Teater Bustami Abdul Ghani, Fah News- Mahasiswa sejarah dan Peradaban Islam (SPI) semester tujuh, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) menggelar workhsop Kewirausahaan dengan tema “Kupas tuntas pola pikir pengusaha muda muslim yang dinamis” dengan menghadirkan dua narasumber dari Zala Nusantara. Acara ini merupakan bagian dari mata kuliah Sejarah, Pariwisata dan Kewirausaahan, dihelat di ruang teater Abdul Ghani FAH, Senin (29/10).

Workhshop kewirausahaan dinilai perlu untuk mahasiswa semester tujuh, merupakan latihan bimbingan karir untuk mahasiswa tingkat akhir “Semester tujuh ada mata kuliah Sejarah, Pariwisata dan Kewirausaahan, maka hal ini perlu untuk memberikan pemahaman dunia bisnis pada mahasiswa, agar bisa belajar langsung dari pengusaha muda, dan mahsiswa tahu lika-liku wirausaha, sehingga mampu menambah pengetahuan dan motivasi untuk mahasiswa tingkat akhir” Ujar Kepala Jurusan SPI, Nur Hasan.

Dalam sambutanya, lelaki yang sering disapa Nur menyampaikan, mahasiswa banyak belajar tentang teori namun sedikit praktek, maka jurusan SPI menambah kurikulum pembelajaran agar mahasiwa melakukan pratikum kesejarahan, dan bisa belajar lebih banyak dengan pelaku usaha, untuk menciptakan lulusan sejarah yang mampu bersaing di dunia kerja dan mampu menjawab tantangan zaman.

Nur Muhammad Afif, pendiri Zala Nusantara menjelaskan hal terpenting dalam berbisnis adalah relasi, lalu partner bisnis. Menurutnya dalam memilih partner bisnis tidak bisa dilihat diri penampilan luar, bahkan orang kaya sekalipun tidak menjamin mampu menjalin kerjasama, namun memilih partner bisnis harus dilihat dari kinerja. “Hal yang paling sulit dalam bertbisnis bukan karena modal uang, tapi partner. Untuk mendapatkan partner yang baik tidak mudah kita tidak bisa melihat dari penampilan luarnya saja, orang kayapun belum tentu bisa bekerja sama, bahkan tidak menjamin terbebas dari resiko, namun mencari partner melalui kinerjanya, ini sangat perlu untuk menghadapi resiko yang terjadi”, katanya.

Afif mulai menekuni bisnis travel sejak mahasiswa, baginya berbisnis dan berdagang itu berbeda, bisnis memiliki plan, strategi marketing, partner, dan sebagainya. Dagang hanya sekedar mencari keuntungan dengan menjajakan daganganya tanpa banyak perubahan. Salah satu bentuk kerja sama yang baik itu perlu menanamkan kejujuran, amanah, dan bertanggung jawab.

Ridho Hakim, narasumber kedua menuturkan. “Produk yang kita miliki harus memiliki ciri khas, tidak perlu menciptakan yang baru namun yang sudah ada bisa dimodifikasi, dan kini era modifikasi”. Baginya, prodak yang ditawarkan harus memiliki ciri khas untuk menarik pasar. Ridho menambhakan bahwa Konsistensi dalam berwirausaha itu perlu niat dan tujuan untuk memperkaya diri atau untuk kemaslahatan umat.

Ridho menekankan bahwa menjadi mahasiswa tingkat akhir harus mampu merubah pola pikir, membangun relasi adalah hal yang penting untuk menjadi batu loncatan. Mengembangkan keahlian dan yakin dalam mengenal diri sendiri juga perlu, kemudian menemukan mentor dalam berbisnis. Dia menambahkan, Pengusaha harus memiliki peta. Dalam peta tersebut berisi rencana, strategi, lalu eksekusi, melakukan kontrol, dan evaluasi.

“Workshop kali ini memang menarik, terlebih lagi nara sumber yang muda dan dinamis sehingga para peserta akan semakin tergugah dan termotivasi untuk lebih maju lagi” ujar Arief Muhayyan, Mahasiswa SPI semster tujuh.

(Anis. P)