Perjalanan politik Anwar Ibrahim cukup panjang dan terjal. Diawali dari Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), di mana ia ikut mendirikan dan memimpin, Anwar tampil sebagai seorang aktivis dan pemimpin muda muslim. Ia kemudian dikenal luas di banyak kalangan antara lain karena tulisan-tulisan dan pidato-pidatonya yang tajam dan eloquent tentang berbagai isu mendasar. Salah satu artikel Anwar muda yang terkenal ialah mendiskusikan soal Islam dan multiras paruh kedua tahun 1970, artikel yang sangat tepat untuk Malaysia yang pernah dilanda kerusuhan etnis berdarah. Kemudian bukunya yang juga terkenal: The Asia Renaissance. Dari pemikiran-pemikirannya yang tersebar inilah, Anwar berkesempatan menyampaikan orasinya di berbagai forum internasional.

Tak berlebihan untuk berpandangan bahwa Anwar Ibrahim diakui sebagai seorang tokoh, aktivis, pemimpin dan penggerak muda muslim progresif moderat. Pengaruh intelektual keagamaan Islam Naquib al-Attas, Sayyid Quthb, Yusuf Qardhawi dan sejumlah pemikir lainnya dari Indonesia semisal Mohammad Natsir, Imaduddin Abdurrahim, dan Nurcholish Madjid (Cak Nur) cukup kuat pada diri Anwar. Bahkan, Anwar juga berselancar secara luas dengan pemikiran-pemikiran intelektual dalam tradisi Barat. Di sinilah Anwar menimba gagasan tentang demokrasi dan konsep civil society sekaligus merumuskannya dalam konteks Islam, Kemelayuan dan Kemalaysiaan. Gagasan atau tawarannya tentang Mujtama’ Madani yang sangat populer juga diperkenalkan di Indonesia, yang kemudian dikenal dengan istilah Masyarakat Madani.

Melalui ABIM, Anwar Ibrahim menjadi tokoh yang sangat penting di balik Islamic Revivalism atau kebangkitan kembali Islam tahun 1970-an di Malaysia,  yang pengaruhnya sangat kuat dalam sejarah Malaysia modern. Keberhasilan ABIM bukan hanya menyadarkan kalangan muda untuk menaati ajaran Islam, tapi juga menunjukkan kepada mereka bahwa ajaran Islam tetaplah relevan dan kompatibel dengan modernitas, sekaligus menegaskan Islam adalah agama yang menggerakkan perubahan dan kemajuan. Dalam konteks Malaysia, Islam adalah solusi terhadap problem yang ditimbulkan oleh hubungan antar etnik dan menjadi sumber moral penting bagi kebutuhan modernisasi di Malaysia.

Anwar berkeyakinan bahwa Islam mengandung ajaran luhur yang sangat dibutuhkan dan riil bisa diwujudkan untuk keperluan membangun keadilan sosial, ekonomi dan hukum (equity and justice), kesederajatan dan kesamaan (equality), tidak ada diskriminasi, kebebasan beragama, toleransi, humanity dan kesentausaan, kebahagiaan dan kedamaian serta kemaslahatan bersama. Semua prinsip-prinsip tersebut adalah merupakan tugas pemerintah yang jika tidak diwujudkan maka akan menjadi negara gagal. Secara historis, Piagam Madinah era Nabi Muhammad merupakan contoh yang ideal yang juga menjadi sumber inspirasi bagi Anwar (dan banyak tokoh pendukung ide civil society) dalam memajukan Malaysia.

Inilah juga ide demokrasi substantif yang harus diperjuangkan. Bukan hanya partisipasi publik yang dikembangkan dan memperoleh jaminan dan dilindungi secara hukum, tetapi juga sistem politik harus ditingkatkan kualitasnya. Di samping itu, pemerintah juga harus sungguh-sungguh memiliki niat dan memperjuangkan kepentingan masyarakat secara adil tidak diskriminatif. Di sinilah letaknya, mengapa Anwar kemudian tidak jarang melakukan kritik terhadap pemerintah yang ia yakini telah meminggirkan Islam sehingga menimbulkan berbagai persoalan antara lain ketidakadilan, korupsi, dan pelanggaran HAM. Demokrasi dibelenggu dan pemerintah cenderung otoritarian. Mahathir Muhammad adalah contoh fenomenal pemimpin otoritarian di Asia dan Anwar tidak berhenti melancarkan kritik atau koreksi terhadap pemerintah, bahkan saat Anwar menjadi Wakil PM Mahathir.

GERAKAN REFORMASI

Pertentangan Mahathir-Anwar yang terjadi saat masing-masing menjadi PM dan Wakil PM sebenarnya merepresentasikan pertentangan antara Konservatif dan Progresif-Reformis, antara Otoritarian dan Demokrat dan antara Chauvinis dan Pluralis. Ini sungguh sangat jelas, dengan pemicu problemnya adalah krisis moneter. Bagi Anwar, krisis moneter dan ekonomi yang melanda Malaysia saat itu penyebab utamanya adalah kerakusan dan korupsi yang dilakukan oleh para pejabat. Kolusi dan nepotisme tentu juga merupakan rangkaian tak terpisahkan penyebab krisis tersebut. Karena itu, prilaku pemerintah UMNO/BN menjadi sasaran utama kritik Anwar Ibrahim dan kaum reformis karena pemerintahlah yang paling bertanggung jawab atas timbulnya krisis ini.

Awal tahun 2000 adalah dimulainya gerakan reformasi yang intinya demokratisasi di Malaysia. Ini adalah era di mana Anwar Ibrahim menginisiasi sekaligus memimpin reformasi dengan membangun koalisi partai-partai oposisi, langkah politik yang tepat. Di samping gelombang demonstrasi dilakukan mayoritas oleh anak-anak muda terdidik, pilihan yang dilakukan oleh Anwar adalah reformasi konstitusional, tidak menjatuhkan pemerintah di tengah jalan sebagaimana yang dilakukan rekan-rekannya di Indonesia. Cara konstitusional adalah berjuang meruntuhkan pemerintah chauvinstik otoritarian UMNO/BN melalui Pemilu, tidak melalui kudeta. Kepemimpinan Anwar yang sangat efektif, orasi dan argumen-argumennya yang tajam, berpengaruh besar terhadap political awakening and confidence di kalangan partai-partai oposisi dan masyarakat terpelajar serta kelompok kelas menengah kota.

Dua kali hasil pemilu era PM. Abdullah Badawi dan Najib Razak tahun 2008 dan 2013 menjadi bukti nyata koalisi oposisi yang dipimpin Anwar sangat efektif merontokkan kursi UMNO/BN, meskipun Anwar harus dipanjara dua kali di era Mahathir dan Najib—ini pun dengan tuduhan tak masuk akal. Namun demikian, sebagaimana yang diyakini oleh Anwar Ibrahim sejak paruh kedua tahun 1970, UNNO/BN pasti akan jatuh antara lain karena kecenderungan otoritarianisme dan korupsi. Dan Pemilu 9 Mei silam telah membuktikan dengan gamblang atas robohnya UMNO/BN ini. Penulis berpendapat hasil penting gerakan reformasi yang sejak awal dipimpin Anwar adalah memperlemah UMNO/BN di parlemen melalui dua pemilu dan menghancurkan UMNO/BN sama sekali juga melalui Pemilu. Ini gerakan reformasi yang cermat, penuh perhitungan, perlahan-lahan, konstitusional, dan elegan, serta tidak menimbulkan kegaduhan dan chaos sama sekali.

MENUJU KURSI PM

Dua kali Anwar Ibrahim dipenjara oleh Mahathir dan Najib dengan alasan yang sama yaitu tuduhan sodomi, a stupid reason, sesuatu yang justru menjadi bumerang bagi UMNO. Masyarakat luas merasakan bahwa tuduhan ini adalah politik semata-mata yang dilakukan sebagai bagian dari character assasination, dengan tujuan menamatkan karier politik Anwar. Ini dilakukan karena baik Mahathir maupun Najib takut terhadap kehadiran dan pengaruh besar Anwar dalam panggung politik di Malaysia. Sekali lagi, ini adalah bumerang, senjata makan tuan. Semakin terzalimi dan semakin dahsyatnya kezaliman hukum, politik, dan kemanusiaan yang dilakukan rezim, semakin besar amunisi kekuatan oposisi—baik yang dilakukan oleh partai oposisi maupun oleh masyarakat pada umumnya. Kemenangan koalisi oposisi yang antara lain juga terdukung dengan kehadiran Mahathir, menjadi jalan yang semakin terang untuk lebih menyempurnakan gerakan reformasi. Political agreement antara Anwar dengan Mahathir mengisyaratkan dengan jelas bahwa keikutsertaan Mahathir dalam koalisi oposisi bisa diterima sepanjang berkomitmen terhadap cita-cita reformasi yang dulu ditentang oleh Mahathir. Dan sejak menjadi PM hasil pemilu tempo hari, Mahathir telah menunjukkan komitmennya untuk memperlancar reformasi, yaitu akan menyerahkan mandat sebagai PM kepada Anwar dan memperlancar usaha-usaha pembebasan Anwar dari penjara lebih cepat dan ini berhasil. Tentu membentuk Kabinet PH yang berkeadilan dan mencerminkan spirit rekonsiliasi sudah dilakukan.

Apakah Mahathir Muhammad selanjutnya akan mengkhianati Anwar Ibrahim? Hemat penulis, Mahathir secara politik akan mati konyol jika dia bermain-bermain dengan kursi PM yang baru saja dia peroleh. Dua tahun memipim adalah cukup bagi Mahathir untuk memperlancar jalan Anwar menuju PM, untuk melakukan dan menyempurnakan reformasi. Suara yang diperoleh partai Mahathir yang menempati posisi ketiga setelah PKR dan DAP tidak memungkinkan Mahathir untuk bermain-main sebagaimana yang pernah dia lakukan saat menjadi PM selama 22 tahun. Jadi, tugas penting Mahathir adalah memimpin pemerintahan transisional, membuka jalan lebar untuk Malaysia baru yang jauh lebih mencerahkan di mana rakyat benar-benar memegang kendali; Malaysia yang demokratis dan berkeadilan melalui tangan dan kepemimpinan reformatif Anwar. Jalan Anwar Ibrahim sudah mulai lapang dan ia adalah Prime Minister in Waiting.

Oleh: Dr. Sudarnoto Abd. Hakim, M.A (Dosen Tetap di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Re-posting dari: https://geotimes.co.id/kolom/anwar-ibrahim/