Selasa, 29 Oktober 2019 – Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (DEMA FAH) menggelar diskusi #Reformasidikorupsi Bincang Buku: Korupsi dalam Silang Sejarah Indonesia: dari Daendels (1808-1811) Sampai Era Reformasi, menghadirkan pembicara Peter Carey Sejarawan dan Penulis Buku dan Johan Wahyudi Dosen Sejarah FAH. Diskusi dihelat di Teater Bustami Abdul Gani lantai 5 FAH dalam rangka menyambut Festival Literasi 2019 yang akan dilaksanakan pada 04-11 November mendatang.

Dalam sambutannya Hanif Hidayatullah Ketua DEMA FAH menuturkan bahwa ia ingin menumbuhkan lagi semangt-semangat literasi dan diskusi di lingkungan FAH, menurutnya sejak dulu mahasiswa FAH sangat giat berdiskusi dan ia ingin melesatrikan budaya diskusi. “Kepengurusan Dema FAH kali ini cukup singkat, namun kami ingin memberikan yang terbaik untuk FAH, dengan menggelar Festival Literasi 2019 kami berharap akan tumbuh budaya literasi dan pojok diskusi di FAH. Terlebih lagi FAH memang terkenal kuat dengan budaya diskusinya” ucap Hanif.

Saiful Umam, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora

Dekan FAH, Saiful Umam menyambut baik diskusi yang diadakan DEMA FAH, baginya dengan menghadirkan sejarawan Peter Carey, seorang sejarawan dan penulis buku walaupun lebih terfokus pada sejarah jawa, terutama tentang pangen Diponegoro, namun Peter bisa menjadi salah satu sejarawan yang patut dicontoh, atau dirujuk. “Saya menyambut baik diskusi ini, dan Pak Peter Carey ini sejarawan dari luar namun sangat menggeluti sejarah Indonesia terutama lebih terfokus pada Sejarah Jawa, Sejarah Pangeran Diponegoro lebih tepatnya. Nah saya berharap mahasiswa bisa mencontoh dan bahkan merujuk pak Peter ini” ujarnya.

Menurut Peter Carey setiap negara memiliki masalah korupsi, dan korupsi sendiri dalam pemberantasannya menjadi tanggung jawab umum. Sebagai seorang sejarawan yang terfokus pada sejarah Jawa terutama mengenai Diponegoro, Peter mengatakan bahwa ada sosok tertentu yang bisa dijadikan contoh agar tidak melakukan korupsi. Ia menggambarkan seorang Diponegoro yang tidak korupsi, karena sejak kecil ia sudah menjelajahi hidup di antara rakyat miskin dan terpinggirkan, sehingga ia tahu betul kesengsaraan yang dialami oleh mereka.

Peter Carey dalam menyampaikan materi

Dalam pemaparan Peter, Eyang dari Diponegoro sebelum ia wafat berpesan kepadanya bahwa di pintu akhirat jika ia melakukan tidakan yang merugikan rakyat, sekalipun ia raja di dunia maka ia lebih hina dibandingkan seorang pelacur di jalanan. Ini merupakan cara untuk mendidik Diponegoro. Diponegoro bukan lulusan Harvad atau UIN dan sebagainya tapi ia mahir membaca situasi, zaman dan alam. “Korupsi terjadi di mana-mana bahkan setiap negara memiliki masalah korupsi, begitupun dengan Indonesia. Seharusnya kita bisa melihat pangeran Diponegoro, ia tidak pernah korupsi. Ia hidup menjelajah di kehidupan “wong cilik”, jadi dia tahu apa yang mereka rasakan, dan eyangnya sebelum meninggal berpesan bahwa jika ia melakukan tindakan yang merugikan orang banyak maka ia lebih hina dari pada pelacur di jalanan, sekalipun ia raja”, pungkasnya.

Peter mewanti-wanti generasi muda untuk meninggalkan zona nyaman. Untuk perubahan Karena keberadaan pada zona nyaman akan melahirkan bibit-bibit korupsi. Dia menegaskan bahwa seorang maling tidak hanya maling uang tapi juga waktu dan kesempatan. “Ayo wake-up, tinggalkan zona nyaman. Karena kenyamanan akan melahirkan bibit korupsi. Ingat maling itu tidak hanya maling duit”.

Dalam pemaparannya, Johan Wahyudi pembicara kedua, mengatakan bahwa korupsi sudah seperti kanker yang menyerang tubuh manusia, dan virus-virus tersebut sudah terpelihara sejak lama. Maka tidak heran jika seseorang sudah menduduki posisi tinggi atau bahkan memiliki kesempatan untuk meraup keuntungan sendiri ia akan melakukan korupsi. “Korupsi sudah menjadi seperti kanker yang sudah menggelayuti kehidupan kita bahkan sejak dulu kita memelihara virus itu, hingga mungkin menjadi petinggi dan pejabat melakukan penyelewengan. Banyak sekali contohnya akan pemberitaan tanah air yang dipenuhi oleh berita korupsi dari aparatur negara.” papar dosen Sejarah dan Peradaban Islam ini.

Menurut Johan, ketika era pembangunan jalan pos saat itu mulai dikenal dengan bibit-bibit korupsi seperti perselingkuhan antara pengusaha Eropa dengan Bupati-bupati Pribumi. Karena orang-orang Eropa datang membawa dana dan bupati sebagai pemilik tanah melakukan kontak tertentu agar projeknya berhasil.

Reporter: Anis Pitriani

Editor: AY