TIGA hari berada di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah, Indralaya, OI, Sumsel. Semula, hanya untuk menghadiri pernikahan alumni & guru Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka, Gunawan & Rizkiana. Kiki juga adalah alumni & guru Al-Ittifaqiah (yg puluhan santrinya belajar di Lemka). Yg membuat saya terkenang ke 33 th silam, karena direktur pesantren ini, Drs. K.H. Mudrik Qori, adalah anggota “assabiqunal awwalun” Lemka. Tahun 1985, ketika Lemka terbentuk, Kiai Mudrik yg masih mahasiswa dan saya dosen muda FAH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, turut merancang AD/ART Lemka. Lanjut dari “ketularan” Lemka, di pesantren terbesar se-Sumsel ini dibuat Lemkappi (Lembaga Kaligrafi Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah).

 

Kesempatan lawatan singkat ini, diisi 2 x dialog kaligrafi dg 3000an santri mukim dan para guru Al-Ittifaqiah. Saya hanya mengajak, agar para santri lebih giat belajar Alquran yg jadi basis pelajaran kaligrafi: Belajar MENGENALnya, belajar MEMBACAnya, belajar MEMAHAMInya, belajar MENGAMALKANnya, sampai puncak pelajaran: belajar MENCINTAInya. Bila total hanya jatuh cinta kepada ALQURAN, semuanya akan beres: Berlimpah barokah. Bertambah ilmu. Dimudahkan rejeki. Sehat walafiat. Berkedudukan mulia. Bernasib baik. Diberi solusi untuk segala persoalan. Dan, selalu berlimpahruah kebaikan2 sepanjang hidupnya. Akhirnya, menjadilah Alquran way of life, pedoman hidup, petunjuk jalan, tambo ati & obat penawar segala penyakit. Menulis dan melukis KALIGRAFI pun demi untuk memuliakan Alquran. Tiada cinta sejati melebihi cinta kepada ALQURAN. Sehingga, seperti kata penyair:

إذانلتُ منك الودّٙفالمالٔ هٙيّنٌ وكلّٰ مافوقٙ التّرابِ ترابٌ

“Apabila telah kuterima CINTAmu, maka tiada berguna lagi harta, dan apa pun yg berada di muka bumi hanyalah debu belaka.”

 

(DidinSirojuddinAR•Lemka)