Ciputat – Jum’at, 04 Oktober 2019, Departemen Pemberdayaan Perempuan Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (DEMA FAH) menggelar diskusi publik dengan tema “Kupas Tuntas Vlog Najwa: Dari Perempuan Untuk Perempuan”. Acara ini dihelat di Perpustakaan koleksi Nurcholis Madjid lantai 1 gedung FAH.

Menurut Permata Anniza Putri selaku Sekertaris Departemen Pemberdayaan Perempuan, acara tersebut berangkat dari keresahan perempuan karena ketidakpercayaan diri di ruang publik. Diskusi ini sekaligus merupakan bentuk sosialisasi Departemen Bidang Pemberdayaan Perempuan, sebagai departemen baru di struktur kepengurusan DEMA FAH yang bertujuan mewadahi aspirasi perempuan dan ikut serta berkontribusi di ruang publik.

Diskusi diawali dengan nonton bersama vlog Najwa “Dari Perempuan untuk Perempuan”. Lalu membebaskan peserta untuk mengutarakan apa yang dapat mereka simpulkan dari vlog Najwa. Menurut pemantik pertama, Eva Nurcahyani, presedium Lingkar Studi Feminis (LSF), Najwa ingin mengajak perempuan untuk saling merangkul tanpa menjatuhkan, dan tidak saling menghakimi. Ia menambahkan bahwa perempuan banyak menderita Cinderella Complex Syndrome (ketidakpercayaan diri, padahal mampu) dan Queen Bee Syndrome (merasa lebih baik dari orang lain). Sehingga kepercayaan diri di depan umum berkurang, timbul rasa iri sesama perempuan, juga saling merendahkan.

Menurut Eva perempuan harus bisa melawan sterotipe atau pelabelan dan stigma. Eva menjelaskan macam-macam stigma yang sering terjadi pada perempuan, stigma fisik, stigma kesehatan, dan stigma tribal “stigma fisik misalnya, fisik si A lemah memang dia bisa apa? Stigma kesehatan misalnya teman-teman yang disabilitas lalu kita meremehkan mereka, dia mana bisa ngerjain ini, dan stigma tribal, stigma atas dasar agama, suku, dan Ras. Misalnya saya gak mau bekerja sama dengan perempuan suku batak, karena malas diomel-omelin” pungkasnya.

Juga Cendikia Ayu Sriwulan Kabid Advokasi dan Pemberdayaan Perempuan LSF sebagai pemantik kedua mengatakan bahwa Najwa ingin menyadarkan perempuan karena memiliki peran ganda, baik di domestik atau di ruang publik, maka sesama perempuan harus saling mendukung, tidak menjatuhkan dan saling merangkul.
Cendi sangat miris melihat realita perempuan hanya dijadikan objek, yang “dijual” Penampilan, dan penampilan harus didukung dengan seperangkat alat kecantikan, semua itu sudah diatur oleh kapitalis. Perempuan distigma tidak percaya diri tanpa make-up. Ia menyarankan agar perempuan harus mampu meningkatkan kualitas dirinya, Selain merangkul juga harus saling mengingatkan, memberikan dorongan juga perlu namun mengingtkan sesuai kapasitas juga perlu, agar tidak memalukan diri sendiri.
“Sesama perempuan harus saling mendukung, jangan sebaliknya, menjatuhkan karena iri. Juga mengingatkan sesuai kapasitas yang dimiliki, jika kapasitas tidak ada namun ingin tampil di ruang publik justru akan memalukan diri sendiri. Maka sebagai perempuan jangan hanya mengedepankan penampilan tapi juga isi otak, agar tidak terbelakang dan lebih percaya diri untuk berperan aktif baik di domestik dan ruang publik,” ujarnya.

Fikar, mahasiswa jurusan Tarjamah menanggapi persoalan kepemimpinan perempuan, menurutnya perempuan dalam kepemimpinannya tidak rasional karena terlalu sering menggunakan perasaannya, namun di ranah akademik perempuan lebih menonjol. Maka ia menyarankan agar perempuan mampu memerdekakan dirinya terlebih dahulu, “Biasanya perempuan kalau memimpin lebih sering menggunakan perasaannya, sering baper. Dalam pengamatan saya perempuan lebih menonjol di bidang akademik, lebih pinter. Terus menurut saya perempuan itu perlu memerdekakan dirinya terlebih dahulu”, paparnya.

Suasana diskusi berlangsung diiringi tanggapan dari peserta

Menanggapi pernyataan Fikar, Eva menyarankan untuk semua laki-laki dan permpuan untuk mengetahui lebih banyak tentang toxic masculinity dan toxic feminity agar tidak salah dalam menilai seseorang, terlebih lagi dalam kepemimpinan. Eva memberikan contoh, “laki-laki tidak boleh menangis, maka jika menangis dia banci, loh laki-laki juga punya air mata. Dalam dunia kedokteran menangis bagian dari hal yang wajar, fisiologis dan tidak melanggar kodrat, dan hal itu sah-sah saja dilakukan oleh perempuan dan laki-laki”, kata Eva.

Menurut Tati Sumiati, mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam, bahwa salah satu alasan perempuan tidak berani tampil di depan umum karena konstruk budaya yang ditanamkan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Perempuan kususnya mahasiswa berani menyuarakan feminisme, gender, sex dll. Tapi saat kembali pada keluarga tidak bisa lepas dari patiarki. Hal tersebut seperti sudah tersistematis sejak dulu, dan memang butuh waktu yang sangat lama untuk mengubahnya, tentu itu semua dari diri sendiri.

Reporter: Anis Pitriani

Editor: AY