidak bisa hadir, karena kondisi kesehatannya yang kurang baik. Kendati begitu dia tetap mengikuti acara dengan teleconference.